My Bule Husband

My Bule Husband
Kembali


__ADS_3

Naina terbangun dari tidurnya saat hari menjelang pagi. Wanita itu meregangkan badannya namun masih enggan turun dari tempat tidur.


"Hubby?" keheranan karena suaminya tidak ada di sampingnya seperti biasa.


"Hub..." Naina terhenti karena baru saja menyadari apa yang terjadi semalam. Dia mengurung pria konyol itu di lantai tiga dan ternyata dirinya malah ketiduran sehingga lupa mengeluarkan suaminya.


Naina menutup mulutnya, "Ups... aku lupa."


Naina segera turun dari tempat tidur, lalu bergegas pergi melihat Reygan di lantai tiga. Meskipun kesal akan kelakukan Reygan, tetap saja Naina khawatir.


Begitu sampai, Naina membuka kunci pintu. Saat pertama masuk, rupanya Reygan tidak ada di sana. Ranjang yang sepertinya baru ditiduri sudah kosong. Kemana pria itu pergi, sementara pintu kamar terkunci.


"Hubby kamu dimana?" panggilnya. Naina cukup lega, karena foto-fotonya sudah diturunkan dari dinding. Dan kini bertumpuk di sudut ruangan bersusunan sesuai ukurannya.


Happ


Ketika Naina lengah, tubuh mungilnya ditarik dan dibalikkan secepat kilat. Belum sempat berteriak, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir kenyal suaminya.


"Hmmm..." Naina berontak, tapi Reygan mengurungnya dengan kuat, bahkan tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.


Reygan dengan rakus mengul*m di dalam mulutnya layaknya orang kehausan. Naina yang awalnya terkejut, tak ayal menikmati ciuman itu. Tangannya yang lentik bahkan ikut menjalar memeluk punggung Reygan. Keduanya saling berpagut di pagi yang indah itu.


Reygan melepas ciumannya, membiarkan Naina bernafas sejenak. Naina pikir morning kiss mereka sudah selesai. Tetapi ketika Reygan menutup pintu kamar rapat-rapat, Naina sudah merasa tidak asing lagi.


Dan benar saja, begitu pintu tertutup Reygan menyeretnya ke atas ranjang. Tidak membiarkannya bangun dan langsung mengurung di bawah tubuh besarnya.


"Kamu mau ngapain? Ini udah pagi." Naina memperingatkan.


"Jadi?" Reygan tidak peduli. Pria itu asik mengendus leher istrinya yang nyatanya membuat Naina terbuai.


"Kamu udah ngurung aku di sini semalaman, aku harus memberimu hukuman." bisik pria itu. Tangannya mulai bergerak meraba perut Naina, dan membuat pola tak beraturan di sana.


"Salah kamu sendiri, ngapain coba bikin foto tidak senonoh itu?! Kamu pikir siapa yang nggak marah?!" Naina tidak mau kalah.

__ADS_1


"Tapi kamu istriku. Memangnya salah?"


"Ya jelas salah! Kamu..."


"Udah jangan banyak bicara. Pagi ini kamu harus menerima hukumanmu." lagi Reygan tiba-tiba menyerang Naina.


Jelas saja Naina tidak bisa menolak. Wanita itu turut menikmati setiap sentuhan suaminya. Tidak peduli anak-anaknya yang kini mencari mereka di bawah sana.


"Pokoknya kamu harus bakar foto-foto itu!" ucap Naina dalam kegiatan panas mereka pagi itu.


"Hmm..." Reygan hanya bergumam, namun tubuhnya berpacu menghujam tubuh Naina di bawahnya.


"Ssh... sakit." Naina mendesis karena Reygan sengaja menggigit bibirnya.


"Kamu banyak bicara." sambil nafasnya terengah.


Sudah cukup lama, namun pria itu masih belum mencapai kepuasannya. Reygan sengaja, karena ingin menikmati tubuh wanita itu lebih lama lagi. Berpisah delapan tahun, sudah cukup membuatnya tersiksa.


Saat dia merindukan sentuhan Naina, dia sama sekali tidak bisa menuntaskan kerinduannya. Oleh karena itu, sejak bertemu, Reygan sangat betah mengurung Naina di kamar bersama. Dan tentunya melakukan kegiatan yang sangat dia sukai pada wanita itu.


Bukannya Naina tidak menikmati kegiatan mereka saat ini. Tetapi dia takut anak-anak mencarinya. Dan malah menemukan mereka di sini.


Pasti akan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anaknya. Dan tentunya dia akan kesulitan memberikan jawaban pada anak-anaknya yang selalu kepo.


Dan benar saja, firasat Naina benar-benar terjadi. Steve dan Giselle baru saja sampai di lantai tiga.


"Kak, di sini ada kamar. Kamar siapa?" tanya Giselle, menunjuk kamar yang tentu saja ada sepasang yang tengah melakukan ritual pagi di dalam sana.


Steve mengangkat bahunya, karena memang dia tidak tahu bahwa kamar ini adalah bekas kamar Maminya dulu.


"Mungkin Papa dan Mama ada di sini?"


Steve mengangkat bahu lagi, "Coba ketuk." perintahnya.

__ADS_1


"Papa Mama..." panggil Giselle sambil mengetuk.


Tidak terdengar sahutan, namun Giselle tidak berhenti.


"Maaa Paa... are you there?"


Dan masih belum terdengar sahutan dari dalam sana.


"Udah Giselle, mending kita turun." kata Steve.


Giselle menurut, tetapi ketika melihat pintu balkon yang terbuka, gadis itu tertarik yang malah membawa kaki kecilnya berlari ke sana.


"Bentar Kak, Giselle mau ke balkon bentar."


Steve ingin protes, namun dia sadar Giselle sangat susah diatur. Membuatnya memilih duduk di sofa di dekat sana sambil mengawasi adik perempuannya.


"Tante Sesil..."


Baru juga Steve duduk, anak muda itu beralih pada Giselle yang melambaikan tangan ke bawah. Sebenarnya dia agak terkejut karena mendengar adiknya memanggil Sesil, namun Steve mengira Giselle hanya mengada-ada.


"Giselle hati-hati. Awas jatuh." memberi peringatan.


"Kak, Tante Giselle datang." teriak gadis itu sambil melompat-lompat di balkon.


Steve menyipitkan mata, tapi tak urung berdiri dan menyusul ke balkon. Giselle tidak berbohong, memang benar ada Sesil di bawah sana yang baru turun dari mobil.


"Tante?" lirih Steve.


"Om Chris juga Kak." tunjuk Giselle ke sosok laki-laki yang juga turun dari mobil sambil menggendong bayi yang mereka yakini adalah Stella.


"Yeay Tante Sesil pulang." Giselle berteriak riang sambil masuk ke dalam rumah untuk menemui mereka.


TBC

__ADS_1


Buat yg nanya kisah Giselle sabar ya. Mungkin othor bakal rangkum kisah mereka di lapak baru. Sabar ya, othor mau namatin cerita bang bule dulu.


__ADS_2