
Setelah mendapatkan restu, Damar tentu saja segera menyiapkan persiapan pernikahannya dengan sang pujaan hati. Pria itu juga telah menghubungi sang atasan atas kabar bahagia ini. Arta ikut bahagia dengan rencana Damar yang akan menikah, namun dia tak bisa datang ke acara Damar.
Damar sendiri tak masalah, dia paham dengan keadaan yang terjadi pada tuan dan nyonya bosnya. Namun pria itu tampak galau di apartemen, dia di larang bertemu dengan Kanaya sampai hari pernikahan mereka nanti.
"Rasanya sangat bosan. " keluh Damar. Namun dia memilih pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
Tiba di Kantor, Damar bergegas menaiki salah satu lift untuk menuju ke ruangan Arta. Pria itu begitu giat meski lelah mendera tubuhnya. Dia langsung masuk ke ruangan sang boss, segera duduk dan mengerjakan pekerjaannya.
Sementara di sisi lain Kanaya kini berada di Cafe bersama salah satu temannya. Keduanya tampak sangat akrab satu sama lain.
"Kau sudah sangat yakin ingin menikah dengan Damar, Nay? " tanya Sekar memastikan.
"Sudah, lagipula hubungan kami sudah terjalin dua tahun dan aku tak ingin membuat Damar terus terusan menunggu. " gumam Kanaya dengan mantap. Sekar turut senang mendengar keputusan sahabatnya. Dia kembali menyesap cappucino latte miliknya.
__ADS_1
"Mengenai persiapan, mami yang mengurus semuanya. " cetus Kanaya dengan santai.
"Well, aku jadi bridesmaid, siapa tahu di pestamu nanti aku menemukan jodohku. " sahut Sekar tergelak. Kanaya menanggapinya dengan tawa, dia tetap mengaminkan harapan sang sahabat itu.
Kanaya segera menyesap macha lattenya hingga habis. Dia menaruh uang di atas meja kemudian memanggil pelayan. Keduanya langsung ke luar dari cafe. Gadis itu melajukan roda empatnya, memilih pergi ke mall untuk berbelanja.
Di mall
Mereka langsung berjalan menuju ke toko pakaian wanita. Sekar membantu sang sahabat untuk membeli berbagai jenis lingerie. Kanaya merasa malu, dia belum menikah dengan Damar namun sudah membeli dress transparan.
Keduanya buru buru memilih setelah itu membawanya ke kasir. Kanaya membayar belanjaan mereka, setelah itu membawanya ke luar dan menaruh ke dalam mobil. Kanaya mengantar sahabatnya pulang setelah itu baru kembali ke mansion.
Skip
__ADS_1
Kanaya turun dari mobil, segera masuk ke dalam sambil menenteng banyak paperbag. Gadis itu menyapa orang tuanya sebentar setelah itu melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua.
Dia telah menaruh barang barangnya di atas kursi. Kanaya segera pergi ke kamar mandi, sepertinya dia perlu berendam saat ini.
Kanaya merasa rileks setelah tubuhnya berendam dalam air yang di beri aroma terapi. Dia merasa sangat gugup, beberapa hari lagi dirinya akan menikah dengan pria yang dia cintai.
Setelah tiga puluh menit dia lantas ke luar mengenakan jubah mandi. Gadis itu langsung memakai piyama, kemudian duduk di atas ranjang sambil menggenggam ponsel miliknya. Merasa bosan Kanaya memilih bangkit, ke luar dari kamar dan turun ke bawah.
"Mami, Papi. " sapa Kanaya yang duduk berhadapan dengan orang tuanya.
"Gimana sayang, apa kamu gugup saat ini? " tanya mami pada putrinya itu.
__ADS_1
"Iya Mi, enggak nyangka aja tak lama lagi aku akan menikah dengan Damar! " ungkapnya dengan senyuman lebarnya.
Mami memberikan nasehat untuk sang anak itu. Kanaya tentu saja menanggapinya dengan senyuman, dia selalu mengingat nasehat dari kedua orang tuanya. Ketiganya mengobrol membahas persiapan pernikahan Kanaya dengan Damar.