My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 58 Perubahan diri Aldrich


__ADS_3

Tiga tahun kemudian


Seorang pria berdiri di dekat kolam renang. Hidupnya selama ini tampak suram, tak ada gairah dalam kehidupan seorang Aldrich Reid Darvis. Dia baru sembuh dari penyakitnya yang berbahaya, Aldrich di sarankan menjaga pola makannya, serta hindari minuman beralkohol dan bermain wanita sembarangan.


"Al. " panggil nyonya Nyonya Aliana pada putranya.


Pria yang di panggil hanya diam saja. Wanita paruh baya itu lantas mendekati sang anak. Dia langsung menepuk bahu sang anak membuat Aldrich menoleh kearahnya.


"Kau juga perlu membuka hati dengan wanita lain Al? " ucap Mommy dengan nada pelannya.


"Apa ada mom, selama ini aku selalu mempermainkan wanita sesuka hatiku dan aku menyesalinya. " gumam Aldrich dengan pandangan lurus ke depan.


"Kau juga pantas mendapatkan kesempatan kedua nak. Nyatanya Tuhan memberikan kesehatan untukmu setelah kamu menderita penyakit. " sahut mommy dengan bijak.


"Akan aku pikirkan mommy. " Aldrich berlalu pergi dari hadapan sang mommy. Dia memilih ke luar dari Villa, kini dia telah berjuang keras memulai segalanya dari nol berkat dukungan kedua orang tuanya.


Aldrich meninggalkan villa milik orang tuanya, pria itu memilih berkeliling memutari negara K. Ternyata dia pergi ke salah satu panti asuhan Permata hati. Sebelumnya dia membelikan banyak mainan di toko mainan. Pria itu langsung turun dari mobilnya, segera mengeluarkan mainan yang dia beli.


Aldrich berjalan menghampiri anak anak yang bermain. Dia membagikan mainan secara rata pada anak anak di sana. Tanpa dia sadari aksinya itu di perhatikan seorang wanita.


Wanita itu berjalan kearahnya, berterimakasih atas kebaikan yang di berikan Aldrich.


"Terimakasih telah membuat anak anak di sini bahagia Tuan. " ujar wanita itu dengan senyuman manisnya.


"Sama sama, kenalkan saya


Aldrich. " sapa pria itu dengan sopan.


"Liora. " jawabnya singkat.


"Bunda. " Liora menoleh, wanita itu merentangkan tangan melihat putrinya telah pulang. Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan satu sama lain.


Liora melepaskan pelukannya, dia langsung mengenalkan putri kecilnya pada Aldrich. Dia langsung mengajak nya duduk di teras.

__ADS_1


"Nama kamu siapa cantik? " tanya Aldrich pada gadis cilik di hadapannya.


"Nelly om. " jawab Nelly dengan polos. Gadis itu merentangkan tangan, Aldrich langsung mengangkatnya. Dia membawa Nelly ke pangkuannya. Liora tentu saja menegur putrinya namun Aldrich tak mempermasalahkannya.


Liora menghela nafas panjang, dia melihat tawa lepas yang di perlihatkan putrinya. Dadanya berdenyut nyeri, sosok putri kecilnya masih membutuhkan figur seorang ayah.


"Maafin Bunda sayang, bunda tak bisa memberikan sosok figur ayah untuk kamu. " gumam Liora dengan nada penuh penyesalan.


"Li, apa boleh aku mengajak Nelly jalan jalan? " tanya Aldrich dengan lembut.


"Boleh, asalkan pulangnya jangan terlalu sore. " jawab Liora.


Aldrich langsung bangkit sambil menggendong si kecil Nelly. Liora mencium putrinya, lalu melambaikan tangan.


Wanita itu berharap putrinya akan selalu bahagia meski tanpa ada figur sosok ayah. Ibu Rina datang menghampirinya, berbicara dengan raut putrinya itu.


"Sepertinya Nelly dekat dan nyaman dengan nak Aldrich, Li! " ujar Ibu Rina menyampaikan pendapatnya.


"Apa kau tidak berniat mencari pasangan Liora? " tanya Bu Rina dengan lembut. Liora menghela nafas pelan mendengar pertanyaan barusan.


"Ya sudah kalau memang ini terbaik untuk kamu dan Nelly, Ibu tak akan memaksa nak. " pungkasnya sambil tersenyum. Liora langsung menepuk sang ibu dengan erat.


Di sisi lain Aldrich mengajak Nelly pergi ke taman bermain. Raut pria itu kembali ceria setelah mendapati bocah cantik yang menemaninya saat ini. Nelly mampu membuat dirinya terhibur dengan kepolosan bocah cantik itu. Aldrich kini memperhatikan Nelly yang asyik bermain perosotan.


"Nelly sangat cantik, lucu dan menggemaskan. " gumam Aldrich.


Merasa bosan Nelly memilih bermain wahana lain. Aldrich diam diam membuat video untuk merekam kegiatan Nelly.


Selain bermain di taman bermain, mereka juga pergi membeli es krim. Aldrich juga mengajak Nelly berbelanja di mall.


Menjelang sore Aldrich langsung mengantarkan Nelly pulang. Keduanya masuk ke dalam rumah panti asuhan. Pria itu menyerahkan barang barang Nelly pada Liora. Liora pasrah menerimanya, dia menyimpannya di kamar Nelly.


Tak lama Liora datang membawakan kopi untuk Aldrich. Dia sangat tahu jika tamu nya ini terlihat kelelahan.

__ADS_1


"Silakan di minum kopinya Al. " ujar Liora dengan nada tak formalnya.


"Terimakasih! " jawab Aldrich dengan tulus. Liora mengangguk, Nelly memilih pergi ke kamar dan menemui sang nenek.


Keduanya mengobrol dengan santai. Liora meminta Aldrich untuk tak selalu memberikan apa yang di minta Nelly.


"Aku hanya tak ingin Nelly kelak menjadi manja Al. " ungkap Liora dengan nada halusnya.


"Tapi dia juga perlu memiliki apa yang di miliki anak anak lain, Liora. " sahut Aldrich.


Liora menghembuskan nafas panjang. Kali ini dia memilih mengalah, malas berdebat dengan Aldrich. Aldrich tersenyum sumringah, dia akan membuat Nelly bahagia.


Pria itu menanyakan perihal di mana suami Liora. Wanita itu menjawab apa adanya tanpa di tutupi apapun. Aldrich tentu saja terkejut dengan kenyataan yang dia dengar.


"Kau wanita luar biasa Liora, aku tak menyangka jika kamu begitu tangguh menghadapi semuanya sendirian. " ungkap Aldrich dengan pujiannya.


"Aku bisa bertahan seperti sekarang karena Nelly, dia belahan jiwaku yang sangat berharga Al! " sahut Liora dengan senyuman lebarnya.


Aldrich merasa kagum dengan keteguhan yang di miliki Liora. Dia merasa rendah terhadap wanita di hadapannya saat ini. Pria yang akan memiliki Liora kelak pasti akan menjadi pria paling beruntung di dunia.


"Hey kenapa kamu melamun Al? " tanya Liora lembut. Aldrich tersadar dari lamunannya, dia tersenyum canggung di depan Liora. Pria itu kembali menyesap kopinya dengan santai.


Beberapa saat berlalu Nelly kembali, gadis itu tampak wangi dan cantik. Dia bergabung bersama sang bunda dan uncle tampannya.


"Bunda, kapan Nelly bisa bertemu Ayah? " cetus Nelly dengan muka polosnya. Suasana berubah hening, Liora melirik kearah Aldrich begitu juga sebaliknya.


"Selama ini Nelly tak pernah melihat wajah ayah sejak Nelly bayi Bunda. " gumam Nelly lirih.


"Princess kemari lah. " Nelly menoleh, gadis itu mendekati Aldrich. Aldrich mengusap kepala Nelly dengan lembut.


"Nelly boleh panggil uncle dengan sebutan Ayah. " ungkap Aldrich dengan senyuman lebarnya.


"Benarkah uncle? " tanya Nelly memastikan. Aldrich mengangguk, Nelly memekik senang dan langsung memeluk Aldrich. Liora yang melihatnya diam diam menitikkan air matanya, tak kuasa melihat sang anak yang menanyakan perihal sang ayah.

__ADS_1


"Maafin Bunda sayang, Bunda tak sanggup mengatakan kebenarannya mengenai ayah kamu. " batin Liora dalam hati. Liora menghela nafas panjang,mengusap air matanya dengan cepat.


__ADS_2