
Sore itu, Rudi dan Steve sudah pulang, sedangkan Reygan masih tetap tinggal. Rudi memintanya untuk menjaga Naina.
Naina tidur beberapa saat lalu, terbangun karena nyeri di punggungnya. Tidak sesakit sebelumnya sehingga Naina masih bisa menahannya.
Naina memperhatikan ruang VIP tempatnya di rawat. Sepi. Hanya sesekali terdengar deru suara ketikan dari arah sofa. Naina melihat Reygan di sofa sambil bekerja. Sangat serius, sampai tidak menyadari tatapannya.
Naina terlena. Dia akui suaminya amatlah sangat tampan. Darah Asia dan Amerika berpadu, menghasilkan pahatan sempurna di wajah itu.
Naina tersenyum kecut, andai saja hubungan mereka baik, dia pasti akan merasa beruntung memiliki suami tampak bak dewa Yunani itu. Tapi nyatanya tidak, setiap hari ada saja yang selalu mereka perdebatkan dan tidak ada habisnya.
Naina mengakhiri menikmati pemandangan itu, karena sesuatu mendesak di bawah sana. Dia ingin buang air kecil.
Naina ingin duduk, tapi rasa sakit yang menyiksa di area punggungnya membuatnya kesulitan. Gadis itu mengaduh, membuat pria yang tengah fokus itu teralihkan.
Reygan menghampirinya, "Ada apa?"
Naina mengatur nafasnya, "Aku mau ke toilet." ucapnya sedikit ragu.
Reygan diam sejenak, entah mendapat ide dari mana, dia membungkuk, hendak meraup Naina ke dalam gendongannya.
Naina mendelik, menghadang Reygan, "Eh, bapak mau ngapain?" Naina masih tidak suka dekat-dekat dengan Reygan.
__ADS_1
"Bukannya mau ke kamar mandi? Biarkan aku membantumu." ucap pria itu.
"Ya tapi nggak usah peluk-peluk juga." Naina mendesis, "Bantuin aku duduk aja. Aku bisa jalan sendiri."
Sebenarnya Naina enggan menerima bantuan pria itu. Tetapi keadaannya sangat tidak menguntungkan saat ini.
Reygan tidak memaksa, dia menurut hanya membantu Naina duduk. Lalu membiarkan gadis itu berjalan ke kamar mandi. Tapi Reygan masih siaga di dekatnya, barang kali Naina terjatuh tiba-tiba.
Selesai dari kamar mandi, Naina kembali ke brankarnya. Dia duduk, karena punggungnya akan sakit jika terus berbaring.
Kini Reygan kembali duduk di sofa, kembali fokus bekerja. Merasa bosan Naina akhirnya menyalakan tv. Sepanjang sore akhirnya mereka menghabiskan waktu dengan kesibukan masing-masing.
Malam menjelang, suster datang mengantar makan malamnya, sekalian melakukan pemeriksaan.
Reygan berdiri di sisinya, mendengarkan penjelasan suster.
Setelah suster pergi, Naina hendak makan. Hanya bubur putih yang menurutnya hambar. Naina tidak berselera.
"Kenapa tidak dimakan?" Reygan sudah duduk di sampingnya.
Bibirnya mengatup tidak berselera, "Aku tidak lapar." ucapnya berbohong padahal perutnya sudah berbunyi dari tadi.
__ADS_1
Dan perutnya benar-benar berbunyi, terdengar jelas di telinga Reygan. Wajah Naina memerah, "Maksudku buburnya hambar. Aku tidak selera." ucapnya dengan senyum konyolnya.
Reygan yang masih berwajah datar tidak mengatakan apapun. Pria itu mengambil ponselnya, menghubungi seseorang untuk membawakan makanan untuknya.
Naina tersenyum, "Pesan untukmu juga." ucapnya disela Reygan bertelepon. Reygan menurut, karena dia juga kelaparan sejak siang tadi.
Reygan meletakkan ponselnya di nakas sebelah Naina. Naina salah tingkah karena Reygan menatapnya lekat.
Agar tidak canggung, dia menyalakan TV, mengacak-acak remote pura-pura mengganti chanel.
Setelah menemukan film kesukaannya, Naina fokus, tetapi tidak bisa karena sorot mata tajam di sampingnya. Naina menoleh membalas tatapan Reygan penuh protes.
"Bapak apa-apaan sih liatin aku dari tadi?!" gerutunya kesal.
Reygan mengangkat sebelah alisnya, Memangnya kenapa?" suaranya sangat menyebalkan bagi Naina.
"Ih... Ya aku tidak nyaman. Risih tau nggak. Mending Bapak kerja lagi sana." cecarnya sambil mengerutkan keningnya kesal.
"Tadi waktu kamu liatin aku lagi kerja, aku nggak protes kok. Giliran kamu diliatin balik, kok malah marah?" ujar pria itu dengan seringai jahatnya.
TBC
__ADS_1