
Dua hari berlalu
Minggu pagi Arta mengajak istrinya pergi jalan jalan ke pantai. Sepanjang perjalanan pria itu terus menggoda istrinya hingga membuat Disha kesal pada suami menyebalkannya ini.
"Mas, aku ingin bicara serius dengan kamu! "
Arta menghentikan langkahnya, pria itu menoleh kearah istrinya. Dia menungu apa yang ingin di katakan Disha padanya. Disha menghela nafas panjang dan kembali menatap lurus suaminya.
"Di dalam novel seorang wanita menikah untuk ke dua kalinya, wanita ini mencintai suaminya yang ke dua karena suami pertama menyiksanya lahir dan batin. " ucap Disha menjeda ucapannya.
"Terus? "
"Di Tahun kedua pernikahan mereka, si wanita mendapati suaminya memiliki penyakit berbahaya dan usianya tak lama lagi. Apa mas Arta juga memiliki penyakit yang sama? " tebak Disha.
"Ku kira apa! " Arta langsung menoyor kepala istrinya, pria itu juga membantah dugaan dari Disha barusan. Disha bernafas lega saat ini, Arta sendiri mendengus geli akan tingkah Disha.
Mereka kembali berjalan beriringan sambil bergandengan tangan satu sama lain.
"Kalau seandainya mas Arta seperti tokoh pria dalam novel, berarti aku akan jadi janda kaya raya dong. " ceplosnya. Arta langsung meliriknya tajam, Disha melepaskan gandengan tangannya dan memilih kabur.
Pria tampan itu langsung mengejar istri nakalnya yang berucap sembarangan. Di tengah pantai, Arta memeluknya dari belakang sambil membawanya berputar.
Arta menurunkan istrinya, Disha merasa lelah tertawa. Mereka memilih duduk di atas pasir sambil menikmati suasana di sekitar pantai yang terasa ramai. Wanita itu memanfaatkan moment, siapa tahu bisa bertemu pria bule di sana begitu pikir Disha.
"Oh ya Sya, apa kamu masih akan membalas dendam pada Aldrich dan Stella? " tanya Arta.
"Iya Mas Arta, lagipula aku sudah memiliki kartu as dari Stella. Aku sangat yakin dengan rahasia ini bisa menghancurkan rumah tangga Aldrich dan Stella. " ucapnya dengan penuh percaya diri.
Arta tak bisa melarang istrinya untuk melakukan apa yang wanita itu inginkan. Dia hanya bisa mendukungnya dari belakang, secara diam diam Arta akan membantu Disha untuk memuluskan rencana balas dendam istrinya.
Pria itu menggenggam tangan sang istri, Disha menoleh dan tersenyum tipis padanya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, Disha membalas menggenggam tangan Arta pria yang selalu ada untuknya.
__ADS_1
"Cinta itu tak melulu mengarah ke hubungan ranjang, namun kenyamanan antara suami dan istri. Hal inilah yang aku terapkan di hubungan kita Sha, aku akan tetap menunggu sampai kamu menerima aku seutuhnya." gumam Arta dengan bijak.
"Padahal mas Arta 'kan tampan, kenapa kamu dulu belum punya kekasih, enggak laku apa gimana mas? " tanya Disha setengah meledek.
"Belum nemu yang cocok, sekarang udah ada jadi enggak perlu berpetualang lagi. " sahutnya dengan santai.
Manik mata keduanya saling bertemu, mengunci satu sama lain. Disha tampak salah tingkah wanita itu memilih memalingkan wajahnya. Arta tersenyum kecil melihat istrinya yang tampak salah tingkah.
Dering ponsel milik Arta mengalihkan perhatian mereka. Pria itu lantas mengeluarkan benda canggih tersebut.
"Halo Der? "
"Tuan, nyonya Stella tengah merencanakan sesuatu yang licik, Anda dan nyonya Disha perlu berhati hati. Aku masih tetap mengawasinya saat ini. " ucap pria bernama Derian.
"Pantau terus pergerakan wanita itu Der, kalau ada apa apa laporkan
padaku. " ujar Arta. Dia menyimpan ponselnya dalam saku setelah pembicarannya selesai.
Disha mengerutkan kening, dia langsung menanyakan apa yang menjadi kekhawatirannya. Arta menjelaskan mengenai apa yang di curigainya mengenai Stella.
Arta langsung berdiri, mengulurkan tangannya yang di terima Disha. Keduanya kembali ke dalam mobil dan memilih pergi dari sana. Sepanjang perjalanan keduanya banyak mengobrol membuat suasana lebih berwarna.
skip
Di mansion
Arta tertawa melihat wajah masam istrinya. Keduanya masuk ke dalam, mereka duduk di atas sofa. Disha memanggil pelayan dan menyuruh membuatkan minuman untuk dirinya dan Arta. Setelah itu dia kembali mengobrol dengan sang suami.
"Mas gimana kalau aku mencari pekerjaan? " tanya Disha meminta pendapat suaminya.
"Kerja aja di perusahaan aku sebagai sekretaris pribadiku. " balasnya seraya tersenyum penuh makna.
__ADS_1
Disha memicingkan mata, menatap curiga suaminya ini. Wanita itu mendengus pelan, dia mengalihkan obrolan mengenai mommy Diandra.
"Kenapa kita tidak ajak mommy pulang ke sini mas? " tanya Disha pada sang suami.
"Mungkin kalau kamu hamil, mommy pasti mau pulang ke negara ini. " celetuknya membuat Disha terdiam.
Arta meraih tangan sang istri, dia tahu jika wanitanya masih trauma akan kejadian lalu. Disha pun mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah tampan sang suami.
"Aku siap untuk hamil anak kamu mas, mungkin seiring sejalannya waktu bisa menumbuhkan cinta di hatiku untukmu. " gumam Disha dengan bijak.
Raut wajah Arta berubah cerah mendengar keputusan Disha. Pria itu langsung memeluk istrinya, mendaratkan kecupan di kening wanitanya. Disha membalas pelukan erat Arta, menikmati dekapan suaminya yang selalu membuatnya tenang.
Pria tampan itu meregangkan pelukannya. Arta mendekatkan wajahnya, mencium bibir tipis istrinya dengan lembut. Dan kali ini dia membalas ciuman sang suami di bibirnya dan memberikan ruang untuk Arta memperdalam ciuman mereka.
Arta mengakhiri ciumannya, mengangkat sang istri ke atas pangkuan. Disha mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Pria tampan itu merengkuh pinggang ramping sang istri.
"Bagaimana kalau kita honeymoon sayang? " tanya Arta meminta pendapat istrinya.
"Aku setuju aja. "
"Baiklah kita honeymoon setelah pesta kita di adakan sekitar tiga hari lagi. Aku ingin mengumumkan status pernikahan kita di depan umum, selain itu aku juga akan mengundang Aldrich dan keluarganya. " tegas Arta.
Disha mengangguk setuju dengan keputusan suaminya. Ya kali ini dia bena benar membuka hatinya untuk Artanza, suaminya. Wanita cantik ini ingin menjalani hubungan rumah tangga dengan sang suami dengan komitmen dan sungguh sungguh.
"Terimakasih telah menerima aku sayang. " bisik Arta dengan halus.
"Iya mas, aku menerima kamu karena mas Arta sudah sangat lama jomblo nya." ledeknya dengan jahil. Arta menggeram rendah, langsung menggelitiki pinggang sang istri. Canda tawa mewarnai obrolan random pasutri konyol ini.
Disha membenamkan wajahnya di dada sang suami. Arta tersenyum tipis, merangkul istrinya dari samping, dia tak menyangka bisa memeluk Disha sepuasnya seperti ini.
Wanita cantik itu turun dari pangkuan sang suami, segera menikmati minuman masing masing yang di bawakan pelayan. Setelah selesai minum Disha langsung pamit pada suaminya. Arta yang tak ingin melewatkan kesempatan, segera menyusul istrinya ke kamar.
__ADS_1
Mulai hari ini mereka akan tidur satu kamar. Disha menjerit kala suaminya masuk ke kamar mandi, dia berusaha menutupi tubuh polosnya. Dan entah apa yang mereka lakukan di dalam sana.
Dua jam berlalu keduanya baru ke luar, mereka segera berpakaian. Arta membantu istrinya mengeringkan rambut, wajah pria itu tampak menunjukkan kepuasan.