
Setiap hari Aldrich datang hanya untuk mengajak Nelly bermain dan pergi jalan jalan. Merasa lelah Liora langsung membawa Nelly ke dalam dan meminta sang ibu menjaga putrinya itu.
Liora kembali ke luar, dia masuk ke mobil milik Aldrich. Rencananya kali ini mereka akan jalan jalan berdua sekaligus belanja.
Selesai belanja, Aldrich mengajak Liora ke suatu tempat. Liora penasaran ke mana Aldrich akan membawanya saat ini. Tak lama mereka sampai di sebuah villa megah.
"Ini villa siapa Al? " tanya Liora penasaran.
"Milikku. " jawabnya singkat. Aldrich segera membantunya mengeluarkan barang barang Liora setelah itu menggandengnya masuk ke dalam. Pria tampan itu memanggil pelayan, lalu menyerahkan semua barang milik Liora pada kedua pelayan.
"Tata semua pakaian dan barang barang ini ke dalam kamar atas. " pinta Aldrich pada pelayan.
Setelah kepergian pelayan, dia mengajak Liora untuk duduk. Keduanya mengobrol santai di sana, Liora sendiri tampak kebingungan. Aldrich menjawab apa adanya setiap pertanyaan dari Liora.
Pria itu mengungkapkan masa lalunya selain itu juga apa yang dia rasakan saat ini. "Li, kamu maukan tinggal di sini denganku, agar aku tak kesepian? " tanya Aldrich penuh harap.
"Nelly juga ikut kok, aku ingin membuka lembaran baru bareng kamu Liora. " jelas Aldrich tanpa basa basi lagi.
Liora terdiam, dia masih ragu. Trauma nya pada apa yang di lakukan mantan suaminya membuatnya ketakutan dan memilih menyendiri hingga sekarang.
"Aku takut di khianati lagi Al. " gumam Liora pelan.
Aldrich langsung berlutut, dia meminta di beri kesempatan. Pria itu akan membuktikan jika dirinya telah berubah.
"Aku beri kamu kesempatan Al, lagipula kita perlu saling mengenal satu sama lainnya. " jawab Liora dengan bijak. Wanita itu begitu berhati hati dalam mengambil keputusan.
"Terimakasih." jawab Aldrich. Pria itu kembali duduk di sebelahnya, Liora menanggapi nya dengan senyuman. Pelayan datang membawakan minuman untuk keduanya. Liora segera meminum tehnya dengan santai.
Aldrich memperhatikan wanitanya dalam diam. Dia telah berjanji tak akan mengulang kesalahan yang sama nantinya. Liora menaruh cangkirnya kembali ke atas meja.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin mandi, ayo aku antar ke kamar atas. " ucap Aldrich yang di angguki Liora. Mereka beranjak dari sana, segera menaiki tangga. Aldrich menunjukkan kamar milik Liora sementara pria itu pergi ke kamarnya sendiri.
Visual LIORA
Liora selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Saat ini wanita itu tengah mengeringkan rambutnya. Terdengar helaan nafas panjang, dia menaruh pengering rambutnya di atas ranjang.
Wanita itu memilih ke luar dari kamarnya, tanpa sengaja dia mendengar suara dari kamar sebelah. Liora lantas mendorong pintu kamar Aldrich, kedua matanya membulat sempurna melihat Aldrich duduk di atas lantai sambil bertelanjang dada.
"Al ya ampun. " Liora langsung mendekatinya. Wanita itu lantas memeriksa keadaannya, kemudian menyentuh dahi Aldrich.
"Kau kenapa Aldrich, kenapa terdengar suara benda jatuh dari kamar kamu? " tanya Liora panik.
"Perbuatan bejatku di masa lalu semuanya berputar kembali dalam ingatanku Liora, aku tadi tanpa sengaja menyenggol gelas. " gumam Aldrich. Pria itu kembali menyalahkan dirinya sendiri atas sikapnya di masa lalu.
Liora mengajaknya bangun lalu mengajaknya berbaring di atas ranjang. Aldrich merebahkan kepalanya di atas buah persik milik Liora. Liora sendiri mengusap kepala Aldrich dengan lembut.
"Berdamailah dengan dirimu sendiri Al, kau justru akan semakin tersiksa jika kamu tak mencoba berdamai. " tegur Liora dengan bijak. Tak lama terdengar suara isakan tangis, Liora hanya mampu menguatkan Aldrich.
Wanita itu menoleh, tanpa sengaja bibir mereka bertemu. Aldrich memperdalam ciumannya dengan lembut. Liora membalasnya, membiarkan Aldrich menguasai bibirnya. Merasa hampir kehabisan nafas, Aldrich segera mengakhiri ciuman panas mereka berdua.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang Al? " tanya Liora dengan lembut.
"Cukup menenangkan, ini semua berkat kehadiran kamu Liora. " ungkap Aldrich sambil tersenyum.
"Kau obatku, Liora. Rasa sakitku menghilang saat aku bersama dengan dirimu. " ungkapnya dengan sungguh sungguh.
Liora mengulas senyumnya, mengusap wajah tampan Aldrich. Wanita itu tanpa henti menasehati Aldrich agar menjaga kesehatan. Aldrich tentu saja menuruti perintah Liora.
"Jangan tinggalkan aku Liora, tetaplah disisi ku. " Aldrich menggenggam erat tangan Liora kemudian menciumnya berulang kali.
__ADS_1
"Iya aku tak akan ke mana mana, aku dan Nelly akan menjadi
obatmu. " sahut nya tersenyum manis. Liora menikmati pelukan hangat Aldrich saat ini.
Mulai saat ini Liora akan menurunkan egonya demi kebahagiaan dirinya dan si kecil Nelly. Mungkin dengan cara memberikan kesempatan pada Aldrich merupakan awal bahagia untuk dirinya dan sang putri.
"Kita jemput Nelly yuk. " ajak Liora.
"Bentar aku ini masih ingin menghabiskan waktu dengan
kamu! " rengek Aldrich. Liora terkekeh pelan, menuruti permintaan Aldrich barusan.
Satu jam berlalu mereka ke luar dari kamar. Keduanya turun ke bawah dan ke luar dari Villa. Mereka berdua masuk ke mobil, Aldrich melajukan roda empatnya dengan kencang. Sepanjang perjalanan mereka tampak mengobrol dengan ringan.
Tiba di panti, keduanya segera menjemput Nelly sekaligus berpamitan pada Ibu.
Malam harinya mereka baru kembali ke Villa. Kini ketiganya layaknya keluarga kecil bahagia. Kini mereka makan malam bersama di meja makan.
Selesai makan malam, mereka lantas naik ke atas. Nelly ingin tidur bersama sang bunda, Liora tentu saja mengiyakan keinginan sang anak. Wanita cantik itu membacakan dongeng untuk princess kecilnya. Canda tawa mewarnai obrolan ibu dan anak itu.
Aldrich masuk ke dalam, dia bergabung bersama mereka. Pria itu mengulas senyumnya, memperhatikan interaksi Liora dengan Nelly. Hatinya menghangat melihat kehadiran keduanya di dalam hidupnya yang gersang.
"Sudah ngantuk ya sayang?" tanya Liora pada sang anak. Nelly mengangguk polos, gadis manis itu segera memejamkan mata.
Liora menghela nafas panjang, mendaratkan kecupan di kening putrinya. Aldrich turut melakukan hal sama pada calon putri sambungnya. Pria itu segera membaringkan tubuhnya, menarik selimut menutupi tubuh mungil Nelly.
Liora sendiri mengambil ponselnya. Dia memainkannya sebentar setelah itu menaruhnya kembali ke atas meja. Dia segera membaringkan tubuhnya, menatap langit langit kamarnya. Suasana hening menyelimuti keduanya, mereka larut dalam pikiran masing masing.
Tring
Liora mengambil ponselnya lagi, manik coklatnya membulatkan mata. Wanita itu mengigit bibirnya, membaca pesan dari mantan suaminya. Dia langsung menaruh kembali ponselnya, Liora tentu saja tak ingin kehilangan Nelly.
__ADS_1
"Aku harus mempertahankan Nelly, mana aku rela jik pria itu akan merebut Nelly dariku. " gumam Liora. Dia merasa geram akan tingkah laku mantan suaminya yang benar benar keterlaluan menurutnya.
"Kenapa sih dia tak bisa membiarkan aku tenang sedikitpun? "