My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 39 Ketakutan Stella


__ADS_3

Sementara di Mansion Aldrich, Stella tampak panik saat mendapat pesan teror dari nomor tak di kenal. wanita hamil itu masih saja memikirkan cara untuk menyingkirkan Disha.


"Aduh. " ringisnya sambil menyentuh perut buncitnya saat ini. diapun kembali duduk di sofa, Stella terus mengusap perutnya dengan halus. Aldrich datang, pria itu baru saja ke luar dari ruangan kerjanya.


"Kenapa sayang? " tanya Aldrich panik.


"Sepertinya aku kelelahan. " ujar Stella berbohong. Aldrich langsung mendekat, ikut mengusap perut sang istri dan berusaha menenangkan calon bayinya. Pria itu bernafas lega setelah sang istri merasakan kenyamanan nya. Dia langsung melirik Stella dengan tatapan curiganya.


"Memangnya apa yang kau lakukan, kok bisa kelelahan. Setahu aku kamu kemarin cuma di rumah aja 'kan? " tanya Aldrich. Stella yang di tanya seperti hanya mampu menelan saliva nya kasar. Wanita hamil itu tampak kebingungan memberikan alasan yang tepat untuk suaminya.


"Ya aku kemarin cuma di rumah saja kok sayang, tapi aku sempat ke luar untuk bertemu teman lama. " jawabnya dengan tersenyum di paksakan.


Aldrich menyalakan televisi, dia memindah chanel dan menyaksikan Arta yang tengah konferensi pers. Pria itu membulatkan mata mendapati informasi mengenai Disha. Stella sendiri tampak jelas ketakutan, dalam hati sakit itu mengumpat.


"Jadi saat ini Disha juga tengah hamil anak Arta. " gumam Aldrich dengan perasaan tak karuan mendengarnya.


Arta memang mengumumkan kehamilan sang istri sekaligus mengatakan kejadian kemarin. Bagi siapapun yang bisa menangkap pelaku yang ingin mencelakakan istrinya, dia akan memberinya sejumlah uang.


"Jadi ada yang berniat mencelakai Disha, sepertinya Arta tak main main dengan ucapannya. Terbukti pria itu sengaja mengumumkan kejadian tadi agar banyak pihak yang membantunya. " gumam Aldrich. Stella menghela nafas berat, dia berusaha untuk tenang agar suaminya tak curiga.


"Mungkin saja itu ulah wanita yang tak suka dengan kehadiran Disha di sisi Arta, sayang. " sahut Stella.


"Ya bisa jadi, sepertinya aku perlu membantu Arta. Agar Arta semakin percaya dengan kecerdasan aku. " gumam Aldrich sambil tersenyum licik. Stella membulatkan mata mendengar pernyataan suaminya barusan. Wanita itu tentu saja tak ingin suaminya ikut campur.


"Sayang sebaiknya kamu jangan ikut campur dengan urusan mereka! "


Aldrich menoleh kearah istrinya, pria itu mengerutkan kening tak mengerti. Stella lantas memberikan alasan yang masuk akal namun Aldrich tetap dengan keputusannya. Entah apa tujuan pria itu melakukan hal ini semua.

__ADS_1


Stella hanya mampu mengigit bibirnya, dia takut sekali jika ketahuan. Aldrich langsung bangkit, mencium istrinya sekilas lalu pergi. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Anjani.


"Halo Jani, kau di mana sekarang? " tanya Stella dengan panik.


"Ak.. "


Pyar Terdengar suara benda jatuh dari ujung sana membuat Stella terkejut. Sambungan terputus begitu saja, wanita hamil itu berusaha menghubungi Anjani lagi namun tak terhubung.


Stella tetap berusaha menenangkan dirinya yang panik. beberapa menit berlalu, ponselnya kembali berdering. Dia menghembuskan nafas lega setelah Anjani mengirimi dirinya pesan. Stella meminta gadis itu untuk pindah agar mereka tak ketahuan nantinya.


Wanita itu menaruh ponselnya di atas meja. Dia kembali mengusap perutnya dengan lembut. "Kau harus sehat sehat di dalam perutku, aku masih sangat membutuhkan kamu! "


Tak lama mommy dan daddy datang. Mommy Aliana membawakan buah untuknya, paruh baya itu menyuapi sang menantu. Stella tentu saja menerima suapan dari mertuanya. Mereka mengobrol panjang lebar mengenai kehamilan Stella saat ini.


"Mommy begitu ingin memiliki cucu laki laki Ste, mommy harap calon bayi kamu nanti berjenis kelamin laki laki. " ujar Mommy Aliana dengan tegas.


"Bagaimana kalau besok kita cek kandungan kamu. " ujar mommy yang di angguki oleh Stella. Wanita paruh baya itu bertanya mengenai Aldrich, Stella menjawabnya dengan di tambahi provokasi di dalamnya.


"Nanti mommy akan menegur suami kamu Stella. " ujar Mommy Aliana yang di angguki Stella. diam diam wanita itu tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu ingin membuat kedua mertuanya membenci Disha. Dengan begitu tak akan ada yang tahu siapa pelaku yang hendak meracuni Disha.


Di Kediaman Arta


"Untuk apa kamu datang ke rumah menantu saya. " seru Daddy Arka dengan wajah dinginnya. Pria paruh baya itu mencengkram pakaian Aldrich di sertai sorot mata penuh kebencian.


"Bukankah kamu pria yang telah menghancurkan hidup putriku dulu. " geram Daddy Arka.


"Ya saya orangnya. " ujar Aldrich dengan santai.

__ADS_1


bug


Tuan Arka begitu marah, baru kali ini dia memiliki kesempatan. Dia terus menghahar Aldrich dengan brutal. Disha segera meminta suaminya untuk bertindak. Arta sendiri membiarkan sang mertua meluapkan kemarahannya. Setelah sepuluh menit dia bangkit dan langsung melerai mertuanya.


"Sudah cukup Dad, jangan daddy kotori tangan daddy dengan darahnya. " ujar Arta dengan nada datarnya.


"Wait and see Dad, sebentar lagi kita akan melihat kehancuran Aldrich yang sebenarnya. Namun semuanya perlu berurutan dengan santai. " ujar Arta dengan seringai miringnya.


"Apa maksud kamu Arta. " geram Aldrich yang bangun dari lantai. Doa meringis merasakan sakit pada wajahnya.


"Sebaiknya kau pulang saja Aldrich sebelum aku menambahi memar di wajahmu. " ujar Arta sambil terkekeh. Aldrich mengumpat pelan, dia pergi dari sana dengan wajah kesalnya.


Pria tampan itu kembali bersantai di samping istri tercintanya. Dia mengusap perut sang istri sambil menjahili Disha. Wanita hamil itu tentu saja jengkel dengan kelakuan suaminya ini. Tuan Arka hanya tertawa melihat kelakuan anak dan menantunya.


Disha memeluk sang suami. Dia begitu bahagia memiliki keluarga yang begitu sayang padanya. Arta mengulas senyumnya, melihat istrinya bahagia tentu saja ikut bahagia.


"Semoga kelak calon baby kita kuat dan tegar seperti kamu sayang. " bisik Arta yang di amin kan oleh Disha. Dering ponsel milik Arta menyita perhatian mereka. Pria itu langsung melepaskan pelukannya. Dia mengeluarkan ponselnya lalu berbicara dengan Clayton.


"Jangan biarkan wanita itu lolos Clay, semuanya harus berjalan sesuai skenario! "


"Baik Tuan. "


Tut Arta menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Dia hanya tersenyum saat sang istri bertanya padanya. Tuan Arka tentu saja percaya pada sang menantu. Dia menyerahkan semuanya pada Arta, Arta pasti bisa mengatasi semuanya.


Disha menghela nafas berat. Dia berdoa semoga apa yang di rencanakan suaminya berjalan dengan lancar. Wanita itu kembali mengusap perutnya, mencari ketenangan dengan mengobrol dengan calon bayinya.


Arta sendiri kini mengobrol santai dengan sang mertua. Obrolan keduanya terdengar random membuat suasana menjadi hangat. Disha sendiri hanya diam mendengarkan, dia pun hanya sekali menanggapinya.

__ADS_1


Mommy datang membawakan puding untuk Disha. Mereka semua menikmati dengan diringi obrolan ringan.


__ADS_2