
Siang itu tanpa sengaja Arta dan istrinya bertemu dengan Stella. Keduanya tampak selesai berbelanja, Stella langsung datang menghampiri mereka. Wanita itu tampak sengaja mengusap perutnya di depan Disha.
"Aku sedang hamil anak Aldrich! " ungkap Stella dengan senyuman penuh mengejek.
"Oh aku doakan semoga sehat sampai lahiran. " ujar Disha dengan tulus. Stella berdecak pelan, dia merasa Disha hanya berpura pura tulus padanya.
"Kenapa diam, kau sakit hati melihatku hamil sedangkan kau tak kunjung hamil lagi? " ucap Stella sambil menyindir Disha.
Disha membelo jengah, dia pun tak tersinggung dengan sindiran pedas dari rivalnya ini. Arta sendiri menatap penampilan Stella dari atas hingga kebawah kemudian melipat tangannya di dada.
"Memangnya kamu siapa, saudara bukan tetangga juga bukan. Lagipula aku yang suaminya Disha saja begitu santai kenapa kamu justru yang ribet sendiri Stella? " balas Arta dengan nada sinisnya.
Stella langsung kicep mendengar ucapan Arta barusan. Wanita hamil itu mengumpat pelan yang justru mendapat teguran dari Disha. Diapun tak peduli dengan omong kosong yang di ucapkan Disha padanya. wanita hamil itu berlalu begitu saja, Disha menggeleng melihat kelakuan Stella.
"Stella benar benar, wanita hamil itu di larang keras untuk berkata kasar tapi dia tetap ngeyel. " gumam Arta tak habis pikir.
"Sudahlah mas biarin aja. Lagipula kita sudah baik baik menasehatinya namun dia tak peduli. " sahut Disha.
"Lagipula kenapa kamu julid banget sih mas? "
"Entahlah aku enggak bisa diam saat wanita ular itu menghina kamu sayang. Rasanya mulut aku ini serasa gatal jika tak membalasnya. " sahut Arta dengan santai. Disha menggeleng pelan, mengajak suaminya pergi dari sana. Mereka berbelanja pakaian untuk ayah Arkana.
Keduanya masuk ke dalam mobil, sopir langsung menyalakannya dan jalan. Disha menghela nafas panjang, berusaha menyuruh sang suami untuk diam. Sepanjang perjalanan Arta terus saja membicarakan Stella, sepertinya pria itu begitu membenci istri dari Aldrich tersebut.
Setelah sampai di kediaman mereka, keduanya langsung turun. Disha menggandeng lengan sang suami dan mengajak nya masuk ke dalam. Wanita cantik itu memberikan beberapa paperbag yang dia bawa pada sang ayah.
"Pakaian ayah masih bagus bagus nak. " ucap Ayah Arka dengan lembut.
__ADS_1
"Enggak papa Ayah, lagipula ayah masih terlihat gagah sampai sekarang. Siapa tahu setelah penampilan ayah berubah, ayah bisa menemukan jodoh ayah. " ceplos Disha dengan senyuman lebarnya.
"Terimakasih nak, ayah simpan di kamar dulu. " Pria paruh baya itu langsung bangkit dan pergi ke kamarnya. Disha dan suaminya telah duduk di sofa, Arta langsung mengajak sang mommy membahas tentang Stella.
Mommy Diandra tentu saja terkekeh pelan melihat kelakuan putranya. Arta mengatakan kekesalannya terhadap Stella pada sang mommy. Wanita paruh baya itu melirik kearah sang menantu, terlihat jelas jika Disha tampak lelah melihat kelakuan Arta.
"Aku harap kelak kalau punya baby, sikapnya tak menurun seperti mas Arta yang super julid. " gumam Disha.
Mommy Diandra pun tergelak mendengar ucapan sang menantu. Arta sendiri hanya tersenyum tanpa dosa, pria itu melabuhkan kecupan di kening sang istri. Dia memang suka mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Mom, Dad aku ke kamar dulu ya mau packing buat besok. " ujar Disha. wanita cantik itu langsung bangkit dan meninggalkan ruang tamu.
Kamar ArtaSha
Disha segera masuk ke dalam walk in close. Wanita itu mengambil koper lalu membukanya, dia memasukkan beberapa pakaian dirinya ke dalam koper dan barang barang pribadi lainnya. Setelah itu giliran mengemas pakaian sang suami ke dalam koper yang lainnya.
Disha langsung masuk ke dalam Jakuzzi setelah menanggalkan jubah mandinya. Wanita itu memejamkan mata, mencoba merilekskan dirinya. Ucapan Stella terus terngiang di dalam kepalanya.
Cklek
Arta menyusul, pria itu ikut berendam setelah melepaskan pakaian. Dia memeluk istrinya dari belakang, mengusap telapak tangan sang istri. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari mulut Disha. Arta sendiri begitu penasaran dengan apa yang di pikirkan istrinya.
"Kenapa hm? " Arta mencium bahu polos istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Aku hanya kepikiran dengan omongan Stella, mas. " ungkap Disha dengan jujur.
"Kamu jangan dengarkan omongan dia, omongan Stella itu sesat
sayang. " ceplos Arta. Disha terkekeh mendengar ucapan ceplas ceplos dari sang suami. Wanita cantik itu bersandar di dada suaminya. Tangan Arta menjalar ke mana mana, Disha segera menahannya.
Pria tampan nan seksi itu membalik tubuh sang istri. Dan keduanya berbagi keringat di dalam sana. Satu jam berlalu mereka baru ke luar, selesai berpakaian Arta membantu istrinya mengeringkan rambut. Keduanya naik ke atas ranjang, mulai membuka kado dari keluarga mereka kemarin.
Arta bersiul kala melihat lingerie dengan bermacam model, hadiah itu berasal dari Nia. Disha tentu saja segera menaruhnya ke tempat lain. Dia tak tahan dengan godaan sang suami yang mengarah ke itu terus.
"Aku lagi bayangin kamu pakai kostum kelinci seksi dengan bando di kepalanya sayang! " ungkap Arta dengan tatapan nakalnya.
Plak
"Mas berhenti membahas hal itu. " geram Disha dengan pipi memerah. Kini mereka membuka kado lainnya. Sebuah kado dari Ayah Arka membuat Disha berdebar, segera membukanya. Sebuah dress maxi berwarna biru dan ada selembar surat di dalamnya.
Surat dari Ayah Arkana untuk putri kecilnya Anaya Disha.
Dari Ayah
Halo putri ayah yang paling cantik. Ayah tak menyangka ya nak, kamu sekarang menjadi seorang istri dari pria bernama Eza Artanza Aktar. Semoga Arta, suami kamu selalu memberikan kamu kebahagiaan yang melimpah yang tidak kamu dapatkan dari ayah nak.
Ayah boleh jujur nak, Ayah cemburu melihat ada pria lain yang jauh menyayangi kamu sayang. Sebagai orang tua kamu satu satunya, ayah belum bisa membahagiakan kamu Disha. Lupakan masa lalu dan bahagiakan dirimu bersama pria yang meratukan kamu sayang. Dan ini kado ayah untuk kamu nak dan semoga kamu menyukainya. Ayah sangat yakin jika kamu pasti akan sangat cantik seperti mendiang ibu kamu!
Dari Ayah Arkana yang sayang kamu Disha, end
Hiks
__ADS_1
"Ayah. " Disha menangis sesegukan setelah membaca surat dari sang ayah yang begitu menyentuh hatinya. Arta ikut menangis melihatnya, dia merangkul bahu istrinya dari samping.
"Aku menyukai kadonya ayah. " gumam Disha sambil tersenyum. Dia memeluk dress pemberian sang ayah. Arta sendiri menghapus sudut matanya, dia jadi teringat dengan mendiang sang Daddy. Pria iru telah berjanji pada sang mertua akan selalu membahagiakan dan menjaga Disha dengan jiwa dan raganya.