
Beberapa hari kemudian
Arta baru pamit pada istri dan si kecil Alfred. Hari ini dia musti ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Disha menatap sang suami dengan tatapan lekatnya.
"Sayang, kamu enggak usah ke kantor aja ya, entah kenapa feeling aku enggak enak. " pinta Disha pada suaminya.
"Maaf sayang, tapi pekerjaan di kantor sudah numpuk dan aku enggak mungkin terus menerus membebani Damar. " jawab Arta dengan lembut. Pria itu langsung mencium kening dan bibir istrinya sekilas.
Arta masuk ke dalam mobilnya dan melesat jauh. Disha sendiri hanya bisa mendoakan Arta, berharap tak terjadi apa apa pada suaminya itu.
Wanita cantik itu kembali ke dalam mansion. Dia menghampiri putra kecilnya yang tengah bersama dengan pengasuhnya.
Sementara di sisi lain Arta melajukan mobilnya dengan kencang. Dua mobil hitam mengikutinya dari belakang. Arta yang menyadarinya langsung menambah kecepatan. Pria tampan itu mengubah jalurnya, dia mengurungkan niat pergi ke kantor.
Arta tak henti hentinya mengumpat, dia penasaran dengan siapa yang mengikuti dirinya saat ini. Dia kembali fokus menyetir dengan kencang sambil memikirkan cara agar bisa lolos.
"Cepat tabrak pria itu. " ujar pria memakai kaca mata hitam. Salah satu dari mereka menambah kecepatan, dengan cepat menabrak mobil milik Arta.
Brak
Brak
Mobil milik Arta kini kehilangan kendalinya hingga menabrak sebuah gudang tua. Sementara dua penjahat itu langsung pergi dari sana tanpa memastikan keadaan Arta saat ini.
Suara kerumunan menghampirinya. Pria itu langsung mengeluarkan Arta dari dalam mobil. Salah satu warga yang melihat segera memanggil ambulan untuk segera datang.
Beberapa menit berlalu ambulan datang dan petugasnya langsung membawa Arta ke rumah sakit.
__ADS_1
Skip
Dokter dan suster tengah menangani kondisi Arta saat ini. Sementara suster lain kini berusaha menghubungi keluarga pasiennya.
Tak lama Disha datang bersama orang tuanya. Wanita menangis histeris mendapati suaminya kecelakaan. Mommy terus memeluk sang anak yang tampak hancur mendengar keadaan Arta.
"Mas Arta mom, hiks. " Tubuh Disha langsung lemas dan luruh ke lantai. Mommy Diandra terus memeluknya, wanita paruh baya itu juga hancur mendengar kabar kecelakaan putranya.
Si kecil Alfred saat ini di jaga oleh Eden dan Hazel. Firasatnya sebagai seorang istri sangatlah tepat. Dia harusnya terus mencegah sang suami agar tak pergi.
Namun semuanya telah terjadi, Disha menekan dadanya yang terasa sesak. Wanita itu menangis tergugu, meratapi keadaan suaminya saat ini. Tangisnya kian pecah dalam dekapan sang mommy.
Beberapa jam berlalu Dokter ke luar dari ruangan UGD. Mommy pun langsung membantu putrinya berdiri lalu mendekat kearah Dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya Dokter? " tanya Disha lirih.
"Benturan di kepalanya membuat tuan Arta mengalami pendarahan otak tadi. Tuan Arta sempat kritis namun semuanya telah terlewati. Di antara dua kemungkinan pasien akan mengalami koma atau amnesia permanen setelah ini nyonya. " ucap dokter panjang lebar.
Hati Disha semakin sakit mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan sang suami. Mommy Diandra juga sama hancurnya seperti Disha, wanita paruh baya itu menangis histeris setelah mendengar penjelasan dokter.
Dokter langsung menyingkir, Suster ke luar dan mendorong brangkar Arta menuju ke ruangan Vip di bantu Dokter dan petugas. Disha dan lainnya langsung pergi ke ruangan Arta.
Disha langsung masuk ke ruangan sang suami. Dia kembali menangis terisak, melihat tubuh gagah suaminya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wanita itu mendekat, meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"Mas Arta hiks, aku hancur mas. Aku hancur melihat keadaan kamu seperti ini. " gumam Disha sambil menangis tergugu. Mommy Diandra masuk ke dalam, menghampiri putrinya. Wanita paruh baya itu juga menyapa putranya yang terbaring di atas ranjang pasien.
Mommy mengusap kepala sang anak, dia juga tengah menangis saat ini. Dia berusaha membantu Disha untuk bangun dan mereka kembali berpelukan.
__ADS_1
Tangis Disha kembali pecah dalam pelukan sang mommy. Mommy Diandra berusaha menguatkan dirinya sendiri dan putrinya.
"Aku masih butuh mas Arta mom, aku enggak akan pernah rela jika mas Niko ninggalin aku. Baby Alfred juga masih butuh kasih sayang dan sosok Daddy-nya. " gumam Disha dengan nada lirihnya.
Dia sangat takut kehilangan Arta. Disha merasa Arta adalah belahan jiwanya, telah banyak yang suaminya korbankan untuk dirinya dan bayi mereka. Saat ini bolehkah dia egois, Disha menginginkan suaminya agar segera sadar dan berkumpul bersama dirinya dan baby Alfred.
Daddy Arka masuk ke dalam, paruh baya itu menghampiri sang menantu yang terbaring di ranjang pasien. Dia menghela nafas berat, Daddy turut sedih dengan keadaan Arta saat ini.
"Nak Arta, bertahanlah dan Daddy mohon cepatlah sadar. Disha dan baby Alfred masih membutuhkan kehadiran kamu nak. " gumam Daddy Arkana. Setelah berbicara sebentar, fokusnya beralih pada sang putri.
"Disha kamu harus kuat ya nak, Daddy yakin suami kamu pasti akan segera sadar nak. " ucap Daddy Arka memberikan support pada putrinya. Disha hanya diam, menangis dalam pelukan sang mommy. Wanita itu tak kuasa melihat keadaan suaminya saat ini. Rasanya dia merasa hari ini hari terburuk dalam hidupnya, dia mendapati suaminya tengah terkapar di ranjang pasien.
Setelah beberapa menit Disha melepaskan pelukan nya. Wanita itu kembali duduk di samping sang suami sambil mengenggam tangan Arta. Mommy dan Daddy turut menangis melihat keadaan Disha yang begitu rapuh.
"Aku belum siap kehilangan kamu mas Arta! "
"Kau sangat berarti dalam kehidupan aku dan putra kita. Apa jadinya jika aku harus sendirian menghadapi kerasnya kehidupan serta membesarkan anak kita. " gumam Disha dengan suara tercekat.
Cairan bening itu kembali menetes, meluncur bebas membasahi pipinya. Disha kembali mengusapnya dengan kasar. Dia berusaha menekan rasa nyeri dalam dadanya, melihat keadaan suaminya.
"Aku mencintaimu mas, aku tak akan pernah meninggalkan kamu. Aku mohon segeralah sadar demi aku dan baby Alfred! " pintanya penuh harap.
Disha menghela nafas panjang. Dia kembali memperhatikan suaminya yang masih memejamkan kedua matanya. Wanita cantik itu begitu merindukan sikap konyol dan romantis suaminya saat mereka sedang berduaan. Disha terus mengenggam tangan sang suami, dia juga menciumi telapak tangan Arta dengan lembut.
"Segeralah sadar mas, hanya itu yang aku inginkan. " gumam Disha pelan. Dia berusaha menahan tangisannya, dia tak ingin menangis lagi di depan sang suami.
"Kata kamu, kamu enggak suka melihat aku menangis. Tapi kenapa sekarang justru kamu yang membuat aku menangis mas? "
__ADS_1
"Rasanya sangat menyakitkan melihat kamu tak berdaya seperti ini mas Arta! " ungkap Disha dengan mata berkaca kaca. Dia berharap akan ada keajaiban untuk suaminya.
"I miss you mas Arta. " ucap Disha sambil tersenyum kecut.