My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 21 Undangan pernikahan


__ADS_3

Sore harinya sepulang dari kantor Arta lebih dulu membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Pria itu langsung turun ke bawah bergabung bersama istri dan sang mommy.


Dia memperkenalkan dirinya pada sang mertua dan menyapanya dengan ramah. Ayah Arka bisa menilai jika Arta pria yang benar benar pantas untuk putrinya.


"Bahagiakan putriku ya nak, gantikan Ayah menjaganya dan memberi kasih sayang yang melimpah untuk Disha. Ayah sendiri telah gagal menjadi panutan untuk putriku sendiri. " gumam ayah Arka sambil tersenyum.


"Aku janji akan menjaga Disha dengan baik. " ucap Arta dengan sungguh sungguh.


"Ayah pegang janjimu nak. " sahut Ayah Arkana dengan santai.


Arta bernafas lega setelah mendapatkan restu dari mertuanya. Disha mengulas senyumnya melihat kedekatan suami dan ayahnya.


"Ayah mau istirahat. " ucap Ayah. Arta langsung bangkit dan mengantarkan mertuanya menuju ke kamar tamu. Di dalam kamar kedua pria itu berbicara dengan serius, entah apa yang di bicarakan ayah mertua dan menantu itu.


Pria paruh baya itu menepuk pundak menantunya dengan pelan. Dia telah mengetahui siapa lelaki yang menghancurkan kehidupan putrinya. Arta telah memberitahu perihal Aldrich, Ayah Arka tentu saja tak akan tinggal diam.


Selesai bicara Arta ke luar dari kamar mertuanya lalu kembali bergabung bersama istrinya. Ternyata undangan pernikahan mereka telah selesai di cetak. Petugas WO datang mengantarkan undangan, selain itu mereka membicarakan konsep pernikahan.


"Mom, aku dan mas Arta mau mengantar undangan ke teman sebentar ya. " pamit Disha pada mertuanya.


"Baiklah kalian hati hati ya sayang dan segeralah kembali. " tegur mommy. Disha mengangguk, dia lantas bersiap lebih dulu. Beberapa menit berlalu dia kembali dan mengajak suaminya setelah mengambil beberapa undangan.


Suami istri itu masuk ke dalam mobil, sopir datang dan mengantarkan mereka. Disha tak sabar melihat bagaimana reaksi dari Aldrich dan lainnya nanti. Arta melirik kearah istrinya yang tampak tersenyum senyum sendiri.


"Kenapa sayang, kau senang bertemu pria itu hm? " tanya Arta dengan nada datarnya. Disha menoleh, menatap kesal suaminya yang bebricara sembarangan.


"Ih bukan mas, aku hanya tak sabar menanti reaksi terkejut keluarga Darvis nantinya. " ucap Disha sungguh sungguh.

__ADS_1


Arta langsung nyengir, dia membujuk istrinya agar tak marah. pria itu panik jika istrinya akan merajuk, berakhir dirinya tak mendapatkan jatahnya nanti malam.


Dasar pria sekali bermain terus kebablasan hingga tak mau kelewatan satu hari.


Disha langsung luluh setelah mendapat bujuk rayu suaminya. Wanita itu bersandar di bahu Arta dengan nyaman.


Beberapa menit berlalu mereka akhirnya sampai di kediaman Darvis. Setelah sopir memarkirkan mobil, pasangan suami istri langsung turun dan mengetuk pintu. Pelayan datang membukakan pintu untuk keduanya.


"Kalian, untuk apa kalian ke sini? " suara keras memenuhi ruangan tamu.


Rahang Aldrich tampak mengeras melihat kehadiran Disha dengan Arta. Stella dan kedua mertuanya datang, mereka bergabung bersama Aldrich di sana.


"Seperti inikah Anda menyambut tamu yang datang Tuan Aldrich? " tanya Arta dengan wajah datarnya.


"Maafkan suami saya Tuan, Aldrich lagi ada masalah makanya lepas kendali. " sahut Stella dengan senyuman manisnya.


Disha mengeluarkan kartu undangan lalu menyodorkannya pada Aldrich. Wanita itu menaruhnya di atas meja, Stella mengambilnya langsung. Dia membulatkan mata membaca undangan pesta pernikahan Disha.


"Sebenarnya kami telah menikah tapi mertua saya mewujudkan pernikahan mewah untuk saya dan mas Arta. " ungkapnya.


"Aku harap kalian hadir di acara kamu dua hari lagi. " ucap Disha dengan senyuman manisnya. Aldrich tersenyum muak melihat senyuman yang di pancarkan Disha.


Diam diam Aldrich mengepalkan kedua tangannya. Ada rasa panas dalam dadanya melihat hubungan Disha dengan Arta yang begitu mesra. Dia juga tak menyukai saat bagaimana Arta memperlakukan Disha dengan sangat lembut.


"Haha Tuan Arta sangat di sayangkan sekali kenapa Anda justru memilih wanita yang telah kehilangan kesuciannya seperti Disha? " ucap Aldrich dengan nada pedasnya.


Arta mengepalkan tangannya, Disha mengelus lengan sang suami agar tenang. Pria itu menghembuskan nafas berat, lalu kembali menatap lurus kearah rivalnya dengan sorot tajam.

__ADS_1


"Istriku kehilangan hartanya bukan karena keinginannya. Lagipula apa bedanya masih suci atau tidak, lagipula aku mencintai Disha dengan tulus. Oh ya tuan Aldrich yang terhormat, saya telah mendapatkan hak saya sebagai suami dan tak lama lagi akan mendapatkan cinta Disha. " ujarnya pamer dengan senyuman tengilnya.


"Apa yang di ucapkan suami saya benar Tuan Aldrich, aku beruntung memiliki pria yang memiliki hati seluas lautan seperti mas Arta. " balas Disha dengan tatapan berkaca kaca melirik suaminya.


"Dan saya ingatkan pada Anda tuan, tak perlu mengingatkan apa yang terjadi pada saya. Hal yang berhubungan dengan diri saya bukan urusan Anda lagi. " tegas Disha.


Stella tersenyum mencemoh akan ucapan sombong dari Disha. Disha melirik kearahnya dengan datar lalu memalingkan wajahnya. Arta langsung menggenggam tangan istrinya dengan erat.


Aldrich telah kehilangan kata katanya. Tuan James mengalihkan obrolan supaya suasana tak lagi tegang. Tatapan Disha dan Aldrich kini bertemu, pria itu hanya melihat kebencian di kedua mata Disha saat ini. Ada rasa asing dalam dirinya, marah dan kecewa atas apa yang di lihat dirinya saat ini.


Disha begitu lembut berbicara dengan Arta namun sebaliknya saat berbicara dengan dirinya. Hanya ada sikap dingin, datar, tegas, kuat dan penuh kebencian.


"Om, Tante kami permisi dulu. " ucap Disha dengan sopan. Arta dan Disha meninggalkan kediaman Darvis. Aldrich sendiri langsung pergi ke kamarnya begitu saja.


Duakh


"Kenapa kamu memilih dia Sha, kenapa. " gumam Aldrich setengah berteriak. Pria itu merasakan sesak di dadanya setiap kali melihat Disha bermesraan dengan Arta.


"Sial, kenapa dengan diriku. Rasanya sangat menyakitkan melihat dia bersama pria lain. " batin Aldrich.


Tubuhnya luruh ke lantai, Aldrich mengusap wajahnya dengan kasar. Tangannya terkepal kuat, dia berusaha menampik dengan rasa yang kini dia tengah rasakan. Pria itu mengabaikan gedoran dari luar, Aldrich saat ini butuh menenangkan dirinya sendiri.


Tiba tiba ucapan sang Daddy tempo hari terngiang dalam kepalanya. Nasi telah menjadi bubur. Dia tak bisa mengulang apa yang telah terjadi sekarang. Dia telah memilih Stella, yang artinya Aldrich perlu menghapus Disha dari pikiran nya.


"Kau bisa melupakan aku dengan mudah, begitu pula dengan aku Disha. " gumam Aldrich.


Pria itu berusaha mengontrol dirinya saat ini. Ucapan Arta tiba tiba terngiang, Aldrich hanya bisa mengumpat kasar. Rasa panas dalam dirinya kembali membara, cemburu. Mungkinkah dia cemburu pada Disha yang memilih bersama Arta.

__ADS_1


"Aku gak mungkin cemburu 'kan. Wanita itu bisa besar kepala jika aku cemburu padanya. " ungkap Aldrich dengan panik. Pria itu berjuang untuk menghapus rasa cemburunya. Dia pun tak ingin menyakiti hati istri tercintanya Stella.


__ADS_2