
Arta telah meminta Clayton untuk mengumpulkan bukti perbuatan Aldrich yang menganggu ketentraman sang istri. Sudah cukup selama ini bersabar menghadapi kegilaan rivalnya itu.
Pria itu menghela nafas berat, langsung menjatuhkan dirinya di sofa.
"Arta, Arta. " panggil mommy dengan panik.
"Iya mom ada. " Arta lekas bangkit, menghampiri sang mommy.
"Disha kembali mengamuk di kamarnya. " cetus mommy. Arta membulatkan mata, dia mengumpat pelan lalu berlari menuju ke kamarnya di lantai dua.
Banyak pecahan kaca yang berserakan di atas lantai kamar. Arta mengeraskan rahang, dia berjalan mendekati istrinya. Dia langsung merebut pecahan gelas yang di bawa oleh istrinya.
"Apa kau sudah gila Disha. " bentak Arta dengan nada tinggi nya. Disha berusaha merebut pecahan itu sambil menangis tergugu. Wanita tersentak kaget namun tetap memberontak dengan histeris.
Arta mengusap wajahnya kasar, menghampiri istrinya kemudian menariknya ke dalam pelukan. Dia abaikan sang istri yang masih memberontak.
Pelayan datang membereskan pecahan kaca di kamar sang majikan. Setelah itu dia langsung pamit ke luar. Tubuh Disha luruh di lantai, Arta langsung duduk sambil memeluk sang istri.
Hanya terdengar suara isakan tangis Disha yang membuat siapapun merasa teriris saat mendengarnya. Dia membiarkan istrinya meluapkan kesedihannya dengan cara menangis.
"Kenapa kamu takut dengan masa lalu, apa kau sebenarnya mencintai Aldrich? " tanya Arta dengan nada datarnya.
"Apa kamu tak menyayangiku termasuk si kecil Alfred. " ucap Arta mendesah istrinya untuk berbicara. Tangis Disha kian pecah, wanita itu menutupi kedua wajahnya mengunakan tangan. Arta langsung menarik kedua tangan sang istri, menggenggamnya erat.
"Ayo jawab apa kamu tak memikirkan aku dan putra kita? " tanya Arta dengan nada dinginnya.
"Hentikan. " Disha berusaha mengabaikan pertanyaan suaminya namun Arta terus memberikan pertanyaan untuknya. Arta yang kesal langsung mengguncang bahu sang istri.
"Aku bilang hentikan mas Arta. " bentak Disha dengan nada tinggi. Kedua matanya tampak sembab, wanita itu mendorong tubuh suaminya dengan keras. Arta pun menghela nafas kasar, melihat istrinya yang semakin histeris.
Disha menahan rasa sesak dalam dadanya setiap kali mengingat masa lalu kelamnya. Kedua tangannya terkepal kuat, dia kembali menghancurkan barang barang di dalam kamarnya.
Arta lekas bangkit dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Pria itu lantas ke luar dari kamar, menemui pelayan. Tak lama dokter datang, segera memberikan suntikan penenang untuk Disha.
__ADS_1
Sore harinya
Arta menggendong istrinya membawanya ke dalam mobil. Di susul pengasuh yang menggendong si kecil Alfred. Sopir langsung menyalakan mobil, melajukan roda empatnya meninggalkan kediamannya.
Pria tampan itu memperhatikan istrinya yang masih tertidur dalam pelukannya. Hanya ini satu satunya cara untuk membuat sang istri merasa tenang untuk sementara.
Larut malam setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang Arta dan istrinya sampai di Villa. Segala keperluan telah di siapkan. Arta di bantu oleh Clayton hingga begitu cepat menyiapkan semuanya. Pria itu lantas masuk ke dalam Villa menuju ke kamarnya. Sementara sang babysitter berada di kamar lain untuk menjaga si kecil Alfred.
Arta membaringkan sang istri di atas ranjang. Sementara pria itu melesat ke kamar mandi. Beberapa menit berlalu dia ke luar dan segera berpakaian setelah itu berbaring si sebelah sang istri.
Hari berikutnya
Pagi harinya, mentari pagi pun memantulkan sinarnya melalui celah gorden yang tembus pandang. Disha membuka matanya, matanya mengerjab pelan lalu menatap sekelilingnya yang terasa berbeda.
Wanita itu lantas bersandar di headboard tanpa mengatakan apapun. Cklek pintu terbuka, Arta masuk ke dalam membawa sarapan dan segelas susu untuk istrinya.
"Ayo sarapan dulu sayang, nanti aku kasih tahu di mana kita sekarang! " ucap Arta dengan lembut. Arta langsung menyuapi istrinya dengan roti setelah itu membantu meminum susu.
Selesai sarapan Arta memberitahu keberadaan mereka saat ini pada Disha. Pria itu benar benar memberikan perhatian penuh pada sang istri.
"Aku mau mandi mas! "
"Mandilah. " Disha segera turun dari ranjangnya dengan perlahan. Wanita itu langsung pergi ke kamar mandi. Beberapa menit berlalu dia ke luar dan segera memakai dressnya. Arta dengan sabar membantunya menyisir rambut.
Selesai dengan aktivitas paginya. Arta mengajak istrinya ke luar, pergi ke kamar putra mereka. Tampak si kecil sudah wangi, sang babysitter menyerahkan Alfred pada majikannya.
"Sayang kau tak menyapa putra
kita? " tanya Arta yang melihat istrinya hanya Daik sambil memperhatikan Alfred.
oek
__ADS_1
oek
Alfred justru menangis, Artapun langsung sigap menggendong sang anak dan berusaha menenangkan nya. Pria itu memanggil sang pengasuh dan menyerahkan si kecil. Lalu dia menarik istrinya ke luar dari kamar putra mereka.
Keduanya kini berada di luar Villa. Arta melepaskan cekalan tangannya lalu menoleh kearah sang istri. Lagi lagi terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibirnya.
"Jangan terus larut dalam ketakutan dan kesedihanmu sayang, Alfred masih butuh kamu. " ujar Arta dengan lembut.
Dering ponselnya menyita perhatian Arta. Pria itu sedikit menyingkir dan berbicara di telepon. Disha sendiri berjalan kaki menuju ke kolam renang yang letaknya tepat di depan pantai.
Disha memilih duduk dengan kaki masuk ke dalam air kolam renang. Entah apa yang tengah di pikirkan wanita itu saat ini. Setiap ucapan suaminya berputar dalam kepalanya. Dia juga teringat akan putra kecilnya yang masih membutuhkan kasih sayangnya.
"Alfred. " gumam Disha sambil menitikkan air mata. Teringat putra kecilnya, hot mommy itu terus menangis dalam diam.
"Sayang kamu di sini rupanya. " Artha duduk di sebelahnya, merangkul bahu sang istri. Disha menoleh, dia kembali menangis di hadapan sang suami.
"Sayang, kenapa kamu malah menangis? " tanya Arta dengan panik. Disha langsung memeluk suaminya sambil mengumamkan nama anak mereka.
Dia mengecup kening sang istri dan mengeratkan pelukannya. Arta paham dengan apa yang di rasakan sang istri saat ini.
"Alfred lagi tidur di jaga sama mbak Arum, sayang. Nanti kita ajak main si kecil kamu mau 'kan? " tanya Arta yang di angguki istrinya.
"Tapi janji kamu harus mengajak putra kita bicara seperti biasanya dan aku mau kamu bangkit sayang! " tegas Arta.
"Maafkan aku mas. " gumam Disha dengan nada seraknya. Arta tersenyum tipis, dia kembali memeluk sang istri sambil menikmati suasana. Keduanya lekas bangkit, lalu berjalan bergandengan tangan menuju ke pantai.
Di sana keduanya sedikit mengobrol, Arta kini berusaha menghibur sang istri. Mereka berdua terus menyusuri pantai dengan santai dan tenang. Pria tampan itu menghentikan langkahnya, menoleh dan memperhatikan Disha.
"Apa yang kamu rasakan sekarang sayang? " tanya Arta dengan lembut.
Disha hanya diam saja dan memilih melanjutkan jalannya. Arta memilih mengalah dan menemani sang istri jalan jalan sebentar.
__ADS_1