
Hari berikutnya Arta datang ke tempat proyek yang di kerjakan oleh Aldrich. pria itu menghampiri rekan bisnisnya, keduanya tampak saling berjabat tangan.
"Pembangunan lokasi di sini berjalan lancar Tuan Arta, rencananya saya akan membangun perhotelan
di sini. " ungkap Aldrich sambil tersenyum. Kerjasama di antara dua perusahaan besar Weiner Corp dan EAJ Corp di nama kan Joint Venture.
Joint venture merupakan suatu bentuk kerja sama dalam perusahaan proyek khusus, contohnya seperti pengeboran minyak serta perhotelan.
Dan kini perusahaan milik Aldrich tengah melakukan proyek pembangunan perhotelan di sebuah lahan kosong yang dia beli. Selain membutuhkan waktu yang lama untuk pengerjaannya namun juga proyek ini pasti akan menghabiskan dana cukup besar.
Hal ini sudah di sepakati oleh kedua pihak. Arta tentu saja tak masalah mengeluarkan uang tak sedikit, asalkan proyek mereka ini kelak akan menguntungkan dirinya dan Aldrich. Kini kedua pria tersebut berkeliling di area proyek sambil meninjau dan memastikan semuanya berjalan
aman dan lancar.
"Dan aku harap tak ada kendala dari segi manapun termasuk keuangan dalam pembangunan hotel di sini. " ujar Arta.
"Saya bisa menjaminnya tuan. " balas Aldrich.
Tepat jam makan siang keduanya pergi ke Restauran. Kini Aldrich langsung memesan makanan pada pelayan. Sepeninggal pelayan mereka kembali membicarakan bisnis. Arta sendiri tak ingin mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.
Tak lama pelayan datang membawakan pesanan mereka. Keduanya sibuk dengan makanan masing masing. Arta makan dengan santai dan tak terlihat terburu buru.
Dering ponsel milik Aldrich menyita perhatiannya. Aldrich mengeluarkan ponselnya, terkejut melihat nama Vanya yang tengah menghubungi dirinya.
"Maaf Tuan Arta saya pamit ke toilet sebentar. " ucap Aldrich.
"Ya silakan Tuan! "
Aldrich langsung bangkit, dia pergi ke toilet meninggalkan rekan bisnisnya itu. Sepeninggal rivalnya, Arta memilih berkirim pesan pada sang istri tercinta.
Di toilet.
"Ada apa sayang, apa ada
__ADS_1
masalah? " tanya Aldrich pada Vanya.
"Aku di kejar mantan suamiku di jalan sayang, tolong aku. " ujar Vanya. Aldrich tentu saja terkejut,dia pergi dari toilet dan menemui Arta. Dia memberikan alasan yang jelas setelah itu pamit duluan.
Arta ke luar dari Restauran, dia pun tampak penasaran dengan kepergian Aldrich yang terlihat buru buru. dia tak ambil pusing, pria itu masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang untuk menjemput istrinya.
Setelah menjemput istrinya, Arta mengajak istri tercintanya berkeliling. pria tampan itu membawanya ke sebuah pantai. Dia telah melepaskan jasnya dan di taruh di dalam mobil. Arta menggandeng wanitanya menyelusuri pantai.
"Jadi kamu tadi bertemu dengan Aldrich, mas? " tanya Disha memastikan.
"Iya sayang, kami membahas proyek pembangunan hotel, dia juga menunjukkan rancangannya tadi. " balas Arta sambil tersenyum.
"Mas percaya banget sama dia, maaf bukannya aku mau berburuk sangka padanya hanya saja aku sedikit ragu. " ungkap Disha.
Arta mengulas senyumnya, mengusap pipi sang istri lalu merangkulnya dari samping. Dia paham akan kekhawatiran sang istri saat ini. "Ya aku percaya, aku telah memberikan kepercayaan padanya dan aku harap Aldrich tak menyalah gunakan kepercayaan itu. "
"Untuk masalah dana nya, cukup banyak untuk perencanaan hotel
Kini mereka duduk di sebuah kursi panjang, mengobrol di sana dengan leluasa dan santai. Disha hanya diam mendengar penjelasan sang suami mengenai proyek Arta dan Aldrich.
"Aku tadi juga telah menghubungi Tuan Ardi, beliau merupakan konsultasi ahli perhotelan. Dia yang akan menentukan bagaimana konsep hotelnya nanti sesuai arahanku! "
"Melihat bagaimana kamu begitu profesional membuatku merasa minder mas. " ungkap Disha.
Arta menghela nafas panjang, mencubit hidung istrinya sebentar. Dia membawa istrinya ke dalam pelukannya sambil memberi support sang istri.
"Mengenai pekerjaan biar menjadi tanggung jawabku, kamu lebih baik fokus menyenangkan aku di atas ranjang baby agar kecebongku segera jadi. " bisik Arta dengan tatapan nakalnya.
Disha tergelak kencang mendengar ucapan suaminya, dia menabok lengan sang suami dengan gemas. Arta sendiri mencium bibir wanitanya yang di balas Disha. Wanita itu menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Keduanya begitu menikmati waktu berduaan sebelum hadirnya orang ketiga yaitu bayi mungil nan lucu yang akan melengkapi hidup mereka.
"Mas, tiba tiba aku ingin makan siomay. " ujar Disha. Arta mengerutkan kening mendengar permintaan istrinya.
"Apa kau lapar sayang? " tanya Arta memastikan.
__ADS_1
"Iya mas, beberapa hari ini aku mudah lapar dan nafsu makanku meningkat. " jujurnya. Arta lekas bangkit, mengajak istrinya pergi dari sana.
Di perjalanan mereka berhenti, Disha langsung turun dan membeli siomay. Setelah selesai wanita itu kembali ke dalam mobil, memakannya dengan lahap.
"Pelan pelan sayang. " tegur Arta. Disha menanggapinya dengan senyuman. Wanita itu segera menghabiskan siomay nya. Arta membuka tutup botol air mineral lalu menyerahkan pada sang istri.
Gluk
gluk
"Terimakasih mas. " ungkapnya setelah meminum air mineral. Arta kembali menyalakan mobilnya dan melesat jauh. Disha kembali bersandar di jok mobil, dia merasa kenyang sekarang. Kini mereka pun dalam perjalanan pulang.
Di lain tempat Aldrich tampak beringas memukuli seorang pria yang merupakan mantan suami Vanya. Vanya langsung menariknya, mengajaknya pergi dari sana.
Aldrich melakukan roda empatnya dengan kencang meninggalkan area mall. Pria itu menepikan mobilnya, melepas sabuk pengaman lalu memastikan keadaan kekasihnya ini.
"Apa pria sialan itu menyakiti kamu sayang? " tanya Aldrich.
"Dia sempat memaksaku agar aku ikut dengannya. " gumam Vanya dengan raut ketakutan. Terlihat jelas Vanya tampak ketakutan, Aldrich tentu saja langsung memeluknya. Dalam hati dia mengumpat kasar pada pria yang dia pukul tadi.
Vanya menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya yang masih sangat syok. Merasa Vanya sudah tenang, Aldrich melepaskan pelukannya.
"Aku akan melaporkannya ke kantor polisi sayang, kamu jangan takut okey. " ucap Aldrich dengan lembut. Vanya mengangguk, Aldrich kembali memakai sabuk pengaman nya dan melajukan roda empatnya lagi.
Vanya POV
Sialan, bagaimana bisa aku bertemu dengan pria toxic seperti dia lagi. Aku harus melakukan segala cara untuk menyingkirkan pria itu dari kehidupan aku yang damai ini. Aldrich enggak boleh tahu rahasiaku yang sebenarnya. Jika dia tahu dari orang lain, Aldrich pasti akan sangat marah besar, dia pun pasti akan membenciku nantinya.
Vanya hanya perlu menenangkan dirinya agar sang kekasih tak mencurigai dirinya sedikitpun. Sepanjang perjalanan Aldrich memilih diam, dia paham jika kekasihnya perlu ketenangan saat ini.
Vanya mengusap wajahnya dengan kasar, Aldrich sesekali mengenggam tangannya agar tenang. Pria itu meminta sang kekasih i untuk beristirahat dan melupakan kejadian tadi.
"Aldrich sekarang pahlawanku, kau hanya perlu berbagi kesedihan dengannya. Dia pasti akan selalu membantumu Van. " gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1