
Arta membawa istrinya pulang, dia merasa di rumah sakit penjagaan untuk istrinya kurang ketat. Kini keduanya telah sampai di mansion, mereka langsung turun dan masuk ke dalam.
Eden dan Hazel berada di sana untuk menyambut kepulangan Disha. Mereka mengobrol santai di ruang tamu.
"Sayang, untuk sementara kamu jangan ke mana mana dulu. Hazel akan menemani kamu mengobrol dan kalian bisa menonton apa saja di mansion. " ucap Arta pada sang istri.
"Jika tak boleh ke luar, aku pasti akan merasa bosan mas. " keluh wanita hamil itu.
"Ini demi kebaikan kamu dan calon baby please? " pinta Arta sambil memohon. Disha menghela nafas panjang, dia pun mengangguk singkat. Pria itu langsung menciumnya sekilas lalu mengajak Eden ke luar.
Huh
Hazel paham akan perasaan sang sahabat namun mau bagaimana lagi, ini demi kebaikan Disha sendiri. Gadis itu mengusap bahu sang sahabat, dia berusaha menghibur bumil.
Arta melajukan roda empatnya dengan kecepatan sedang. Eden beberapa kali menasehatinya untuk jangan bertindak gegabah tanpa mengumpulkan bukti dulu.
"Tapi aku yakin jika pelakunya Stella, Den. Hanya dia yang begitu membenci istriku. " ujar Arta dengan nada datarnya. Pria itu menepikan mobilnya, dia mengusap wajahnya kasar lalu mengumpat.
"Oh ya Ar, apa kau mengetahui rahasia Stella. Beberapa waktu lalu istrimu meminta aku mencari tahu mengenai Stella. " ceplos Eden.
Arta menoleh dengan cepat kearahnya. Dia pun menggeleng tak tahu apapun, Eden langsung mengatakan rahasia yang di miliki Stella. Pria tampan itu tentu saja terkejut dengan fakta yang dia terima saat ini.
"Jadi wanita itu meninggalkan mantan suami dan anaknya demi Aldrich. Gila ya ibu macam apa yang tak mengakui anak perempuannya sendiri. Stella benar benar wanita iblis, pastinya Aldrich tak mengetahui hal ini. " gumamnya masih tak percaya.
"Aku sudah mengetahui siapa mantan suami dari Stella. Ayo jalan, kita harus menemui dia Ar. " ujar Eden yang di angguki Arta. Dia menyalakan mobilnya dan melesat kencang.
Beberapa menit berlalu mereka telah sampai di kediaman Dean. Keduanya langsung turun dan segera menekan bel.
__ADS_1
"Ada apa ya Tuan? "
"Begini Bi, apa Tuan Dean nya ada? " tanya Eden.
"Ada, Tuan Dean ada di dalam. " Arta dan Eden langsung masuk ke dalam. Mereka menunggu di ruang tamu hingga sang pemilik rumah datang. Dean datang menemui keduanya, Arta tentu saja di buat terkejut dengan fakta mengenai Dean.
"Tuan Arta, ada apa? " tanya Dean dengan kening berkerut. Eden menyampaikan kedatangan mereka ke rumah Dean. Arta langsung berbicara mengenai kejadian yang menimpa istrinya dan juga membahas perihal Stella, istri Aldrich.
Mendengar nama Stella di sebut membuat rahang Dean tampak mengeras. Eden dan Arta saling melirik satu sama lain, keduanya paham jika Dean tampak menahan amarahnya.
"Ya aku dan Stella dulunya pasangan suami istri. Wanita itu berubah melahirkan putriku. Dia menganggap Keyla sebagai pembawa sial untuknya. Selama ini aku juga menyembunyikan identitas ku sebenarnya pada wanita itu. " ungkap Dean dengan tangan terkepal kuat.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama Tuan Dean, aku ingin membongkar kebusukan Stella selama ini. " tawar Arta tanpa basa basi. Dean terdiam, dia menimbang nimbang tawaran Arta barusan.
"Aku setuju, asalkan Eden mengizinkan aku mendekati adiknya yang galak itu. " ujar Dean sambil tersenyum.
"Baiklah setuju, asalkan kau tak menyakiti Nia. " ketus Eden. Dean tentu saja senang, dia menyetujui tawaran kerjasama dari Arta. Pelayan datang membawakan minuman untuk ketiganya.
Arta langsung menyesap kopinya dengan santai begitu juga dengan Eden. Dia berharap adik nya tak di sakiti oleh duda di depannya saat ini. Setelah itu mereka kembali mengobrol dengan serius, ketiganya merancang rencana matang untuk menjebak Stella.
Siangnya Eden dan Arta langsung pamit pulang setelah urusan mereka selesai. Dean memilih pergi ke taman menemui Nia di sana. Gadis itu tengah menemani Keyla bermain.
"Kak Eden udah pulang, Tuan? " tanya Nia memastikan.
"Sudah. " jawab Dean singkat. Pria duda itu memperhatikan putrinya yang tertidur di tikar dengan lelapnya.
"Tolong jangan panggil aku tuan apalagi bapak, karena aku bukan bapakmu. " ceplosnya yang membuat Nia terkekeh pelan. Gadis itu kembali memperhatikan si kecil yang terlelap di sampingnya. Ada rasa iba dalam dirinya melihat sosok manis di sampingnya saat ini.
__ADS_1
Pluk
Nia menoleh, merasakan kepalanya diusap dari samping. Tatapan mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain. Gadis itu memutus lebih dulu, dia merasa gugup jika setiap kali berdekatan dengan duda tampan ber anak satu ini.
"Kenapa, apa kau mau menjadi bunda nya Keyla? " tanya Dean tanpa basa basi.
"Eh, apa apaan sih mas Dean. " elak Nia berusaha menyembunyikan pipinya yang merona. Dean tertawa melihat respon yang di tunjukkan Harmonia. Gadis itu merasa Dean mungkin hanya bercanda, dia tak boleh baper sedikitpun.
Dia memilih melahap potongan buah. Dean ikut duduk di tikar, pria itu juga memakan potongan apel di atas piring. Keduanya mengobrol dengan santai tanpa merasa canggung layaknya teman dekat.
"Tipe pria idaman mu bagaimana Nia? " tanya Dean basa basi.
"Spek kak Arta, sepupuku itu menurut aku sempurna. Selain tampan, dia juga baik, bertanggung jawab dan kaya. " ungkap Nia.
Dean mengangguk angguk, entah apa yang duda itu pikirkan saat ini. Dia kembali memperhatikan Nia dengan pandangan yang sulit di artikan. Terdengar suara helaan nafas berat, membuat Nia menoleh kearahnya.
"Apa mas Dean pernah berpikir jika wanita itu sama seperti mantan mas Dean? " tanya Nia memastikan.
"Dulu iya, jika aku yang di sakiti aku masih bisa terima tapi tidak dengan Keyla, putriku. " tegas Dean. Nia menghela nafas berat, dia bisa merasakan kemarahan yang di rasakan Dean saat ini.
"Percayalah mas, suatu saat kamu pasti bisa menemukan figur ibu untuk Keyla. " gumam Nia sambil tersenyum. Dean ikut tersenyum mendengar ucapan Nia yang begitu menangkan dirinya.
Pria tampan itu mengumamkan terimakasih yang di angguki Nia. Dia merasa lega keberadaan Nia membuat putrinya tampak nyaman dan tak lagi menangis. Dean tiba tiba meraih tangan Nia lalu mengenggamnya dengan erat.
"Bisakah kamu memberiku kesempatan Nia. Aku ingin menjalani hubungan yang serius dengan kamu. Bukan hanya untuk Keyla tapi juga untuk masa depanku. Aku ingin membuka lembaran baru. " ujar Dean dengan sungguh sungguh.
Nia sampai kehilangan kata kata. Dia pun tak menyangka jika Dean akan berbicara terus terang seperti ini padanya. Setelah memikirkannya matang matang, dia mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Iya mas Dean, kita jalani saja dengan pelan pelan tak perlu terburu buru. " ucap Nia dengan bijak. Dean langsung membawa Nia ke dalam pelukannya. Dia merasa cukup lega, Nia mau memberinya kesempatan.