My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 48 Kesempatan Aldrich


__ADS_3

Sore harinya Disha di suruh pulang ke rumah. Wanita itu tampak lesu berjalan memasuki mansion sang suami. Disha lebih dulu pergi ke kamarnya, membersihkan diri di kamar mandi.


Satu jam berlalu Disha ke luar dan segera mengenakan pakaian. Hazel masuk ke dalam, menyerahkan si kecil Alfred pada sahabatnya.


Disha segera menyusui putra kecilnya. Wanita itu menatap sang anak dengan tatapan sendu. Hazel yang melihatnya turut sedih dengan apa yang di alami Disha saat ini.


"Kau harus kuat Sha, Alfred masih butuh kamu. Percayalah Arta pasti akan segera sadar dan berkumpul dengan kamu dan si kecil. " ucap Hazel dengan lembut. Disha hanya diam saja, dia membenahi kancing bagian atasnya setelah putranya selesai meminum asi.


Wanita cantik itu menciumi wajah sang anak. Dia berusaha tegar, putra kecilnya masih membutuhkan dirinya saat ini ini. "Kita doakan ya sayang, semoga Daddy kamu segera sadar secepatnya. " gumam Disha dengan nada lirihnya.


Si kecil Alfred kini memperhatikannya Disha bangkit, menaruh putranya ke dalam box bayi. Dia kembali duduk di ranjang, Hazel mendekat dan langsung memeluk sang sahabat.


"Kamu mandi sana. " ujar Hazel setelah pelukan mereka terlepas. Disha mengangguk, wanita itu bangkit dan pergi ke kamar mandi. Hazel sendiri memastikan keponakan tampan nya tidur nyenyak lalu ke luar dari sana dan memanggil pengasuh si kecil Alfred.


Beberapa menit berlalu Disha selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dia buru buru menguncir rambutnya kemudian mengambil ponsel.


"Halo mommy? " sapa Disha pada sang mommy.


"Bagaimana perkembangan mas Arta mom? " tanya Disha lirih.


"Masih sama saja sayang, kamu doakan saja semoga Arta lekas sadar nak. " timpal mommy.


"Iya mommy. " Disha mengakhiri sambungannya. Dia lantas kecewa mendengar kondisi suaminya masih tetap sama. Wanita itu menaruh ponselnya di atas ranjang.


Hot mommy itu kini kembali memperhatikan putranya yang terlelap dalam box bayi. Mata Disha berkaca kaca, dia begitu merindukan tawa dan kejahilan suaminya.


Disha memilih ke luar dari kamar membiarkan sang pengasuh menjaga bayinya. Perempuan itu menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang tengah.


"Untuk apa kau datang ke sini? " ujar Disha dengan wajah datar nya.


"Aku dengar suami kamu kecelakaan Sha, makanya aku kesini. " ucap Aldrich dengan wajah tenangnya. Pria itu lekas bangkit, menghampiri Disha namun Disha menghindarinya.

__ADS_1


Eden tentu saja berusaha menghalangi pria gila di depannya ini. Dia tak akan membiarkan siapapun menganggu sepupunya itu.


"Semenjak kau hadir dalam kehidupanku Al, kesialan selalu datang menghampiriku apa kau sadar itu? " ujar Disha dengan nada sarkasnya. Aldrch sama sekali tak peduli dengan ucapan pedas Disha.


"Tinggalkan saja Arta, kembalilah padaku Sha. Aku dan Stella telah bercerai kemarin. " pinta Aldrich.


Bugh


bugh


Eden meninju wajah Aldrich dengan keras. Lalu pria itu menyeret Aldrich ke luar dari sana. Eden meminta dua bodyguard untuk melarang Aldrich masuk ke dalam mansion Arta.


Aldrich sendiri tak akan menyerah begitu saja. Dia akan terus berusaha merayu Disha hingga wanita itu jatuh kepelukannya.


"Kali ini kau memang menolakku Disha, namun tidak dengan lain kali. Aku tak akan membiarkan kamu lepas begitu saja. " gumam Aldrich. Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang.


Disha sendiri menangis tergugu. Sampai kapanpun dia tak akan meninggalkan suaminya. Dia hanya mencintai satu orang pria yaitu Eza Artanza Akhtar. Wanita itu memilih kembali ke kamar, dia menghampiri putra kecilnya.


Disha POV


"Ya Tuhan, sampai kapan aku menahannya sendirian. Kembalikan suamiku, hanya dia tempat bersandarku saat ini. " gumam Disha sambil memohon.


Kepingan masa lalu saat Arta membuat dirinya bangkit, tiba tiba berputar dalam memorinya. Tubuh Disha luruh ke lantai, tangisan nya kembali pecah di sana.


Bruk


Disha jatuh tak sadarkan diri di sana. Mbak Naya yang melihatnya langsung memanggil Hazel dan Eden, dia menghampiri majikannya itu.


"Disha. " Hazel membiarkan Eden menggendong sepupunya. Pria itu membaringkan sang sepupu ke atas ranjang setelah itu ke luar dari sana. Hazel mengusap wajahnya, menatap sendu sahabatnya yang tak sadarkan diri.


Dia menyentuh dahi Disha, Hazel langsung panik seketika. Gadis itu buru buru menghubungi sang dokter agar datang.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Disha. Hazel sendiri begitu khawatir dengan keadaan sang sahabat.


"Ini obat pereda demam nona, berikan ini pada nyonya Disha setelah dia sadar nanti. " ujar Dokter.


"Terimakasih dokter. " jawab Hazel menerima obatnya. Dokter langsung pamit ke luar, Hazel sendiri segera mengambilkan segelas air putih dan membawanya kembali ke kamar.


Sore harinya


Hazel membantu Disha meminum obatnya, setelah sang sahabat menghabiskan makanannya. Gadis itu terus mengomel agar sang sahabat menjaga kesehatan. Disha sendiri hanya diam tak mengatakan apa apa.


"Kamu istirahat aja Sha. " ucap Hazel.


Gadis itu langsung ke luar sambil membawa nampan berisi piring kotor. Disha kini bersandar di headboard sambil menatap cincin dalam jari manisnya. Lagi lagi dia menangis dalam diam, Disha merindukan sosok suaminya yang tak kunjung bangun.


"Apa kamu benci sama aku mas, hingga kamu enggan membuka mata kamu. " gumam Disha dengan pilu.


"Apa kau juga tak merindukan Alfred, putra kita rindu kamu mas Arta! " ungkap Disha dengan mata kembali berkaca kaca. Wanita itu hanya tak ingin kehilangan suami tercintanya.


Disha memilih berbaring di atas ranjang. Wanita itu memejamkan mata sejenak agar pusing dalam kepalanya menghilang.


oek suara tangisan Alfred membuat Disha kembali terbangun. Wanita itu lantas bangun dari ranjangnya, dia menghampiri box bayi. Wanita cantik itu langsung menggendong sang anak, membawanya ke atas ranjang.


"Maafin mommy sayang, mommy terlalu memikirkan daddy kamu hingga kamu terabaikan. " sesal Disha sambil mengusap pipi putranya.


Disha menaruh bantal di sisi samping sang anak. Wanita itu berbaring menyamping sambil memperhatikan Alfred yang kembali berceloteh ala khas bayi. Kehadiran putranya bisa menghibur hatinya. Dia pun menggenggam tangan mungil sang anak lalu menciumnya berulang kali.


Disha bersenandung kecil sambil menatap sang anak. Tangan mungil Alfred menepuk pipi Disha membuat wanita itu tersenyum tipis. Sepertinya sang anak ingin mengajaknya bermain.


"Mau main sama mommy ya sayang, tunggu daddy bangun dulu ya lalu kita main sama sama. " gumam Disha sambil tersenyum tipis. Wanita itu menyentuh dahinya sendiri yang tak lagi panas. Dia mulai membuka kancing daster nya, kemudian Alfred langsung menyesap sumber makanannya.


"Makan yang banyak sayang agar kamu cepat besar nantinya! " ucap Disha penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2