My Bastard Boss

My Bastard Boss
Bab 42 Kemarahan Arta


__ADS_3

Sore harinya Arta tampak marah, dia benar benar kecewa dengan sikap Aldrich yang teledor. Pria itu kini tengah berada di dalam kamar mandi, membiarkan tubuhnya basah oleh guyuran air shower.


Sepasang lengan mungil memeluknya dari belakang. Pria itu menoleh, mendapati sang istri berada di hadapannya. Disha pun menatap lekat wajah tampan sang suami. "Mas Arta kenapa? " tanya Disha dengan raut bingung.


Arta justru menciumnya lembut sambil mematikan shower. Pria itu mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke atas ranjang. Sore itu menjadi sore yang panas untuk suami istri ini.


Satu jan setengah kegiatan panas itu terhenti. Arta langsung menanyakan perihal keadaan calon anak mereka. Disha mengatakan dirinya baik baik saja. Wanita hamil itu mengusap sayang wajah tampan suaminya.


"Sebenarnya apa yang terjadi mas? " tanya Disha.


"Proyek kerjasama antara aku dan Aldrich gagal, salah satu pekerja Aldrich membawa lari dana pembangunan hotel. " ungkap Arta dengan jelas. Disha membulatkan mata mendengar penjelasan sang suami.


Dia berusaha menenangkan sang suami. Arta meminta maaf pada sang istri akan sikap kasarnya saat permainan panas mereka tadi. Tangannya terulur mengusap perut buncit sang istri. Disha hanya bisa memberikan dukungan untuk sang suami.


"Dengan kejadian seperti ini aku harap pria itu bisa mengubah sifatnya yang buruk. " ujar Arta dengan nada datarnya.


"Hm iya mas, sudah lebih baik mas tenangkan diri mas Arta. Aku enggak suka melihat kamu marah marah kayak gini. Aku tahu mas berusaha keras selama bertahun tahun untuk mencari uang tapi aku hanya ingin mas Arta mengontrol emosi mas! " ucap Disha dengan bijak.


Arta mencium kening istrinya dengan lembut. Dia beruntung memiliki istri yang begitu pengertian padanya. Disha sendiri membenamkan wajahnya di dada sang suami. Pria tampan itu mengusap punggung polos sang istri.


Wanita cantik itu merasa lega melihat suaminya telah tenang. Arta menyibak selimutnya lalu menggendong sang istri menuju ke kamar mandi. Setelah berpakaian dan beres beres, mereka ke luar dari kamar dan turun ke bawah.


Kini keduanya berada di ruang tamu. Pelayan datang membawakan kopi atas perintah sang majikan. Arta langsung menyesap kopinya dengan perlahan, kemudian menaruhnya kembali di atas meja.


"Terus apa yang mas lakukan pada Aldrich? " tanya Disha.

__ADS_1


"Aku meminta ganti rugi sayang, dia benar benar tak bisa di percayai seperti yang kamu bilang sebelumnya padaku. " keluh Arta. Disha menghela nafas panjang, menggenggam tangan sang suami.


"Sudah mas kamu sabar aja, kita tunggu hasilnya gimana. " ujar Disha dengan lembut.


Mommy Diandra baru saja datang bersama Daddy. Keduanya bergabung bersama kedua anak mereka itu. Wanita paruh baya itu membicarakan mengenai Stella dan Aldrich.


"Ada apa sih mom kok heboh banget? " tanya Arta pada sang mommy tercinta.


"Tadi nyonya Aliana menghubungi mommy dan memberitahu jika Stella keguguran, anaknya meninggal dalam kandungan. " jelas Mommy Diandra.


Deg


Disha mendadak bungkam mendengar kabar yang di bawa sang mertua. Wanita hamil itu merasa dejavu dengan kejadian yang lalu. Arta merangkul bahu sang istri, dia paham akan perasaan wanitanya.


"Mom, Dad gimana kalau kita datang ke pemakaman. Aku hanya ingin mengucapkan bela sungkawa pada mereka. " tawar Disha. Mommy dan Daddy saling melirik satu sama lain kemudian mengangguk setuju.


Mereka semua segera bersiap siap setelah itu masuk ke satu mobil yang sama. Mommy dan Disha duduk di belakang. Keduanya tampak mengobrol ringan di sana.Di jalan mereka juga sempat membeli buket bunga untuk di bawa.


Skip


Pemakaman


Arta dan keluarganya datang menemui keluarga Aldrich. Mereka turut bersedih dengan apa yang terjadi dalam keluarga Darvis. Pria itu langsung meletakkan buket bunga ny di atas makam.


"Tante, Om saya turut berduka atas apa yang terjadi pada Stella saat

__ADS_1


ini. " ungkap Disha dengan tulus.


"Terimakasih atas empatinya nak. " jawab Nyonya Aliana dengan nada sendunya. Stella langsung bangkit, wanita itu menatap tajam kearah Arta dan Disha secara bergantian.


"Karena kalian aku kehilangan calon anakku, kalian pembunuh. " teriak Stella dengan histeris. Dia berusaha menyerang Disha namun Arta dan daddy dengan sigap melindungi Disha.


Sementara Aldrich menahan istrinya yang mengamuk. Arta tentu saja marah dan membentak Stella. Dia tak akan membiarkan wanitanya di sakiti siapapun.


"Ini ulah kamu sendiri Stella, bukan salah istriku. " ujar Arta dengan nada tinggi. Dia terpancing emosinya dengan sikap Stella barusan. Daddy langsung menenangkan Arta, mereka sekali lagi mengucapkan bela sungkawa setelah itu pergi dari sana.


Arta melajukan roda empatnya meninggalkan area pemakaman. Pria itu tak mengatakan apapun saat ini, dia masih dalam keadaan marah.


Beberapa menit berlalu mereka sampai di mansion. Mereka semua turun dari mobil, Disha menyusul suaminya yang pergi ke Gazebo. Dia menghampiri suaminya dengan langkah buru buru.


"Aduh. "


Arta menoleh, pria itu membulatkan mata dan langsung berlari kearah sang istri. Dia berhasil menahan istrinya lalu mengajaknya duduk di gazebo.


"Sayang perhatikan langkah kamu, kamu lagi hamil. " ujar Arta dengan wajah datar nya. Disha langsung meminta maaf, dia menahan suaminya yang hendak pergi. Bumil cantik itu memeluk suaminya, Arta langsung luluh dan membalas pelukan istrinya.


"Maafkan aku hubby, aku tak memperhatikan langkahku karena buru buru menghampiri kamu. " sesal Disha.


"Lain kali jangan di ulangi. " tegur Arta yang di angguki istrinya. Keduanya menikmati waktu bersama sekaligus berbicara dari hati ke hati. Disha sendiri tak mengambil hati akan ucapan Stella padanya. Disha mengusap perut buncitnya dengan penuh kasih sayang.


Tangan Arta berada di atas perutnya, menyentuh tangan Disha. Keduanya sama sama akan menjaga calon buah hati mereka ini dengan hati hati. Sikap Arta pada sang istri semakin posesif setiap harinya. Disha sendiri merasa memaklumi mengingat demi kebaikan dirinya dan calon bayinya.

__ADS_1


__ADS_2