My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 6 Kegilaan Aldrich


__ADS_3

Kaburnya Disha membuat Aldrich marah besar, dia kecewa karena Disha tak mau mendengarkan penjelasan dirinya.


"Sudahlah mom, biarkan dia pergi. Lagipula tawaran tanggung jawab yang aku berikan untuknya di tolak mentah mentah." ujar Aldrich dengan nada datarnya.


"Aldrich. " teriak mommy dengan keras, dia tak menyangka putranya akan menjadi pria brengsek seperti ini. Aldrich sendiri bangkit, menatap wajah wanita yang melahirkan dirinya dengan tajam.


"Aku bukan orang yang sabar untuk membujuk wanita, lagipula wanita bagiku seperti baju bisa berganti sesuka hati, lagipula aku tak akan kekurangan wanita mom. " cetusnya. Pria itu langsung pergi begitu saja dari hadapan orang tuanya.


Nyonya Aliana mengusap dadanya mendengar ucapan gila sang anak. Dia tak menyangka jika Aldrich akan begitu kejam seperti ini,dia berharap putranya tak akan menyesal nantinya.


Di dalam kamar, Aldrich membuka pakaiannya. Dia langsung melesat pergi ke kamar mandi. Tiga puluh menit berlalu dia ke luar, segera mengenakan celana panjang nya tanpa atasan. Dia mengambil ponselnya, melihat pesan masuk dari Stella.


"Oke tunggu aku di Club. "


Pria itu mengusap wajahnya kasar,ia akan menganggap apa yang terjadi di antara dirinya dan Disha tak ada apapun yang terjadi. Lagi lagi terdengar suara umpatan ke luar dari bibir seksinya, tak lama seringai terbit di sudut bibir Aldrich.


"Well kita lihat sampai kapan wanita hina itu akan bertahan di tempat persembunyiannya. Aku sangat yakin dia pasti akan kembali dan meminta uang padaku. " gumam Aldrich penuh percaya diri.


Aldrich langsung bangkit, dia ke luar dari kamarnya setelah menyambar dompet dan juga kunci mobil. Pria itu melesat pergi begitu saja mengabaikan teriakan sang mommy. Melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke penthouse miliknya.


Di Penthouse


Aldrich langsung masuk ke dalam,pergi ke ruangan bar. Di sana dia minum wine sendirian, entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini. Seorang pria datang, menepuk pundaknya. Dia Lucas Anderson, sahabat dari Aldrich.


"Apa yang membuatmu mabuk mabukan seperti ini Al? " tanya Lucas penasaran.


"Aku menghamili seorang wanita hingga dia hamil. " ucapnya frontal menjelaskan masalahnya.

__ADS_1


"Lo emang brengshake Al, aku harap kau tak akan menyesal nanti saat wanita itu bertemu dengan pria yang jauh lebih baik darimu. " umpat Lucas dengan sinis.


"Memangnya aku peduli Luc, aku sudah berusaha namun dia terus menerus menolakku hanya karena masa lalu ku. " cetus Aldrich dengan sinisnya.


Prak


Lucas tak menyangka sahabatnya ini benar benar pria sialan, dia langsung mengumpati kasar kelakuan Aldrich yang bodoh. Aldrich sendiri kembali meminum Vodka tanpa mempedulikan ocehan Lucas.


"Wanita rendahan itu hanya sok jual mahal padaku, aku yakin tak lama lagi dia pasti akan kembali dan memohon padaku, Lucas. Dia sama seperti wanita lainnya yang menyukai sentuhanku. " ucap Aldrich dengan seringai liciknya.


Lucas sendiri kehilangan kata kata mendengar ucapan pedas dari Aldrich. Pria tampan dengan rambut pirangnya itu mengusap wajahnya kasar.


Bug


Lucas melayangkan tinjuannya ke wajah Aldrich, dia ingin menyadarkan sahabat iblis nya ini. Aldrich terkekeh pelan, mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Kenapa kamu justru marah, Lucas. apa kau penasaran dengannya. ambilah dia, wanita bekasku dan aku sangat yakin tak akan ada pria yang menginginkannya nanti! "


Cih


Aldrich langsung bangun, pria itu ke luar dari sana dan memilih pergi ke kamarnya. Pria itu mengobati wajahnya terlebih dulu setelah itu membersihkan dirinya. Kini dia tak peduli lagi dengan Disha, dan semua hal yang berhubungan dengan wanita itu termasuk janin di perut Disha.


"Tak ada satu wanita yang mampu menolak sentuhanku, mereka justru berlomba lomba ingin menjadi partner ranjangku. " gumamnya dengan penuh kesombongan.


Dan tepat pukul tujuh malam, Aldrich telah rapi mengenakan jaketnya. Dia mengambil dompet dan kunci mobilnya. Pria itu ke luar dari mansion, melesat kencang menuju ke Club Rock Star malam ini.


Tiba di sana Aldrich segera masuk ke dalam, berkumpul dengan teman satu gengnya. Stella datang, wanita itu langsung duduk di pangkuannya. Keduanya saling bercumbu di sana sambil menikmati wine di tangan masing masing.

__ADS_1


Obrolan mereka tampak seru, rencananya mereka semua akan mengadakan party di sebuah hotel besok malam.


"Bolehkah aku datang baby? " tanya Stella sambil menciumi Adrich.


"Tentu, kedatanganmu 'lah yang aku tunggu Ste. " ujarnya sambil tersenyum. Mereka kembali berciuman dengan mesra, Aldrich begitu menikmati kehidupan bebasnay tanpa terikat apapun. Dia tak memikirkan resiko ke depannya nanti, Aldrich hanya memikirkan kesenangan sesaat.


"Siapa wanita kemarin itu Honey? " tanya Stella lagi.


"Hah dia wanita yang aku nodai, dia meminta pertanggung jawaban padaku serta memintaku untuk menikahinya. Tentu saja aku menolak, lagipula aku tak ingin terikat dengan pernikahan. " jelas Aldrich dengan santai.


Stella tentu saja mendukung keputusan Aldrich, dia sangat mengerti dengan keinginan kekasihnya ini. Keduanya terus membicarakan Disha, Aldrich terus mencemohnya dan menganggap Disha hanya wanita kampung yang tak tahu diri.


Stella turun dari pangkuan Aldrich, dia mengajak sang kekasih ke tengah. Mereka kini asyik berjoget sambil berciuman. Aldrich begitu bergairah saat bersama Stella, berbeda saat bersama Disha yang pasif.


Larut malam mereka ke luar dari club, masuk ke mobil dan Aldrich melajukan roda empatnya menuju ke hotel. Keduanya turun, dia langsung check in dan menyeret kekasihnya menuju ke kamar setelah mendapatkan kuncinya.


"Kau harus memuaskan aku Stella. " gumam Aldrich.


"Tentu saja sayang. " balas Stella dengan tatapan nakalnya. Keduanya saling melepaskan pakaian, Stella mendorongnya ke ranjang dan memulai percintaan panas mereka.


Suara erangan terus menggema di dalam kamar yang di tempati Adrian bersama Stella. Hingga ronde ke empat, Adrian mengakhiri percintaan panas. Pria itu mendekapnya dari samping, kembali menciumnya dengan liar dan panas.


Huh


"Seperti biasa, kau tak pernah mengecewakan aku Stella. " ungkap Aldrich dengan seringainya. Stella tentu saja bangga akan membantumu pujian dari kekasihnya ini.


Dia merasa tak salah jika dirinya masih menginginkan Aldrich untuk kepentingannya sendiri. Well sekarang Aldrich miliknya seorang, dia tak akan membiarkan siapapun merebutnya.

__ADS_1


"Kau sangat puas honey? " Stella memperhatikan Aldrich dengan lekat, Aldrich mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Sangat, kita sebaiknya istirahat lebih dulu setelah itu lanjutkan besok. " Aldrich menciumnya sebentar, mengeratkan pelukannya kemudian memejamkan matanya. Hal yang sama di lakukan oleh Stella, setelah wanita itu menghubung seseorang. Entah siapa yang wanita hubungi tadi secara diam diam.


__ADS_2