
Di Mansion
Aldrich mengamuk karena gagal membawa Vanya bersamanya. pria ini ingin memanfaatkan Vanya untuk menghancurkan Arta namun rencana nya gagal.
Prang
Dia membanting barang barang yang ada di ruang tengah. Stella yang melihat kelakuan gila suaminya hanya bisa mengumpat. Wanita itu menghampiri sang suami sambil melipat tangannya di dada.
"Hentikan kegilaan kamu Al, apa kau lupa kau masih punya istri saat ini. " ketus Stella kesal. Aldrich pun menghentikan aksinya, pria itu menoleh kearah sang istri. Tatapan pria itu berubah tajam, dia berjalan cepat menghampiri wanitanya itu.
Sret
"Karena kamu aku kehilangan segalanya Stella, kau pembawa sial bagiku. " ketus Aldrich sambil mencekik leher istrinya. Stella tak bisa bernafas, dia memukul tangan suaminya agar melepaskan dirinya.
Pria itu pun lantas melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Stella ke lantai. Stella terbatuk batuk, dia mengumpat kasar kepada Aldrich.
Dering ponsel menyita perhatiannya. Pria itu lantas mengeluarkan benda canggih itu. Entah apa yang tengah di bicarakan suaminya yang tampak terlihat serius.
Tut
Aldrich menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana. Dia pun menatap datar kearah istrinya dengan seringai miring.
"Besok perceraian kita akan di laksanakan, aku harap kau hadir jika tidak aku akan membuat hidupmu menderita Stella. " ancam Aldrich tak main main. Pria itu berlalu pergi dari hadapan istrinya.
Stella mengepalkan tangannya. Suaminya tetap kekeh berniat menceraikan dirinya.
Skip
Di Kamar Aldrich
Aldrich diam diam meng stalking akun sosial media milik Disha. Wanita itu tengah memposting fotonya bersama Arta dan si kecil Alfred. Dia tentu saja merasa cemburu melihat Disha tampak bahagia dengan rivalnya.
"Seandainya bayi itu putraku, aku pasti akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia Sha. " gumam Aldrich lirih. Terdengar suara helaan nafas berat, rasanya Tuhan tak adil padanya.
Rasanya sesak sekali jika Aldrich mengingat masa lalu. Dirinya kehilangan calon anaknya bersama Disha. Pria itu mengusap wajahnya kasar, untuk sekarang dia hanya bisa mencari cara untuk menghancurkan Arta.
"Jika Arta hancur aku bisa merebut Disha dari tangan pria itu. " gumam Aldrich dengan seringai miringnya. Pria itu lantas bangkit, dia langsung melesat ke kamar mandi.
Setengah jam berlalu dia ke luar dan segera memakai pakaiannya. Aldrich telah memiliki segudang rencana untuk menyingkirkan Artanza. Dia begitu menginginkan Disha menjadi wanitanya. Aldrich mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Lakukan rencananya besok, aku harap kamu berhasil menyingkirkan Artanza secepatnya. " ujar Aldrich dengan nada sinisnya.
Selesai bicara dia menyimpan ponselnya ke dalam saku. Mengenai kerugian yang di akibatkan oleh salah satu pekerja nya kemarin telah dia selesaikan dengan cara licik.
Diapun langsung ke luar dari kamar, Aldrich pergi ke ruang tamu. Ternyata kedua orang tuanya datang berkunjung. Pria itu terpaksa duduk di sebelah sang istri.
"Mom, Dad aku tetap akan menceraikan Stella besok di pengadilan. " ungkap Aldrich. Dia menjelaskan apa saja kebodohan yang di lakukan istrinya itu hingga membuatnya muak.
Nyonya Aliana dan Tuan James hanya bisa saling melirik satu sama lain. Salah satu dari mereka memberikan nasehat jika hubungan keduanya masih bisa di perbaiki.
"Soal keturunan Stella masih bisa hamil Al, hubungan kalian harusnya di perbaiki. Kenapa kamu mengambil keputusan mendadak seperti ini? " tanya mommy dengan tatapan curiga nya.
"Apa mommy yakin Stella bisa menjadi seorang ibu. Dia saja pernah meninggalkan anak pertamanya dengan tuan Dean. " ujar Aldrich dengan tatapan sinis.
Kenyataan itu membuat orang tua Aldrich bungkam. Stella berusaha mengambil hati mertuanya sambil meminta maaf. Wanita itu tentu saja tak menyerah begitu saja untuk mempertahankan pernikahannya dengan Aldrich meskipun mustahil.
"Mom, Dad tolong maafkan aku. Tolong bujuk Aldrich agar dia tak menceraikan aku. Aku tak punya siapapun selain kalian. " gumam Stella dengan mata berkaca kaca.
"Sudahlah Stella, keputusanku tetap sama, besok kita akan bercerai. " tegas Aldrich penuh penekanan. Stella hanya bisa menangis terisak mendengar penuturan suaminya. Wanita itu lantas bangkit dan pergi dari sana dengan kekecewaan.
"Selain Stella apa kamu memiliki tujuan lain di balik perceraian ini Al? " tanya Daddy James dengan tatapan penuh selidik.
"Er tidak ada Dad. " elaknya dengan nada gugup. Jika orang tuanya tahu mengenai tujuannya saat ini, mereka pasti akan marah besar begitu pikirnya.
"Awas saja jika kamu melakukan hal aneh aneh Al, Daddy dan Mommy tak akan pernah menganggap kamu sebagai anak lagi. " ancam Daddy James tak main main.
Aldrich menelan salivanya kasar. Dia berusaha tenang mendengar ultimatum dari sang daddy yang tak main main. Pria itu tak ingin orang tuanya tahu dengan rencananya kali ini. Dia harus berhasil merebut Disha dari Artanza.
"Sudahlah Dad, aku telah mendengar jika Disha telah melahirkan bayinya yang tampan seperti Arta. " ungkap Nyonya Aliana.
"Ya mom aku sudah tahu. " sahut Aldrich dengan senyuman kecutnya. Daddy menyadari perubahan ekspresi dari putranya itu namun pria paruh baya itu memilih diam saja.
"Bagaimana kalau kita ke sana sekarang. " tawar Daddy James.
"Baiklah aku ikut. " pungkas Aldrich. Mereka bertiga langsung bangkit, segera meninggalkan ruang tamu dan ke luar.
Skip
__ADS_1
Mansion Arta
Nyonya Diandra dan Tuan Arkana menyambut kedatangan para tamunya. Tuan Arkana masih marah dan benci pada sosok Aldrich. Disha dan Arta sendiri asyik menggendong si kecil.
"Kami di sini ingin mengucapkan selamat atas kelahiran si kecil
Alfred. " ucap nyonya Aliana dengan lembut.
"Terimakasih atas kedatangan anda nyonya, tuan. " sahut Nyonya Diandra dengan ramah.
"Nyonya Aliana menghampiri Disha yang duduk di karpet bersama dengan Arta, suaminya. Hot mommy itu menggendong jagoannya sambil mengajaknya bermain.
nyonya Aliana memperhatikannya sambil tersenyum. Disha yang di perhatikan menoleh, dia tersenyum tipis pada nyonya Aliana.
"Bolehkah tante menggendongnya nak? " tanya Nyonya Aliana. Disha mengangguk, wanita itu pun menyerahkan putranya pada wanita paruh baya di depannya.
Nyonya Aliana menyapa bayi tampan dalam gendongannya saat ini. Namun tiba tiba Alfred menangis saat Aldrich mendekati mereka. Disha tentu saja mengambil alih putranya lagi.
"Sayang kenapa menangis hm, kamu tadi di gendong oma Aliana lho. " ujar Disha lembut sambil mengecup pipi sang anak.
"Mungkin putra kita merasakan ada hawa negatif di dekatnya sayang. " cetus Arta sambil melirik tajam kearah Aldrich. Aldrich mendelik, tak terima dengan ucapan Arta barusan.
Disha hanya menggeleng mendengar ucapan sang suami. Dia pun berusaha menenangkan putra kecilnya. Fokusnya kini tertuju pada Aldrich yang berada di dekatnya. Wanita itu hanya diam saja tanpa berniat menyapa Aldrich.
Nyonya Aliana menoleh, dia meminta putranya kembali ke ruang tamu. Aldrich hanya diam saja, dia terus memperhatikan Alfred yang di gendong Disha setelah itu pergi dari sana.
"Disha, Arta maaf jika kehadiran Aldrich selalu menganggu kehidupan kalian. " ucap nyonya Aliana dengan tulus.
"Putra tante itu sudah seperti hama yang perlu di basmi. " ceplos Arta. Disha langsung mencubit paha sang suami sambil meliriknya tajam. Arta langsung tersenyum nyengir, nyonya Aliana hanya terkekeh pelan mendengarnya.
"Apa yang di katakan Arta memang ada benarnya Disha. " sahut Nyonya Aliana.
Aldrich
Visual Stella
__ADS_1