My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 17 Kebencian Aldrich


__ADS_3

"Oh sial. " umpatnya setelah sampai di mansion mewahnya. Pengakuan Disha terus terngiang ngiang di kepalanya. Aldrich tak menyangka jika Disha telah keguguran.


Pria itu lantas menghubungi sang mommy untuk datang. Aldrich menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


Stella datang menghampiri sang suami. Aldrich membuka kancing kemejanya, mengulung lengannya hingga ke siku.


"Kau terlihat sangat stress sayang, memangnya ada apa? " tanya Stella.


Orang tua Aldrich datang, keduanya langsung bergabung bersama Stella dan Aldrich. Nyonya Ariana sebenarnya malas bertatapan muka dengan Stella. Aldrich menghela nafas panjang, menatap orang tuanya secara bergantian.


"Aku tadi bertemu Disha mom, katanya dia telah keguguran waktu lalu. " ungkap Aldrich. Nyonya Ariana tertegun mendengarnya, dia hanya diam tak berkomentar.


"Mungkin wanita hina itu sengaja karena ingin membalas kita mom. " tebak Aldrich dengan geram. Tuan James memperhatikan respon yang di tunjukkan putranya.


"Kalian tahu jika Disha juga mengenal Arta klienku yang ternyata calon suaminya. Apa begitu murahan dia hingga menggoda lelaki kaya. " cetus Aldrich dengan entengnya.


Ehem


Tuan James tersenyum sinis mendengar nada cemoohan yang ke luar dari bibir putranya. Nyonya Ariana menghela nafas panjang, dia sependapat dengan putranya kali ini.


"Kenapa kamu marah, lagipula kamu bukan siapa siapa Disha, Al. kau hanya lelaki brengsek yang menodainya, menghancurkannya. " ujar Daddy dengan sinis.


"Mengenai Disha yang keguguran, mungkin Tuhan memberi jalan yang terbaik. Dari pada calon janin itu kelak lahir dan besar, pasti anak itu akan malu memiliki Daddy yang kelakuan nya seperti binatang. " sarkas Tuan James dengan sinis.


Aldrich mengepalkan tangannya kuat, dia begitu marah dengan ucapan daddy nya kali ini. Stella sendiri terkejut akan ucapan mertuanya barusan yang begitu menyakitkan.


"Dad. " tegur Mommy.


"Mommy lebih baik diam saja, jika mommy yang berada di posisi Disha bagaimana. Bukannya woman support woman, mommy malah turut menyalahkan Disha. " ketus Daddy membuat nyonya Ariana tertampar dengan ucapan suaminya kali ini.


"Cukup Dad. " sahut Aldrich menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Pria itu begitu marah melihat sang daddy yang justru memojokkan dirinya. Stella berusaha menenangkan sang suami yang terlihat emosional.

__ADS_1


Daddy James menghela nafas berat, pria paruh baya itu mengatupkan bibirnya rapat. Aldrich mengusap wajahnya kasar, dia lepas kendali hingga membentak Daddy. Nyonya Ariana sendiri memilih diam, wanita paruh baya itu bangkit dan memilih pergi ke kamarnya.


Aldrich membiarkan orang tuanya menginap, pria itu menatap sendu kepergian sang mommy. Dia yakin jika sang ibu tengah kecewa dengan Daddy.


"Jika Disha keguguran itu malah bagus Dad, aku justru tak perlu bertanggung jawab padanya. " ujar Aldrich dengan entengnya.


"Kau keterlaluan Al, Daddy harap nanti kamu tak akan menyesalinya. " sahut Daddy James dengan nada kecewanya. Pria paruh baya itu bangkit, meninggalkan ruang tamu dan menyusul istrinya ke kamar.


Stella sendiri tampak senang dengan keputusan suaminya. Meski begitu dia perlu menyingkirkan Disha yang mungkin saja akan menjadi penghalang dan berniat merebut Aldrich darinya.


"Sayang aku ke kamar dulu. " Aldrich langsung bangkit dan melenggang pergi meninggalkan Stella sendirian di ruang tamu. Wanita itu mengambil ponselnya, lalu menghubungi pria suruhannya.


"Lacak keberadaan perempuan bernama Anaya Disha. " " perintah Stella. Stella segera mengakhiri sambungannya, menaruh ponselnya di atas meja. Dia mengambil sebuah majalah, lalu membukanya bolak balik.


Sementara di kamar mandi, Aldrich tengah berdiri di bawah guyuran air shower.


dhuak


"Sial kenapa aku terus terbayang bayang olehnya. " umpat Aldrich dengan kasar. Pria itu segera menyelesaikan mandinya, dia ke luar dengan mengenakan selembar handuk di pinggangnya. Aldrich segera memakai celana panjang hitam dengan atasan kaos biru.


Dia berjalan kearah ranjang, duduk di atas sana dengan wajah frustrasinya. Kehadiran Disha bersama Arta, yang merupakan kliennya membuatnya sedikit terusik.


"Come on Al, kamu harus tetap tenang dan fokus. Anggap kehadiran Disha hanyalah hambatan kecil. Lagipula wanita itu pasti hanya ingin mencari perhatianmu. " ucapnya pada diri sendiri.


Huh


"Hari yang sial untukku! "


Aldrich merasa kembalinya Disha hanya ingin mengusiknya, mencari perhatiannya lagi. Dia tak akan tertipu dengan sikap polos wanita hina itu. Lagipula di antara mereka tak ada hubungan apapun.


"Cih kau pikir aku akan tertarik padamu Disha, tak akan sama

__ADS_1


sekali. " ucap Aldrich penuh penekanan. Pria itu juga semakin membenci sosok wanita yang dia anggap hina itu. Namun ada sisi bertentangan dalam dirinya yang merindukan sosok Disha. Aldrich menepis perasaan aneh itu, lagipula dia hanya mencintai Stella istrinya.


Aldrich mengambil ponselnya, dia menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tempat tinggal Disha. Sambil menunggu, dia memilih berbaring di atas ranjang. Tiba tiba kepingan memori dirimu bersama Disha berputar kembali dalam kepalanya.


Tring


Aldrich menyambar ponselnya, dia langsung bangun dan duduk dengan tegap. Dia diam saja mendengarkan penjelasan yang bodyguard yang dia sewa. Tangannya terkepal kuat saat mengetahui Disha tinggal bersama Artanza.


"Kenapa perasaanku tak karuan seperti ini? " gumamnya sambil melempar ponselnya ke atas ranjang.


"Enggak untuk apa aku memikirkan wanita itu. " sangkal Aldrich. Pria ini selain temperamen, dia juga memiliki ego dan gengsi yang sangat tinggi. Mana ada wanita yang akan tahan dengan sikapnya ini kecuali wanita itu menginginkan harta Aldrich.


Aldrich langsung bangkit, ke luar dari kamar dan memilih bergabung bersama istrinya. Stella menaruh majalahnya, wanita itu memeluk tubuh sang suami dengan manja.


"Kenapa hm? " tanya Aldrich dengan lembut.


"Sayang aku ingin mengundang teman teman aku, boleh 'kah? " tanya Stella meminta izin suaminya.


"Setuju, bagaimana kalau adakan pesta aja hanya untuk teman teman kita. " tawar Aldrich yang di angguki Stella. Keduanya membahas pesta yang akan mereka adakan besok malam.


Stella tentu saja sangat senang, suaminya benar benar selalu bisa membuat dirinya bagaikan ratu. Aldrich sendiri sangat suka dengan pesta dan berfoya foya. Dia tak peduli jika kedua orang tuanya akan marah besar padanya.


"Sayang, bagaimana dengan mommy dan daddy? " tanya Stella khawatir.


"Biar aku yang hadapi, jika mommy melarang. kita bisa mengadakannya di sebuah hotel sayang! "


Stella langsung mencium suaminya, keduanya berciuman liar di ruang tengah. Wanita itu mengakhirinya dan memeluk suaminya dengan erat. Inilah kehidupan yang dia impikan sejak dulu, Stella begitu nyaman akan kehidupannya yang sekarang.


"Demi mempertahankan apa yang aku dapatkan saat ini, aku harus merelakan segala sesuatu yang begitu tak penting bagiku. " batin Stella dalam hati. Stella tak akan membiarkan siapapun menghalangi dirinya dalam meraih keinginannya agar tercapai.


.

__ADS_1


__ADS_2