
Aldrich meminta salah satu detektif untuk menyelidiki masa lalu Stella. Setelah itu dia menyimpan ponselnya ke dalam saku sebelum istrinya curiga. Stella datang, bergabung bersama sang suami dan sarapan bersama.
"Hubby mengenai ucapan Disha semalam, please jangan percaya sama dia. " pinta Stella dengan wajah memelas.
"Ya, kamu tenang saja sayang hanya kamu yang aku percaya. " jawab Aldrich. Stella bisa bernafas lega, wanita hamil itu tersenyum manis pada suaminya.
Selesai sarapan Aldrich pamit pergi ke kantor dan Stella membiarkannya. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Singkirkan dia sekarang. " geram Stella dengan nada kesalnya. Wanita itu memutus sambungan lebih dulu. Dia tak sabar menanti hasilnya, Disha merupakan halangan terbesar untuknya saat ini. Stella pun menghembuskan nafas panjang.
Skip.
Di perusahaan Darvis Corp
Aldrich memanggil Lian untuk datang ke ruangannya. Tak lama Rilian datang, merasa heran dengan kelakuan bosnya.
Pria itu pun mengatakan keluh kesahnya, meminta pendapat pada Lian mengenai kecurigaan dirinya. Rilian menghela nafas berat, dia merasa bosnya ini begitu bodoh.
"Apa selama ini Tuan Al tak pernah mencari informasi mengenai Nyonya Stella? " tanya Rilian dengan nada datar nya.
"Tidak, yang aku tahu dia mengalami kekerasan dan di jual di club oleh orang tuanya dulu. waktu itu dia menghabiskan waktu denganku di atas ranjang hotel. " ungkap Aldrich.
"Seharusnya Anda menyelidiki perihal nyonya Stella, Tuan! "
Sorot mata Aldrich berubah tajam kearah Rilian. Rilian sendiri menghela nafas kasar, merapat ucapannya.
"Maksud kamu istriku berbohong Lian? "
"Maafkan saya Tuan! " Rilian langsung meminta maaf pada sang bos. Aldrich mendengus pelan, dia langsung mengusirnya begitu saja. Sepeninggal asistennya, Aldrich melonggarkan dasi yang melilit lehernya. Terdengar suara helaan nafas panjang.
Aldrich POV
__ADS_1
Apa ucapan Disha semalam hanyalah bualan. Wanita itu pasti hanya ingin menjatuhkan nama baik Stella. Dia mengatakan hal itu hanya untuk membuat dirinya bertengkar dengan Stella.
Disha, Disha kau wanita yang sangat licik. Mengunakan kekuasaan suamimu hanya untuk menjatuhkan nama baik orang lain, cih menjijikkan. Wanita sepertimu tak pantas bahagia dan bersyukurnya aku tidak menikah denganmu.
Huh
Aldrich mengalihkan fokusnya pada berkas di atas mejanya. Untuk saat ini dia masih percaya jika Stella 'lah yang jujur. Brak suara pintu di banting membuat pria itu terkejut. Aldrich membulatkan mata melihat kedatangan Vanya di kantornya. Pria itu lantas bangkit dan langsung menghampiri Vanya.
"Sayang. " sapa Aldrich yang hendak memeluknya namun di tepis kasar oleh Vanya. Raut wajah wanita itu menunjukkan kemarahan.
"Dua hari ini kamu tak bisa aku hubungi, ternyata kamu tengah bersenang senang dengan istrimu yang hamil itu Al. " pekik Vanya dengan keras. Aldrich berusaha menenangkan sang kekasih namun Vanya selalu menolak sentuhannya.
Melihat kemarahan sang kekasih membuatnya memutar otak untuk membujuknya. Aldrich mengajak sang kekasih untuk duduk di sofa setelah mengunci pintu ruangannya.
"Aku minta maaf sayang, kabar dari Stella begitu membuatku terkejut sekaligus bahagia. " ungkap Aldrich.
Vanya sendiri melipat tangannya di dada, menatap datar kearah Aldrich. Dia tampak cemburu dengan perhatian Aldrich yang lebih banyak di curahkan ke Stella.
Aldrich mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi pelayan yang berjaga di villa barunya. Dia meminta untuk menyiapkan segala keperluan Vanya ke depannya nanti. Setelah selesai dia simpan ponselnya ke dalam saku celana.
"Semua keperluan kamu di villa nanti sudah di siapkan oleh pelayan. " ucap Aldrich pada sang kekasih. Vanya sendiri telah menyimpan alamat itu ke dalam tas. Wanita itu lantas memeluk erat tubuh Aldrich.
Aldrich membalas pelukan Vanya, dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir sang kekasih. Aldrich mengakhiri ciumannya, dia merasa lega melihat sang kekasih tak lagi merajuk.
"Maafin aku sayang, mungkin pasti kamu kesal dengan sikap aku. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu Aldrich. " gumam Vanya. Aldrich menggeleng, dia merasa tak terganggu dengan sikap manja dari Vanya.
"Tenanglah sayang, aku akan mencari cara agar bisa menghabiskan waktu bersama kamu! "
"Aku tunggu Al! "
Pria tampan itu juga mengatakan apa yang terjadi semalam pada Vanya. Diam diam Vanya tersenyum miring, dia memiliki celah untuk menghancurkan Stella. Dia ikut penasaran dengan rahasia yang di sembunyikan Stella.
__ADS_1
Vanya tentu saja berpura pura menghibur Aldrich agar tak stress, dia tak ingin menunjukkan ke tidak sukaannya mengenai Stella pada sang kekasih.
"Ya sudah Al, aku langsung pulang saja ya. Jika ketahuan bisa gawat nantinya. " ujar Vanya mengingatkan. Wanita itu menciumnya sekilas lalu membuka pintu dan ke luar dari sana.
Setelah kepergian Vanya, Aldrich bisa merasakan lega. Dia juga lelah harus menyembunyikan hubungan mereka secara sembunyi sembunyi terus menerus.
Tepat pukul sepuluh siang, Aldrich memilih ke luar sebentar. Dia pun mengajak sang asisten ke restauran yang ada di ujung jalan. Rilian pun memperhatikan sang bos dalam diam, dia sedikit ragu dengan apa yang ingin dia tanyakan.
"Ada apa Lian? "
"Aku melihat seorang wanita ke luar dari ruangan Anda tuan, memangnya siapa wanita itu? " tanya Rilian dengan hati hati. Aldrich terdiam, pria itu dalam hati mengumpat kesal dam berusaha menjaga ketenangannya.
"Dia Vanya temanku, tadi dia datang hanya ingin meminta bantuan. " ujar Aldrich. Rilian beroh ria, meski dia masih merasa janggal namun pria tampan itu tak mau bertanya lagi.
Sementara Aldrich bernafas lega, Lian tak bertanya macam macam padanya. Sepertinya dia perlu lebih berhati hati agar tak ada yang mencurigai aku dan Vanya. Pelayan datang membawakan siang untuk mereka. Kedua orang pria itu langsung fokus pada makanan masing masing.
"Sikap Tuan Al sangat aneh setelah kepergian wanita bernama Vanya tadi. Apa mereka memiliki hubungan khusus atau hanya sekedar teman. " batin Rilian dalam hati. Dia memilih mengenyahkan pemikiran konyolnya, dia tak ingin ikut campur dalam urusan pribadi sang atasan.
Dering ponselnya membuat fokus Aldrich teralihkan. Pria itu lantas mengangkatnya, berbicara dengan sang istri dan memberitahu keberadaan dirinya. Tak lama Stella datang menyusul dan bergabung bersama sang suami.
"Aku pesanin makanan ya? " tawar Aldrich pada istrinya. Stella mengangguk. Pelayan datang dan mencatat pesanan Stella, setelah itu pergi dari sana.
Dan tak lama pesanan Stella datang. Ketiganya fokus pada makanan masing masing.
"Sayang aku tadi sempat melihat Vanya, apa dia baru saja dari perusahaan kamu? " tanya Stella penasaran.
Deg
Aldrich terbelalak mendengar pertanyaan istrinya barusan. Rilian sendiri memilih diam dan tak ingin ikut campur.
"Iya tadi, Vanya datang minta tolong untuk mengurus berkas laporan mengenai mantan suaminya. " jawab Aldrich dengan nada sedikit gugup. Stella mengangguk percaya, wanita hamil itu fokus pada makanannya.
__ADS_1
Rilian sendiri pamit, dia kembali ke perusahaan lebih dulu. Dia pun membiarkan pasangan suami istri di depannya berbicara dengan leluasa.