
Cukup lama keduanya diam, saling memandang satu sama lain. Pikiran Reygan dipenuhi kegundahan, entah bagaimana nantinya dia memberitahukan Naina yang sebenarnya. Memberitahukan bahwa mereka telah kehilangan calon buah hati mereka.
Lain halnya dengan Naina. Wanita berada dalam mood yang baik. Merasa bahagia, entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu.
"Hubby, kayaknya aku kena karma deh." kata wanita itu, mulai membuka percakapan.
"Hem?" sahut Reygan sambil mengusap kening istrinya.
"Kalau aja tadi aku nurut menginap di hotel, mungkin aku tidak akan berakhir di sini. Bela-belain berantam sama Giselle, ujung-ujungnya malah nginap di rumah sakit." bibir wanita itu cemberut.
"Ngomong apa sih sayang. Nggak ada karma-karmaan. Mending kamu istirahat, jangan mikir yang aneh-aneh." sahut Reygan.
Naina terkekeh, "Iya deh. Tapi Hubby juga tidur juga ya?" wanita itu menggeser tubuhnya susah payah, hingga menyisakan ruang di sampingnya. "Sini. Aku mau tidur dipeluk kamu." katanya sambil menepuk kasur.
Namun sebelum Reygan hendak bergabung bersama istrinya, pintu kamar diketuk, dua orang masuk ke dalam kamar.
"Selamat malam Pak. Maaf mengganggu." ternyata dokter yang mengurus Naina tadi, beserta suster di sampingnya.
"Saya periksa istrinya bentar ya Pak." kata dokter.
"Silahkan."
Selama dokter memeriksa, Naina hanya melihat suaminya, yang tanpa dia sadari tengah cemas.
"Bagaimana dok, apa istri saya baik-baik saja?" tanya Reygan begitu dokter selesai memeriksa. Sembari itu, suster tengah mengganti infus Naina yang sudah habis.
__ADS_1
Dokter tersenyum, "Bu Naina baik-baik saja Pak. Tidak usah khawatir." ucapnya yang mana membuat Reygan bernafas lega.
"Bu Naina yang semangat ya. Saya yakin Tuhan akan menggantikan buah hati kalian." kata dokter pada Naina.
Naina mengerutkan keningnya bingung, melihat dokter dan suaminya bergantian.
"Maksud dokter apa ya? Saya tidak mengerti." tanya Naina. Dari ucapan dokter, Naina dapat menangkap maksud tersirat. Namun Naina merasa tidak percaya dengan hal itu.
Dokter melihat Reygan yang sudah syok, sepertinya Reygan masih belum memberitahu Naina.
"Dok?" panggil Naina karena tidak ada yang berniat menjelaskan padanya.
"Dokter, biarkan saya saja." timpal Reygan.
"Hubby, maksud dokter apa? Kok dia bilang gitu? Buah hati apa maksudnya, aku nggak ngerti." cecar Naina begitu dokter keluar dari kamar.
Reygan menarik nafasnya pelan, kemudian menundukkan wajahnya lebih dekat di wajah Naina.
"Kamu tenang dulu sayang." sambil mengelus kepala Naina.
"Tapi jelasin dulu. Maksud dokter apa?" meski Reygan terlihat tenang, tapi Naina tidak bisa. Ucapan dokter tadi telah berhasil mengacaukan pikirannya.
"Nggak sayang. Nggak ada apa-apa. Dokter kayaknya salah ngomong." ucap Reygan. Jujur, pria itu tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya.
Naina menatap mata itu lekat, dia tidak semudah itu untuk dibodohi. Suaminya berbohong, Naina tahu itu.
__ADS_1
"Kamu bohong." suaranya bergetar. Sedangkan Reygan tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. Manik istrinya sanggup membuatnya lemah.
"Aku... keguguran ya?" lirih Naina dengan ragu-ragu.
Perkataan itu akhirnya berhasil memancing Reygan. Reygan mematung, menatap istrinya dengan hati gundah.
"Hubby?" melihat Reygan hanya diam saja, Naina semakin takut. Tadinya dia hanya menebak, tapi apakah tebakannya itu benar.
Tiba-tiba saja, Reygan menariknya ke dalam pelukannya. Yang turut memancing tangis Naina.
"Hubby..."
"Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Karena aku, kita kehilangan calon bayi kita." cecar Reygan penuh rasa bersalah.
Deg...
Benar dugaannya. Naina mematung cukup lama. Pikiran wanita itu seolah kosong dalam waktu sekejap.
Buah hati. Dia hamil? Lalu. Keguguran?
Semua hal itu berputar di kepalanya, membuatnya hampir frustasi.
Mengetahui bahwa dirinya hamil saja sudah membuat jantungnya berdebar kencang. Tetapi setelah mengetahui buah hatinya telah tiada, Naina merasa seolah terhempas hingga ke dasar.
TBC
__ADS_1