
"Maaf Tuan, saya harus mengatakan hal ini. " ujar Dokter dengan tatapan menyesalnya.
Deg
Aldrich tampak was was mendengar peringatan sang dokter. Hal yang sama kini juga di rasakan orang tuanya.
"Karena stres dan kelelahan yang berlebihan membuat calon bayi dalam perut nyonya Stella tak bisa bertahan. " ungkap Dokter menjelaskan apa yang terjadi pada pasien nya.
"Saat ini kami menunggu tanda tangan persetujuan untuk mengeluarkan calon bayi Anda
tuan. " seru dokter.
Mata Aldrich tampak berkaca kaca mendapati kenyataan pahit ini. Dengan perasaan hancur dia menandatangani surat persetujuan. Setelah selesai dokter segera melakukan tindakan operasi.
Tubuhnya luruh ke lantai, pria itu langsung menangis. Nyonya Aliana sendiri menangis dalam pelukan suaminya. Aldrich memukul dadanya yang terasa sesak. Dia merasakan dejavu saat Disha dulu mengandung calon anaknya lalu keguguran.
"Kenapa, kenapa semua ini terjadi padaku lagi. " gumam Aldrich sambil menangis.
Beberapa jam kemudian
Lampu berubah merah, dokter ke luar setelah selesai operasi. Dia memberitahu jika operasinya berjalan lancar. Dan kini Stella akan di pindahkan ruangannya. Aldrich bangkit di bantu oleh sang daddy. Mereka semua langsung melihat calon bayinya yang tiada setelah itu menjenguk Stella.
Aldrich masuk ke dalam ruangan sang istri. Raut wajah pria itu menunjukkan kesedihan, kemarahan sekaligus kekecewaan. Dia pun mengusap wajahnya dengan kasar.
Beberapa menit berlalu Stella membuka matanya perlahan. Wanita itu menatap sekelilingnya yang berbau obat obatan. Dia menunduk, menyentuh perutnya yang rata membuatnya panik.
"Calon anakku. " gumam Stella berusaha bangun. Dia menatap lurus kearah suaminya yang diam saja sejak tadi.
__ADS_1
"Sayang perut aku, calon anak kita baik baik saja 'kan? " tanya Stella sambil tersenyum.
"Calon anak kita meninggal Ste. " ungkap Aldrich. Stella menggeleng, tentu saja dia tak percaya. Aldrich langsung mengungkapkan apa yang di jelaskan dokter padanya.
"Tidak. " teriak Stella histeris. wanita itu menangis tergugu, harapannya langsung musnah seiring kepergian calon anaknya. Bukan ini yang dia harapkan, dia masih membutuhkan calon anak itu untuk bertahan.
Aldrich tentu saja marah pada istrinya. dia merasa Stella tak becus menjaga diri hingga mereka kehilangan calon anak mereka. Stella berusaha meraih tangan sang suami namun Aldrich menepisnya dengan kasar.
Stella tentu saja terkejut dengan sikap suaminya barusan. Raut wajah Aldrich berubah datar, dia tampak menunjukkan kemarahan di wajahnya.
"Sudah aku bilang kamu tetap di mansion jangan ke luar tanpa seizin aku tapi kamu keras kepala Stella. " geram Aldrich emosi.
"Tapi aku ke luar hanya sebentar Al, aku hanya pergi ke tempat mall. " jawab Stella tak mau di salahkan.
"Dan lihat sekarang, kita kehilangan calon anak kita. Anak yang aku sudah harapkan awal pernikahan kita. Ini semua karena kebodohan kamu Stella. " umpat Aldrich kesal.
Stella sendiri menangis tergugu sendirian di dalam ruangan. Dia merasa sangat sial setelah Aldrich mengetahui siapa Dean.
Aldrich melewati orang tuanya begitu saja. Pria itu masuk ke mobil dan melesat kencang meninggalkan area rumah sakit. Dia memukul setir mobil nya sambil mengumpat kasar. Aldrich tiba tiba menepikan mobilnya, dia kembali menangis meratapi kepergian calon anaknya.
Tiba tiba ingatan nya yang lalu berputar. Semua perbuatan kejinya pada Disha. Kini dia menyesal, bagaimana bisa dulu begitu angkuh hingga merendahkan Disha dengan hina.
Aldrich mengusap wajahnya kasar. Dering ponselnya menyita perhatian nya. Pria itu lantas mengeluarkan benda canggih itu dari saku celana.
"Halo. " sapa Aldrich.
"Maaf tuan Aldrich, saya Anton. Proyek yang kita kerjakan yang terkendala dalam biaya tuan. " ujar Anton.
__ADS_1
"Apa maksudnya? "
"Dana berjumlah beberapa triliun telah di korupsi salah satu pekerja dan.di bawa kabur tuan. " ungkap Anton dengan jelas. Aldrich membulatkan mata mendengar penjelasan Anton barusan.
Aldrich meminta Anton untuk mencari pekerja yang kabur itu. Dia menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Dia semakin stres menghadapi masalah proyeknya yang gagal. Teringat Arta, Aldrich tak bisa membayangkan bagaimana kemarahan dari rivalnya itu nanti.
"Hari ini benar benar hari yang sial untukku. " gumam Aldrich kesal sekaligus emosi. Pria itu kembali melajukan roda empatnya menuju ke tempat proyek.
Tiba di sana Aldrich langsung mengamuk atas apa yang terjadi. Bagaimana bisa uang bernilai triliun itu di bawa kabur oleh salah satu pekerja. Aldrich kembali menghubungi orang suruhannya untuk mencari pria bernama Doni.
"Ah sialan. " umpatnya emosi. Dia langsung menghampiri Tuan Ardi yang berada di sana. Keduanya mengobrol membahas proyek yang gagal ini. Tuan Ardi juga ternyata telah menghubungi Arta tentu saja hal itu membuat Aldrich panik.
"Sebentar lagi tuan Arta akan sampai tuan. " seru Tuan Ardi.
Beberapa menit kemudian Arta sampai di sana. Pria jangkung itu datang dengan kemarahan di wajahnya. Dia menghampiri Aldrich dan mencengkram kerah rivalnya itu.
"Bagaimana bisa kamu ceroboh seperti ini Aldrich hah? " bentak Arta emosi. Aldrich tentu saja meminta maaf sambil berusaha menenangkan sang rival.
"Ini semua di luar perkiraan aku tuan Arta. " sesal Aldrich.
"Belum satu tahun tapi sudah ada kejadian seperti ini. Kau memang tak bisa di percaya dalam hal bisnis. " ujar Arta dengan wajah dinginnya. Dia juga mencabut aliran dana ke proyek yang di kerjakan Aldrich. Selain itu dia juga menuntut rugi atas kekacauan dan kegagalan proyek mereka.
Raut wajah Aldrich berubah pasi mendengar ancaman yang di lontar kan Arta padanya. Setelah itu Arta pergi dari sana dengan emosi meledak ledak.
Tubuh Aldrich lemas. Dia baru aja mendapat musibah atas kehilangan calon anaknya. Kini masalahnya kian rumit dengan kegagalan proyeknya karena ulah pekerja yang membawa lari uangnya.
"Sialan kau Doni. " teriaknya sambil mengumpat. Sementara para pekerja lain menuntut gaji mereka saat ini juga. Aldrich tentu saja mengamuk pada para pekerja. Dia langsung bangkit, berdiri sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.
__ADS_1
Dia langsung pergi dari sana, Aldrich meminta tuan Ardi mengandle sementara. Pria itu akan mencari solusinya segera. Sepanjang perjalanan pulang, Aldrich hanya mampu mengumpat dan mengumpat. Dia langsung pulang begitu saja tanpa peduli dengan istrinya yang masih di rumah sakit.