
Belasan tahun kemudian
Seorang pria gagah tampak begitu tegas dalam memimpin perusahaan. Pria itu Dewa Alvares Darvis, putra dari Aldrich dan Liora.
tok
tok
"Masuk! "
Seorang gadis manis memasuki ruangan Dewa. Dewa menoleh, bibir nya melengkung membentuk senyuman tipisnya.
"Kau datang sendiri ke sini manis? " tanya Dewa dengan seringai miring nya.
"Iya dan ini aku terpaksa. " ketus gadis itu. Dewa terkekeh pelan, menerima berkas yang di bawakan gadis pujaannya. Pria itu menarik tangan gadisnya lalu membawanya duduk ke atas pangkuan.
Gadis itu bernama Jennie Agatha Prasasti. Keduanya memang teman masa kecil sekaligus tetangga. Jennie berusaha bangkit namun Dewa tak membiarkan gadis nya pergi.
Pria tampan itu menghirup aroma manis yang tercium dari tubuh gadis pujaannya.
"Kak Dewa lepasin aku, aku harus pulang. Kekasihku sudah menunggu aku sekarang. " ceplos Jennie.
Dewa mengetatkan rahangnya mendengar pengakuan Jennie. Pria itu berusaha menahan emosinya yang hampir meledak. Pada akhirnya dia melepaskan pelukannya, Jennie segera berdiri dan menjauh.
"Aku pulang dulu. " Jennie ke luar dari ruangan kerja Dewa. Sepeninggal gadis manis itu, Dewa mengamuk dan mengumpat.
Jennie telah pulang ke rumah. Gadis itu langsung menemui sang kekasih yang tengah mengobrol dengan orang tuanya.
"Sudah ketemunya sama Dewa? " tanya Mami Sera pada putrinya.
__ADS_1
"Sudah Mi. " jawab Jennie.
Wanita paruh baya itu mengangguk. dia kembali mengobrol dengan calon menantunya. Keduanya membahas rencana pernikahan. Jennie sendiri hanya diam sambil memperhatikan interaksi kekasihnya.
"Mami sebaiknya jangan terlalu buru buru untuk menentukan pernikahan aku dan Mike! "
"Memangnya kenapa sayang, lagipula kalau sudah menikah 'kan lebih enak kalau mau melakukan sesuatu. " sahut mami Sera.
Jennie meyakinkan kedua orang tuanya. Setelah itu dia mengajak kekasihnya ke luar dan berbicara di luar. Di luar sana kedua sejoli itu berdebat, Jennie berusaha meyakinkan Mike namun Mike tampak kesal dan pergi begitu saja.
"Mike." panggilnya namun tak di hiraukan Mike.
Brum
Mobil milik Mike melaju kencang meninggalkan mansion Jennie. Jennie menghela nafas panjang, menatap sendu kepergian sang kekasih.
Gadis itu memilih kembali ke dalam menemui orang tuanya di ruang tamu. Mami Sera memperhatikan raut cemberut anak gadisnya.
"Iya, tak seharusnya mami buru buru membahas perihal pernikahan. " protes Jennie pada sang mami.
"Mami hanya tak ingin kamu di permainkan Mike, sayang. Kamu lihat 'kan dia hanya diam dan mengelak saat mami membahas perihal pernikahan kamu dan dia? " cecar Mami yang membuat Jennie bungkam.
Papi turut memberikan nasehatnya pada sang anak. Jennie kembali di buat kesal saat kedua orang tuanya justru membandingkan kekasihnya dengan Dewa, tetangga rese nya.
Gadis itu lantas bangkit, menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan orang tuanya. Mami dan Papi hanya menggeleng melihat kelakuan Jennie barusan.
Cklek
__ADS_1
Jennie melempar ponselnya ke ranjang. Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Dia berjalan mendekati ranjang kemudian duduk di sana, meraih ponselnya yang dia lempar barusan.
Dia berusaha mengirim pesan atau menghubungi nomor sang kekasih namun tak mendapat balasan.
"Mike benar benar marah sama
aku. " gumam Jennie. Gadis itu
tampak frustrasi, dia merasa gara gara Dewa dirinya di musuhi oleh sang kekasih.
Sore harinya gadis itu ke luar dari kamar setelah mengganti pakaian. Sahabatnya telah menunggu, Jennie lekas berpamitan pada mami dan papinya.
"Sayang, kau tak mau ajak Dewa? " tawar Mami pada putrinya.
"Tidak! " Jennie lekas menarik sang sahabat pergi setelah pamit. Dia pun membiarkan Tiara yang menyetir. Sepanjang perjalanan, Tiara berusaha menghibur sahabatnya yang tengah galau.
Jennie mengeluhkan akan sikap Mike yang marah hanya karena
perihal rencana pernikahan. Tiara diam diam tersenyum, entah apa maksud dari senyum yang di tunjukkan gadis itu secara diam diam.
"Ya sudah kenapa kamu tidak putuskan saja hubunganmu dengan Mike, Jen? " ceplos Jennie.
"No, aku sudah bersusah payah mengejar dan berjuang demi Mike. Aku tak mungkin begitu saja mengakhiri hubungan kami. " ungkapnya.
Tiara tak lagi bicara. Tak lama mereka akhirnya sampai di toko buku. Keduanya lekas turun dan masuk kedalam. Jennie fokus mencari buku yang dia inginkan tanpa memperhatikan sahabatnya.
Tiara sendiri tengah asyik berkirim pesan dengan seseorang, sesekali melirik kearah Jennie dan kembali fokus dengan ponselnya.
Beberapa menit berlalu Jennie segera membawa bukunya ke kasir dan membayarnya. Setelah selesai keduanya me luar dan melanjutkan obrolan mereka.
__ADS_1
"Ra, andaikan kamu punya kekasih, kita bisa double date dengan pasangan masing masing. " cetus Jennie.
"Ya kamu benar. " sahut Tiara dengan senyuman penuh arti. Gadis itu kembali fokus pada jalanan. Keheningan melanda keduanya, Jennie memilih asyik memutar lagu galau.