
Naina bingung akan reaksi Reygan ketika melihatnya dengan berpakaian seperti ini. Dalam mata pria itu menyiratkan amarah yang tertahan dan kelam. Naina bisa melihatnya.
Penasaran dengan suaminya, wanita itu segera mengganti lingerie dengan pakaian yang lebih layak, lalu mencari keberadaan Reygan.
Tapi sayang, Reygan tak lagi ada di dalam kamar. Naina mencari keluar, bertanya pada beberapa pelayan yang dilihatnya. Dan Naina mendapat petunjuk.
Ternyata Reygan berada di lantai tiga. Naina ragu pergi ke lantai tiga. Pasalnya dia belum pernah naik ke sana selama tinggal di rumah ini. Dan penghuni lain pun tidak diperbolehkan naik ke sana.
Naina pernah bertanya pada Elisa dan pelayan lain, tapi mereka seperti menghindar dan enggan memberitahu.
"Nyonya, jangan naik ke sana. Atau Tuan Besar akan marah." nasihat pelayan yang memberitahu keberadaan Reygan.
"Kenapa?" jelas Naina menjadi sangat penasaran.
Pelayan itu cemas, "Saya tidak berhak menjelaskan pada Nyonya. Tapi saya harap Nyonya tidak naik ke sana. Bukannya saya lancang, tapi ini demi kebaikan Nyonya." ucap wanita yang terlihat masih muda itu.
Naina diam, sedangkan rasa penasarannya semakin besar.
"Saya permisi Nyonya." merasa Naina tidak akan nekat naik ke lantai tiga, pelayan itu bergegas pergi.
Tapi pelayan itu belum mengenal Naina dengan baik. Naina sangat penasaran hingga membuat kakinya dengan lancang berpijak di anak tangga pertama menuju lantai tiga.
Langkahnya tenang, tetapi jantungnya berdebar seolah ada hal besar yang menantinya di sana.
Dua puluh anak tangga berhasil Naina lewati. Naina menelusuri setiap sudut lantai tiga, hanya ada satu pintu di sana. Dan Naina yakin, Reygan ada di dalam sana.
Wanita itu mendekati ruangan itu. Membuka pintu yang tidak terkunci dengan perlahan.
Langkah kecilnya perlahan membawanya masuk ke dalam ruangan yang sangat luas. Ruangan yang didominasi oleh warna emas di setiap interior maupun hiasan di dalamnya.
Ranjang big size ada di tengah ruangan, menandakan bahwa ruangan ini sebenarnya adalah kamar. Dan ini sangat luas untuk dihuni.
__ADS_1
Bukan kemewahan itu yang menjadi pusat perhatian Naina. Melainkan sebuah figura raksasa yang menggantung elok di dinding.
Maniknya berkaca-kaca tanpa sebab. Benar saja, itu adalah foto pernikahan suaminya dengan mantan istrinya. Tidak hanya itu, masih ada banyak foto-foto mesra keduanya yang bergantungan di dinding maupun di atas meja. Ruangan itu dipenuhi wajah mantan istri Reygan.
Untuk pertama kalinya, Naina merasakan sesak yang luar biasa menyiksa hatinya. Ternyata suaminya belum melupakan mantan istrinya.
Naina menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang meluap dalam dirinya. Ternyata benar, pengorbanannya hanya membawanya ke dalam penyesalan.
Dia pikir Alena-lah yang menjadi pengganggu rumah tangga mereka. Yang membuat Naina menyerah pada ketegasan hatinya saat Reygan mengatakan bahwa Alena bukan lagi penghalang di antara mereka.
Naina merasa tertipu. Ternyata bayang-bayang mantan istri Reygan-lah yang menjadi penghalang hubungan mereka.
Terdengar suara dari arah pintu balkon yang terbuka. Ternyata Reygan ada di sana. Pria itu duduk di sebuah kursi, bersandar sambil menyesap sebatang rokok.
Naina tidak ingin mengganggu ketenangan pria itu. Lalu memilih keluar dari ruangan ini. Berada di sini membuat hatinya gerah.
Malam semakin larut, Naina sudah bergelung di bawah selimut tebalnya. Sejak mengetahui kenyataan yang menyesakkan hatinya, Naina melewatkan makan malamnya. Beruntung Steve mengerti dengan dirinya yang sedang tidak ingin diganggu.
"Sudah tidur?" bisik pria itu.
Naina membuka matanya, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan hatinya.
"Hubby, kamu dari mana saja?" ucapnya dengan suara serak.
Reygan pikir karena Naina baru bangun, tapi pria itu tidak tahu, Naina telah melewati tiga jam lamanya dengan menangis. Menangisi kenyataan yang menyakitkan.
"Aku habis dari ruangan Papa. Kita lagi membahas proyek baru."
Naina tersenyum kecut, karena ketidakjujuran suaminya.
Tiba-tiba Reygan mengecup bibirnya. Naina hanya diam saja, tidak membalas maupun menolak, membuat Reygan merasa aneh.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya pria itu.
Naina menggeleng pelan sambil memaksakan senyumnya. "Aku mengantuk."
"Kalau begitu kemari. Aku akan membuatmu tidur."
Reygan membuka tangannya, yang langsung disambut oleh Naina. Pria itu mengusap rambutnya lembut.
"Hubby?"
"Ada apa?"
"Baju yang tadi, yang kurang bahan itu?"
"Lingerie?" jelas Reygan.
"Ya, itu. Kamu yang membelikannya untukku?" tanya Naina.
"Kamu menyukainya?"
Naina menggeleng, "Sangat tipis dan kurang bahan."
"Kalau begitu kamu tidak perlu memakainya."
Naina diam sejenak, menahan tangisnya mati-matian.
"Baiklah." dan langsung memejamkan matanya.
TBC
__ADS_1