
Vanya yang tampak marah tanpa sengaja bertubrukan dengan seorang wanita. Dia begitu kecewa akan penolakan Arta padanya.
"Sialan, apa mata kamu buta nona? " umpat Vanya pada wanita di hadapannya ini. Wanita yang du tabraknya tak lain Stella. Dia pun mengambil belanjaannya yang terjatuh berserakan.
Stella menatap lekat wanita di depannya ini kemudian tersenyum miring.
"Apa kau yang bernama Vanya? " tanya Stella memastikan.
"Ya tentu saja, memangnya apa? " ketus Vanya. Stella langsung memperkenalkan dirinya lalu mengajak Vanya masuk ke mobil. Janda cantik itu mengikuti perintah Stella.
Skip
Kini keduanya mengobrol di sebuah Cafe. Vanya menunggu apa yang ingin di bicarakan Stella padanya. Wanita itu mengajaknya berteman, dia juga menawarinya tempat
tinggal.
"Aku memiliki musuh, bisakah kau membantuku Vanya? " tanya Stella.
"Imbalan apa yang aku dapat nantinya? " ujar Vanya berbalik bertanya.
"Uang dan tempat tinggal. " ujar Stella dengan mantap. Vanya menimbang tawaran kerja sama yang di lontar 'kan Stella padanya. pesanan kopi mereka datang, keduanya sibuk menyesap kopi masing masing.
Setelah selesai Stella membayarnya, dia mengajak Vanya pergi dari sana. Sepanjang perjalanan keduanya terus mengobrol satu sama lain.
Skip
Di mansion Aldrich
Kedua wanita itu langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Siang itu Stella langsung mengenalkan suaminya pada Vanya. Vanya cukup tertegun melihat sosok pria tampan seperti Aldrich ini.
Aldrich sendiri kembali ke ruangan kerjanya. Fokus Vanya kembali pada Stella yang tengah menjelaskan di mana kamarnya saat ini. Dia pun mengucapkan terimakasih pada Stella setelah itu pergi ke kamar tamu.
Cklek
__ADS_1
"Bukankah Stella nanti akan pulang besok lusa karena urusan mendadak. Aku sebaiknya meminta tolong pada Aldrich, siapa tahu dia mau membantuku. " gumam Vanya dengan senyuman miring.
Wanita itu lantas masuk ke dalam kamar mandi. Aldrich sendiri pun menghampiri Vanya sambil membawakan makanan. Terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi membuat otak Aldrich bertraveling ria.
Pria itu tentu saja segera melepaskan pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Vanya terkejut, Aldrich langsung masuk ke dalam jakuzzi.
"Tuan Al, bagaimana kalau Stella melihat kita sini? " tanya Vanya panik.
"Istriku tak akan kembali, aku sudah memastikan kepergiannya yang tampak buru buru. " ungkap Aldrich sambil memainkan squishy milik Vanya.
Dan tak lama terdengar suara erangan dari dalam sana. Mansion terasa sepi karena para pelayan berada di paviliun sebelah.
Selesai bermain keduanya segera membersihkan diri lalu berpakaian. Aldrich sendiri merasa tak tahan jika melihat ada wanita seksi di dekatnya. Wanita itu kini duduk di paha pria yang telah memuaskan dirinya ini.
Vanya POV
Tanpa aku goda, Aldrich telah lebih dulu tergoda padaku. Sepertinya aku bisa berlindung dari kejaran pria sialan itu. Selain itu aku bisa berhubungan dengan Aldrich secara diam diam tanpa sepengetahuan Stella. Untuk Arta, aku akan membalas perbuatan mereka terutama Disha yang merendahkan aku.
Cup
"Aku pastikan kebutuhan kamu akan terpenuhi Vanya. " ungkap Aldrich dengan sungguh sungguh.
"Terimakasih sayang! " Vanya pun mencium singkat bibir kekasihnya. Lalu dia memeluk tubuh Aldrich, pria tampan itu mengeratkan pelukannya.
Vanya turun dari pangkuan sang kekasih. Wanita itu mengajakmya berenang dan tentunya Aldrich mengiyakan permintaan Vanya.
Byur
Vanya asyik berenang dengan santai. Aldrich menyusulnya, membawa wanitanya ke sudut kolam. Keduanya memilih berenang di kolam yang ada di dalam ruangan belakang.
"Suamiku menceraikan aku, aku tentu saja senang karena bisa terbebas dari keluarga toxic seperti mereka. " ungkap Vanya menjelaskan kehidupannya selama dua tahun bersama mantan suami.
Aldrich pun merasa iba dengan kehidupan sulit yang di jalani Vanya. Dia mengusap punggung terbuka wanitanya. Vanya merapatkan tubuhnya pada sang kekasih hati.
__ADS_1
Dia menoleh, Vanya merasakan nyaman saat berada di dekat Aldrich. Wanita itu merasa jika Aldrich pria yang bisa di anaknya berbagi cerita satu sama lain.
Aldrich sendiri mengenggam tangan Vanya, menciuminya berulang kali. "Sekarang kamu tak lagi sendirian Vanya, aku akan selalu berada di sisimu. " gumam Aldrich.
"Lalu bagaimana dengan Stella, Al. Jika dia tahu hubungan kita dia pasti akan menghabisiku nanti. " ungkap Vanya dengan nada khawatirnya.
"Jangan takut, aku akan melindungi kamu sayang. " ucap Aldrich dengan serius. Vanya mengangguk, membenamkan wajahnya di dada bidang Aldrich.
Wanita itu menjauhkan wajahnya, mereka kembali berciuman dengan liar dan panas. Keduanya tampak gila melakukan percintaan panas di dalam kolam. Selesai berbagi peluh Aldrich langsung naik ke atas dan menggendong wanitanya menuju ke kamar.
Selesai berpakaian Vanya segera membersihkan diri dan membereskan ranjangnya yang berantakan. Dia menyentuh lehernya yang di penuhi tanda merah oleh Aldrich. "Aku sangat suka dengan sentuhannya. " gumam Vanya sambil tersenyum lebar.
Dia pun masih bisa merasakan bagaimana saat Aldrich menyentuhnya dengan liar, panas dan brutal. Vanya segera menyisir rambutnya setelah itu ke luar dari kamar. Wanita itu lantas pergi ke dapur, membuatkan makanan untuk dirinya dan Aldrich.
Selesai masak Vanya langsung menghampiri Aldrich dan mengajaknya makan siang bersama. Kini keduanya makan di meja makan dengan posisi begitu mesra. Vanya tampak tak canggung menyuapi Aldrich.
"Ternyata masakan kamu enak. " ungkap Aldrich dengan senyuman di bibir.
"Bagaimana dengan masakan
Stella? " tanya Vanya memancing.
"Dia tak pernah mau memasak, Stella memilih menyuruh pelayan atau gofood. " balas Aldrich. Vanya mengangguk, terus menyuapi Aldrich bergantian dengan dirinya hingga makanan habis.
Vanya merasa dirinya lebih unggul dari Stella. Sepertinya Aldrich mulai kagum padanya, hal itu tentu saja tak akan dia sia siakan. Dia akan terus mencuri kesempatan mengambil hati Aldrich hingga pria itu jatuh sejatuhnya dalam pesona dirinya.
Aldrich menatap dalam wanita yang kini dia peluk saat ini. dering ponsel menyita perhatian mereka, pria itu lantas mengeluarkan benda canggih itu. Dia sempat memberi kode pada Vanya untuk diam.
"Halo Stella sayang, ada apa? " tanya Aldrich dengan lembut.
"Aku sudah di luar kota sayang, sepertinya satu minggu ke depan aku bakal jarang pulang. " sesal Stella pada sang suami.
"Aku enggak papa baby, fokuslah pada pekerjaan kamu. " Keduanya terus mengobrol dengan santai. Setelah beberapa menit Stella memutus sambungannya. Aldrich tersenyum miring pada Vanya, menyimpan ponselnya dalam saku.
__ADS_1
Vanya kembali menciumi wajah Aldrich dengan senyuman bahagianya. Selama satu minggu ke depan, dia akan banyak menghabiskan waktu dengan Aldrich. Aldrich sendiri tentu saja senang, dengan begini dia bisa bersenang senang dengan Vanya.