My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 16 Pengakuan Arta


__ADS_3

Hari berikutnya


Arta mengajak Disha pergi ke kantor. Pria itu mengenalkan Disha pada semua karyawannya mengenai status mereka.


"Disha adalah calon istriku, kalian harus menghormatinya. " tegas Arta sambil menggenggam tangan Disha. setelah itu dia menarik wanitanya menuju ke dalam lift. Keduanya ke luar saat sudah berada di lantai tiga.



Disha menatap sekeliling interior ruangan milik Arta. Wanita itu tampak terkesan dengan dekorasi ruangan Arta.


"Ruangan kamu cukup bagus. " puji Disha sambil tersenyum. Wanita itu berjalan lurus hingga menempel ke kaca, menyaksikan pemandangan dari atas lantai tiga.


Arta berjalan menghampiri Disha, memeluknya dari belakang sambil menikmati pemandangan. Disha tertegun, menyentuh tangan Arta yang memeluk pinggang rampingnya.


Tok


tok


Arta mengumpat pelan, pria itu melepaskan pelukannya. Disha terkekeh pelan, wanita itu lantas duduk di sofa. Asisten Damar datang membawakan berkas untuk Arta. Arta kini telah duduk di kursi kerjanya dengan gagah.


"Damar, dia adalah Disha calon istriku. Kau cari bodyguard untuk mengawalnya ke manapun. " ujar Arta dengan tegas.


"Akhirnya Tuan tak lama lagi akan menikah, jadi anda tak perlu marah marah pada saya Tuan. " ujar Damar sambil nyengir kala tatapan tajam Arta tertuju padanya.


"Ini berkas kerja sama dengan perusahaan Darvis Corp. " ujar Damar setelah itu pamit namun sebelumnya dia menjelaskan jika pihak Darvis Corp mengajak Arta bertemu.


Setelah Damar ke luar, Arta segera memeriksa dokumen yang di bawakan asistennya itu. Seringai terbit di sudut bibirnya, entah apa yang akan dia rencanakan saat ini.


Disha sendiri kini berbalas pesan dengan Eden. Wanita ini tampak terkejut dengan informasi yang di berikan sepupunya ini. dia telah menganggap Eden seperti saudaranya sendiri. Lalu dia menyimpan ponselnya dalam tas, fokusnya kini tertuju pada Arta yang masih sibuk.


"Sha nanti ikut aku ya? " tanya Arta menatap kearah Disha.


"Ke mana memang? "

__ADS_1


"Bertemu klien, kamu harus menyiapkan mental nantinya. " ucap Arta dengan senyuman penuh makna.


Disha menaikkan sebelah alisnya, menatap Arta dengan kening berkerut. Wanita itu mengangguk tanpa bertanya lagi.


Tepat pukul sepuluh siang Arta dan Disha ke luar dari perusahaan. Asisten Damar kali ini yang menyetir, sesekali melriik kearah belakang melalui spion. Arta dan Disha asyik mengobrol, pria tampan itu sering menggoda Disha.


"Nasib jomblo. " gumam Damar pelan dan kembali fokus ke depan.


Skip di Restauran


mereka turun dari mobil, bergegas masuk ke dalam Restauran. Mereka menemui Aldrich dan asistennya. Aldrich terkejut melihat sosok Disha begitu juga sebelumnya. Arta menggenggam tangan calon istrinya yang di balas Disha.


"Selamat siang Tuan Aldrich, maaf membuat Anda menunggu. Calon suami saya ini sedang sibuk, mari silakan duduk. " ucap Disha dengan sopan.


Arta menarik kursi membiarkan Disha duduk. Aldrich sendiri kini terdiam, sorot matanya tertuju kearah Disha. Kedua pria itu kini membahas bisnis, proyek yang akan Arta dan Aldrich kerjakan.


Aldrich memanggil pelayan, mereka langsung memesan pesanan masing masing. Setelah pelayan pergi mereka kembali mengobrol dengan santai.


"Setelah pergi dariku, kau ternyata menggoda pria lain. Sepertinya caramu berhasil hingga tuan Arta tergoda ada wanita hamil


Disha justru terkekeh pelan mendengar sindiran pedas dari Aldrich. Arta sendiri hanya diam, mengawasi keduanya terutama Disha.


"Apa kau tidak lihat Tuan, apa aku seperti wanita hamil? "


Aldrich melihat penampilan Disha dan fokusnya pada perut Disha yang tampak rata. Pria itu mengepalkan tangannya, entah kenapa dia tak suka jika melihat Disha berubah seperti sekarang.


"Tak ada lagi bagian dirimu lagi Tuan Aldrich, mungkin Tuhan mengabulkan permohonanku. Benih yang kau tanam di dalam sini akibat ulah bejatmu telah tiada. " ungkap Disha dengan seringai miringnya.


Aldrich dan asistennya terkejut mendengar pengakuan Disha barusan. Pria itu berusaha menahan emosinya terhadap Disha yang telah mempermalukan dirinya. Arta langsung merangkul bahu calon istrinya, berupaya menenangkan Disha.


Wanita cantik itu segera menoleh, tersenyum manis pada Arta. "Aku enggak papa mas, aku bisa menghadapi situasi ini. " ujarnya dengan lembut.


"Aku harap proyek kita ini berjalan lancar Tuan Aldrich. " ujar Arta sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Aku juga berharap seperti itu. " ungkap Aldrich sambil membalas jabatan tangan Arta lalu melepaskannya. Dan pelayan datang membawakan pesanan mereka. Kini mereka makan siang bersama, Disha dengan sengaja menyuapi Arta tanpa merasa malu sama sekali.


Arta menerima suapan demi suapan dari calon istrinya. Aldrich yang melihatnya membelo jengah, dia segera menghabiskan makannya lalu pamit pergi. Damar sendiri memilih menunggu di luar, membiarkan sepasang kekasih yang tengah bucin.


Selesai makan Arta dan Disha ke luar setelah bayar. Mereka segera masuk ke dalam mobil, Damar melajukan roda empatnya dengan kencang.


Arta dan Disha langsung pulang ke mansion. Pria itu sengaja membawa Disha dan menandatangi buku pernikahan.


"Kalian resmi menjadi suami istri, Tuan, Nyonya. " ucap petugas. Setelah selesai mereka langsung di antar Damar pulang.


Skip


Mansion


"Oh astaga mas, bukannya kamu menunggu aku menerima kamu tapi kamu diam diam menyiapkan semuanya. " protes Disha.


"Hehe now we are husband and Wife. " ujar Arta dengan seringai miringnya. Disha berdecak pelan, wanita itu langsung mengejar pria yang menjadi suaminya ini. Arta tertawa penuh kemenangan, dia berhasil menjadikan Disha istrinya. Kini tinggal menyiapkan pesta yang mewah dan mengumumkan status mereka.


Disha yang lelah langsung masuk ke kamarnya. Perempuan itu memilih berendam, setelah menuangkan aroma lavender di dalam jakuzzi. Setelah tiga puluh menit Disha baru ke luar, perempuan itu segera mengambil dress santai nya.


Tok


Tok


Disha dengan malas langsung bangkit, membuka pintu kamarnya. Arymta berdiri di depan pintu kamarnya, menyerahkan paperbag untuk Disha.


"Aku akan tidur di kamar sebelah Disha, ini sebuah lingerie. Pakai ini saat kamu sudah siap dan menerima aku sebagai suami kamu! "


Disha tertegun, dia menerima paperbag berisi lingerie itu. Arta melabuhkan kecupan di keningnya lalu berlalu pergi dari sana. Wanita cantik itu membawanya masuk ke dalam. Disha menaruh paperbag itu di atas meja riasnya.


Dia memilih duduk di atas ranjang sambil memegang ponselnya. Disha masih saja terkejut dengan statusnya yang kini menjadi istri dari Arta. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir Disha. Dia teringat akan kebaikan Arta selama ini kadang, Disha juga bisa merasakan. cinta yang besar yang di tunjukkan Arta padanya selama ini.


Disha POV

__ADS_1


Mas Arta telah banyak membantuku selama ini. Dia terlihat sangat tulus dan serius memberikan perhatian padaku. Dan sekarang aku telah menjadi istrinya, hanya saja aku merasa rendah jika bersanding dengan pria sebaik seperti Mas Arta.


__ADS_2