
Hazel menatap curiga pria yang berada di hadapannya saat ini. Eden merasa lelah, dia berulang kali menjelaskan jika dirinya di izinkan oleh Disha.
"Awas aja kalau berbuat macam macam, aku teriak nanti. "
"Iya iya, ayo ikut aku jalan jalan. " ujar Eden seraya menarik Hazel masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu terpaksa menuruti pria yang baru di kenalnya ini.
mobil Lamborghini itu memecah jalanan, melesat dengan kecepatan.
sedang. Hazel sendiri memilih menatap jalanan, enggan berbicara dengan Eden.
"Kita mau ke mana sekarang
Hazel? " tanya Eden. Hazel menghela nafas panjang, menoleh kearah Eden.
"Ke bioskop aja. " jawabnya singkat. Eden mengangguk setuju, dalam hati pria itu bersorak kesenangan.
Tiba di bioskop, mereka langsung turun dari mobil. Eden membeli tiket dan camilan berupa popcorn. Setelah itu mereka sama sama masuk ke dalam. Keduanya duduk bersebelahan, mereka memutuskan menonton serial horor.
Selama film berlangsung justru Eden yang banyak teriak ketakutan. Hazel tertawa kencang melihat wajah pucat Eden yang menurutnya sangat lucu.
Satu jam berlalu mereka ke luar dari bioskop. Hazel terkekeh melihat
raut kesal dan terdengar umpatan dari bibir Eden. Eden berdecak pelan, dia merasa kapok dan tak ingin datang lagi ke bioskop.
"Dasar pengecut gini aja takut. " cibir Hazel. Keduanya kembali ke mobil, tujuan mereka kali ini membeli banyak buah buahan. Setelah itu mengantar Hazel ke mansion milik Arta.
Mereka berdua menemui Arta dan lainnya di ruang tamu. Disha langsung menyambut kedatangan sahabatnya, Hazel tentu saja terkejut melihat penampilan baru sahabatnya ini.
"Kamu sangat cantik sekarang, pasti banyak pria yang akan tertarik sama kamu Sha! "
Pelayan datang, Hazel menyerahkan buah dan meminta pelayan mengupasnya. Gadis itu kembali mengobrol dengan sang sahabat.
__ADS_1
"Ini semua perintah kakak laki lakiku yang bawel ini. " sindir Disha pada Arta.
uhuk uhuk Arta tersedak kopinya mendengar pengakuan Disha barusan. Raut wajah pria itu semakin kelam, Eden yang menyadarinya langsung terkekeh pelan.
"Sudahlah Sha, kasihan Arta jadi tersedak 'kan. Lagipula harusnya kalau suka itu ngomong lah. Hazel, aku suka sama kamu dan aku akan berjuang mendapatkan cintamu. " ceplos Eden yang tertuju pada Hazel.
Hazel terdiam, dia terkejut mendengar ucapan Eden barusan. Disha langsung mengacungi jempol akan keberanian Eden. Arta yang melihatnya tersenyum sinis, bersamaan pelayan yang datang membawakan potongan buah untuk mereka.
Disha sendiri asyik mengunyah potongan buah apel, sambil memperhatikan Hazel yang berdebat dengan Eden.
"Enggak capek ribut terus. awal lho entar saling suka lagi. " cetus Disha asal.
"ih mana ada. " elak Hazel jengkel. Gadis itu justru kini berbalik membicarakan tentang Disha dengan Arta. Disha mendengus pelan melihat sahabatnya mengalihkan pembicaraan.
Disha mengambil ponselnya, entah apa yang tengah dia lakukan saat ini. Arta yang penasaran berusaha mengintip, Disha menoleh dan menatap tajam padanya.
"Apa? "
"Bukan urusan kak Arta. " ucapnya sambil tersenyum miring. Arta berdecak pelan melihat kelakuan Disha yang jahil. Wanita cantik itu bangkit, pamit pergi ke kamarnya.
Arta menatap kepergian Disha dengan tatapan entah sulit di artikan. Eden menyenggol lengan sang sepupu, membuat dokter tampan itu menoleh kearahnya.
"Jika kau menyukai Disha, kejar dan berjuanglah Ar! " Eden tampak serius dengan ucapannya kali ini. Arta terdiam, masih ada banyak keraguan dalam dirinya. Setelah apa yang di lalui Disha, hati wanita itu begitu tertutup. Dia mengusap wajahnya kasar, menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Sejak awal Disha hanya menganggap 'ku sebagai seorang kakak, Ed. " gumam Arta.
"Dan kau menyerah sebelum berjuang, dasar pecundang. " umpat Eden pada sang sepupu. Arta pun langsung meliriknya tajam, Eden hanya tersenyum menyeringai. Dia sangat hafal kalau Arta tak suka jika seseorang menyebutnya sebagai pecundang.
Hazel sendiri pun hanya diam, mendengarkan obrolan dua pria di depannya ini. Namun menurutnya jika Disha sangat pantas bersanding dengan pria baik seperti Arta begitu pikirnya. Dia merasa sahabatnya itu pantas untuk bahagia setelah banyak hal yang Disha alami.
"Apa yang di ucapkan Eden ada benarnya, sebaiknya kamu berjuang untuk mendapatkan Disha, kak. " ujar Hazel menyuarakan pendapatnya.
__ADS_1
Gadis itu menjelaskan apa saja yang di sukai dan tidak di sukai Disha pada Arta. Hazel juga memintanya untuk membantu Disha untuk menghapus luka yang di torehkan oleh Aldrich. Setelah memikirkan matang matang, Arta setuju dengan pendapat yang di berikan Eden dan Hazel.
"Baiklah aku akan berjuang! " gumam Arta. Eden dan Hazel saling melempar senyuman, keduanya tampak senang dengan keputusan yang di ambil Arta.
Hazel lekas bangkit, dia memilih menemui Disha di kamarnya. Eden dan Arta kembali mengobrol dengan santai di ruang tengah.
Cklek gadis itu masuk ke dalam, menghampiri Disha yang tengah asyik berbicara dengan Nia. Ketiga gadis itu duduk di atas ranjang, banyak hal random yang mereka bicarakan.
"Ayolah Nia, siapa pria yang kau sukai itu? " tanya Disha untuk kesekian kalinya.
"Rahasia Sha, lagipula cintaku hanya bersambut sebelah tangan. Pria itu telah memiliki kekasih, makanya aku berusaha melupakannya. " ujar Harmonia biasa di sapa Nia.
"Its okey, masih banyak pria tampan di luaran sana, yang tentunya tak brengshake. " ungkapnya sambil tersenyum. Nia dan Hazel saling melirik satu sama lain, keduanya hanya diam tak menanggapinya.
Kedua gadis itu langsung memeluk Disha, memberikan dukungan untuknya. Disha sendiri merasa beruntung bisa mengenal Hazel dan lainnya.
Nia melepaskan pelukannya, keduanya memilih bermain tebak tebakan supaya suasana tak canggung. Canda tawa mewarnai obrolan mereka yang asyik bermain tebak tebakan.
Disha POV
Terimakasih kalian semua mau menemani aku. Aku sekarang merasa tak lagi sendirian di dunia ini. Apa yang terjadi kemarin aku anggap sebagai ujian pertamaku dalam kehidupan ini. Aku yakin Tuhan tengah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah setelah ini. Aku rasa perlu bersabar, kuat,serta tegar menghadapi masalah masalah ke depannya nantinya.
"Aku Anaya Disha, bisa melewati semua ujian hidup ini dengan tersenyum. " batinnya.
Nia menunjukkan acara kencan online pada Disha dan Hazel. Keduanya tampak tak begitu percaya dengan masalah acara tersebut. Hazel takutnya Nia menjadi korban penipuan atas acara kencan buta tersebut.
"Nia, kau perlu berhati hati dan waspada. Terkadang apa yang belum kita lihat itu memang sudah terbaik. Sebaiknya kamu selidiki siapa yang menjadi partner kencan butamu. " tegur Disha dengan bijak.
Nia mempertimbangkan saran yang di berikan Disha padanya, lalu gadis itu mengangguk kecil. Dia menaruh kembali ponselnya di atas meja dan mengobrol lagi dengan Disha dan Hazel.
"Aku begitu penasaran dengan Mr Bee? " batinnya dalam hati.
__ADS_1