
Sepanjang hari Bi Ismi berusaha menguatkan sang keponakan agar tak berbuat nekat. Disha sendiri terus menerus menyalahkan janin dalam kandungannya ini.
"Ya Tuhan, sadarkan 'lah Disha, janin dalam perutnya sama sekali tak bersalah. " batin Bi Ismi miris. Wanita paruh baya itu lekas bangkit meninggalkan Disha sendirian, dia memilih menemui dokter Arta.
Tak lama dokter tampan itu datang, raut wajahnya tampak prihatin melihat kerapuhan Disha. Pria gagah itu langsung mendekatinya, berlutut di depan Disha.
"Berhentilah menyalahkan bayi dalam kandunganmu Disha. " ucap Arta dengan lembut.
"Gara gara bayi ini dan pria brengsek itu membuat hidupku kian hancur. " pekik Disha dengan histeris. Wanita hamil itu memukul perutnya dengan membabi buta, Arta kembali berdiri dan mencekal tangannya.
"Hentikan Disha. " bentak Eza terbawa emosi akan kelakuan Disha barusan. Disha kembali menangis histeris, ARta menghela nafas panjang. Pria itu berusaha menenangkan pasiennya ini, dia telah mendengar apa yang terjadi pada Disha hingga seperti ini.
Arta membawanya ke dalam dekapan, dia ikut merasakan nyeri melihat kerapuhan Disha. Disha sendiri belum mampu menerima kenyataan pahit yang dia terima serta bayi dalam kandungannya saat ini. Wanita cantik itu sering menyalahkan diri, menganggap dirinya pembawa sial seperti ucapan sayang ayah selama ini padanya.
Arta langsung menggendongnya, membawanya ke dalam mobil. Setelah itu menemui bibi Ismi dan Hazel untuk bersiap siap. Setelah berkemas, mereka berdua masuk ke dalam mobil milik ARta.
"Rencananya saya akan membawa Disha pergi dari negara ini, selain itu saya akan menutup aksesnya agar tak ada yang tahu. " ujar Arta.
"Iya Dokter terimakasih telah mau membantu sahabat aku. " ujar Hazel sambil menghapus air matanya. Arta melajukan roda empatnya, meninggalkan kampung tempat dia melakukan magang.
Bibi mengusap lembut pipi tirus sang keponakan. Hatinya hancur melihat keadaan Disha yang menyedihkan seperti ini. Dia berharap di tempat baru nanti, keponakan ini akan bisa menerima semua keadaan yang terjadi.
Eza Artanza Akhtar merupakan seorang dokter terkenal spesialis kandungan. Pria itu telah menjalani profesinya hampir lima tahun lamanya.
Tiba di Bandara, mereka semua segera turun dari mobil. Arta telah mengurus semuanya dengan cepat, setelah check in penerbangan mereka langsung masuk ke dalam. Pria itu membaringkan Disha di atas ranjang, di temani bi Ismi.
Arta sendiri kini memilih duduk dengan tenang sambil membuka majalahnya. Hazel mendekat, pria itu mengobrol dengannya mengenai asal usul Disha. Gadis itu mengatakan apa yang dia ketahui mengenai Disha. Eza sendiri telah menghubungi sopir untuk menjemputnya di bandara negara K.
Setelah menempuh beberapa jam, mereka akhirnya turun dari pesawat. Disha hanya diam saat Arta memintanya masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu melesat kencang, tak ada obrolan di antara mereka.
__ADS_1
Di Villa
Mereka semua langsung turun dan masuk ke dalam, Arta meminta pelayan mengantarkan Hazel dan Bi Ismi menuju ke kamar masing masing. Arta sendiri mengajak Disha menuju ke kamar yang akan di tempati gadis itu.
Cklek
Keduanya masuk ke dalam kamar, Arta merangkul bahunya dengan hati hati.
"Bagaimana dengan kamarnya, apa kau suka Disha? " tanya Arta dengan lembut.
"Aku ingin pergi lepaskan aku. " Disha kembali memberontak, Arta menekan bahu wanita hamil di depannya ini.
"Kau mau ke mana, mengugurkan kandunganmu. Apa dengan cara bejat seperti itu, kehidupanmu akan kembali seperti awal? " ujar Arta dengan sinis. Pria itu juga menyadarkan Disha agar berhenti menyalahkan bayi dalam kandungan wanita itu.
Disha menangis tergugu, ucapan Arta begitu menampar dirinya. Tubuh wanita itu langsung lemas, Arta menopangnya kemudian membawanya ke atas ranjang. Pria itu terus memberikan nasehat untuknya, Disha sendiri berusaha menutup telinganya.
"Hentikan, aku bilang hentikan. Sampai kapanpun aku tak akan pernah mau mengakui janin dalam perutku ini. " teriak Disha dengan histeris.
"Aku tahu kau begitu hancur dengan kenyataan yang kamu terima akibat pria yang menodaimu. Tapi janin dalam perutmu tak bersalah Disha,dia tak pantas mendapatkan cacian dan makian darimu. " gumam Arta. Dia memutuskan ke luar dari kamar Disha dan bergegas menuju ke kamarnya.
Disha tampak kebingungan menatap sekitarnya yang tampak penuh dengan bunga. Wanita cantik itu terus berjalan ke depan, hingga pandangannya terjatuh pada seorang wanita paruh baya.
"Ibu. " gumam Disha dengan lirih.
"Kemari 'lah nak. " jawab wanita itu dengan lembut. Disha langsung berlari kearah ibunya, gadis itu memeluk erat tubuh sang ibu.
"Bawa aku bersamamu Bu, aku tak sanggup dengan kenyataan pahit
ini. " gumam Disha dengan lirih. Ibu Harnita melepaskan pelukannya, menghapus air mata sang anak.
__ADS_1
"Belum waktunya nak. Apa yang terjadi pada kamu sudah menjadi takdirmu sayang, janin dalam perutmu tak bersalah sama sekali. " ujar Ibu Harnita.
Disha mengeleng, wanita itu menangis dan kembali menyalahkan janin dalam perutnya. Sang ibu berusaha memberi nasehat padanya agar berhenti menyalahkan janin dalam perut Disha.
"Percayalah sayang, setelah badai ini berlalu akan ada pelangi setelah nya. Asalkan kamu bersabar menghadapi ujian hidup ini. "
Disha terus menangis, mencerna nasehat yang ibunya ucapkan. Setelah putrinya tenang, Ibu Harnita mencium kening sang anak, memberi dukungan jika dirinya begitu menyayangi nya. Seketika jiwanya menghilang seiring angin meniupnya.
"Ibu hiks, ibu jangan tinggalin Disha bu. " pekik Disha.
Hah
Disha membuka matanya, menatap sekelilingnya. Wanita hamil itu teringat nasehat sang ibu, dia langsung menyentuh perutnya. "Maafin mama nak, maaf. Maaf karena mama terus menerus mencaci maki kamu sayang. " gumam Disha dengan penyesalan terdalam.
Wanita hamil itu memilih turun dan pergi ke kamar mandi. Beberapa saat berlalu dia selesai membersihkan diri, segera memakai dress yang tersedia di dalam ruang ganti.
Cklek
Arta masuk ke dalam, membawakan makanan dan susu ibu hamil. Dia tampak terkejut melihat Disha yang terlihat manis dengan penampilan rapihnya. Wanita hamil itu bangkit, kembali duduk di atas ranjang.
"Kamu sudah bangun Disha? "
"Iya pak dokter, maaf karena aku banyak merepotkan kamu pak. " ujar Disha dengan canggung.
"Aku belum menikah ya, sebaiknya panggil saja aku dengan sebutan nama. Eza Artanza Aktair." ujar Arta secara gamblang.
Arta langsung memintanya untuk makan, pria itu memilih menyuapi Disha. Disha merasa canggung melihat Arta begitu memperhatikan dirinya. Wanita hamil itu menerima suapan demi suapan hingga terakhir, Disha juga meminum susunya hingga tandas.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang, kamu enggak berniat menguburkan janin kamu 'kan? " tebak Arta.
__ADS_1
"Enggak mas, aku sudah sadar jika tak seharusnya aku menyalahkan janin dalam perutku. " ungkap Disha penuh penyesalan. Arta bernafas lega mendengarnya, setidaknya Disha telah sadar dari kesalahannya itu.