
Damar tampak pusing, tugasnya bertumpuk tumpuk di meja kerjanya. Meski begitu dia tetap mengerjakan tugasnya menggantikan Arta.
Saat ini Damar berdiri di depan kaca sambil menatap lurus ke depan. Dia mencoba menghilangkan rasa jenuh yang dia rasakan saat ini.
Cklek
Pintu terbuka tak lama seorang gadis masuk ke dalam. Dia Kanaya Beatrice membawakan secangkir kopi untuk kekasihnya.
"Tuan, ini aku bawakan kopi spesial untukmu. " ucap Kanaya di sertai senyuman lebarnya. Damar langsung menoleh, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Pria itu berbalik dan melangkah cepat kearah gadis pujaannya.
Keduanya berpelukan, saling melepaskan rindu akibat kesibukan masing masing. Damar melepaskan pelukannya, mencium gadisnya dengan lembut lalu mengajaknya duduk. Dia segera menyesap kopinya sebelum dingin.
Keduanya kini mengobrol santai di sofa. Tangan keduanya saling bersahutan satu sama lain. Kanaya tampak kasihan melihat wajah lelah sang kekasih.
"Selesaikan dulu pekerjaanmu sayang, nanti akan ada reward khusus untuk kamu! "
"Benarkah? " tanya Damar memastikan yang di angguki Kanaya. Pria itu segera kembali ke meja kerjanya, Kanaya berniat membantunya kali ini.
Beberapa jam berlalu
Kanaya naik ke pangkuan sang kekasih, dia mulai melakukan French kiss sebagai hadiah. Damar tentu saja tak akan menyia nyiakan kesempatan emas ini. Tak lama mereka mengakhiri ciuman dengan tak rela.
Damar membenamkan wajahnya di buah persik sang kekasih. Kanaya mengusap kepala kekasih tercintanya. Gadis itu langsung membisikkan sesuatu di telinga Damar.
"Kau menerima lamaranku kemarin sayang? " tanya Damar dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Yeah. Aku Kanaya Beatrice menerima lamaran kamu Damar Kalandra. " ucap Kanaya dengan lugas. Damar tentu saja sangat senang dengan kabar bahagia ini. Dan keduanya tak dapat menyembunyikan rasa bahagia ini. Mereka juga tak sabar menanti pernikahan megah mereka.
Kanaya sudah memikirkan matang matang keputusannya. Damar telah menunggunya selama dua tahun ini. Dia tak ingin membuat sang kekasih terus menunggu hingga akhirnya merasa bosan dan membuat dirinya menyesal. Dan keduanya kembali berciuman dengan mesra.
"Aku bahagia sayang, setelah penantian lama aku akhirnya tak sia sia. " ungkap Damar sambil tersenyum.
"Maaf telah membuat kamu menunggu sayang. " sesalnya sambil menatap lekat wajah sang kekasih.
Tepat jam makan siang Damar mengajak kekasihnya ke luar. Selama di dalam lift, dia tak henti hentinya mencari kesempatan dalam kesempitan. Mereka berdua segera ke luar dari perusahaan, masuk ke dalam mobil.
Damar menyalakan mobilnya dengan kencang menuju ke restauran mewah. Keduanya segera masuk dan memilih tempat yang nyaman. Pria tampan itu segera memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
Tak lama Pelayan menyajikan makanan mereka setelah itu pergi. Kanaya dan Damar makan siang bersama di warnai obrolan random di antara keduanya.
Selesai makan siang, dering ponsel Kanaya menyita perhatian mereka. Gadis itu langsung mengeluarkan benda canggih itu.
"Mami ada di butik sekarang, kalau kamu bersama Damar segeralah ajaklah kemari sayang. " ujar Mami.
"Oke mi, kami ke sana. " Kanaya menutup sambungannya, menaruh ponselnya ke dalam tas. Damar segera memanggil pelayan dan menaruh uangnya. Keduanya langsung pergi dari sana dan menuju ke butik.
Skip
Di butik
Keduanya masing masing mencoba fiting pakaian pengantin. Damar meminta pada calon mertuanya agar pakaian Kanaya tak terlalu terbuka di bagian atas. Mami tentu saja memaklumi sikap posesif dari calon menantunya itu.
Selesai mencoba Damar dan Kanaya pamit pulang duluan. Rencana hari ini mereka akan menghabiskan waktu berdua. Keduanya ke luar dari butik, masuk ke mobil lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Sorenya Damar mengantar Kanaya pulang ke penthouse. Kanaya mengajak calon suaminya untuk mampir yang tentu saja di setujui Damar. Turun dari mobil, keduanya langsung masuk ke dalam. Mereka langsung menyapa papi di ruang tengah.
Kanaya membuatkan Damar mengobrol dengan paling, sementara dirinya pergi ke kamarnya untuk mandi.
"Om, Kanaya sudah setuju untuk menikah dengan saya. Saya meminta restu dari om untuk mengizinkan saya menikahi
Kanaya? " tanya Damar pada calon mertuanya.
"Baiklah om setuju nak, lagipula bukankah kalian sudah fiting baju? " tanya Tuan Keenan. Damar mengangguk samar, kedua pria beda usia itu membahas rencana pernikahan Kanaya dengan Damar.
Damar sendiri merasa lega setelah mendapatkan restu secara nyata dari Papi Keenan, calon mertuanya. Selama ini hubungan keduanya tersandung restu. Dan syukurnya calon mertuanya itu mau menurunkan egonya.
"Jangan pernah sekalipun kamu menampar Kanaya. Jika kelak dia menjadi istrimu, cukup kamu menasehati dia jika dia melakukan kesalahan. " tegur Papi Keenan.
"Iya Om saya mengerti! "
Tak lama Kanaya kembali dan bergabung bersama dua pria yang dia sayangi itu. Kanaya memeluk lengan sang papi, mengatakan Terimakasih telah merestui hubungan dirinya dengan Damar.
"Maafin Kanaya Pi, kalau selama ini Naya selalu buat kesal sama papi! " sesal Kanaya.
"Maafkan papi juga sayang, selama ini papi begitu egois. Papi hanya tak ingin kamu di sakiti seorang laki
laki. " gumam Papi Keenan.
"Iya Pi Naya paham kok. " sahut Kanaya sambil tersenyum.
Damar pun tersenyum tipis, memperhatikan interaksi ayah dan anak di depannya ini. Tak lama Mami datang, membawakan camilan dan minuman untuk mereka.
__ADS_1