
Reygan kini tidak bisa menjawab pertanyaan Naina. Tapi justru membuatnya sangat terkejut, karena ternyata Naina tahu tentang hal yang selalu dia tutupi darinya.
Kamar itu, sudah jelas menunjukkan bahwa dirinya masih belum melupakan mantan istrinya. Dan Reygan kali ini tidak bisa lagi mengelak.
Naina tersenyum sinis. Mata pria itu sudah menjelaskan semuanya. Sakit. Sesak di dadanya semakin menyiksa. Ini lebih sakit dari sikap Reygan yang kasar padanya di masa lalu.
Naina menyesal. Harusnya dia tidak semudah itu menyerahkan hatinya pada pria yang masih terikat kuat dengan masa lalunya itu. Dan sekarang, dia telah merasakan betapa sakitnya diabaikan dan selalu dinomor duakan.
"Naina, maafkan aku..."
"Tidak perlu meminta maaf Reygan!" tiba-tiba sebuah suara menyahut keduanya. Emma diikuti Sesil dan Natasya datang menghampiri.
Emma tersenyum puas. "Sepertinya ini waktu yang tepat. Sudah lama Oma ingin membongkar kebusukan wanita miskin ini!" kata Emma dengan angkuh.
Reygan maupun Naina diam. Masih larut dalam emosi masing-masing.
"Rey, kalau sekarang juga kamu ingin membuang wanita ini, Oma pikir keputusan itu sudah tepat." kata Emma, berusaha memprovokasi.
Reygan melotot, tidak terima. Dalam hatinya tidak pernah terbersit untuk menceraikan Naina.
"Oma!" setengah membentak.
"Kakak, ngapain sih masih nampung perempuan jahat ini. Asal Kakak tahu dia ini diam-diam memiliki rencana buruk." ucap Sesil, menatap Naina penuh kebencian.
__ADS_1
"Tutup mulutmu Sesil."
"Kakak nggak percaya? Oke. Sekarang kita buktikan." katanya. "Masuk!" perintahnya.
Seorang wanita yang tidak terlalu tua dan tidak muda lagi muncul dari belakang mereka.
Reygan mengerutkan keningnya, sedangkan Naina bingung. Keringatnya bercucuran saat merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya.
Tanpa basa-basi, Sesil memerintahkan wanita itu untuk bicara.
"Hei, cepat kenalkan dirimu! Dan bongkar kebusukan wanita miskin itu!" perintahnya, sangat tidak sopan.
Wanita yang sedari tadi menundukkan kepalanya, melihat Reygan dan Naina bergantian.
Naina melebarkan matanya. Tidak percaya akan apa yang dokter itu katakan.
"Dokter!" suaranya tercekat. Keringatnya semakin membanjiri, serta tubuhnya juga bergetar.
"Naina!" kini suara berat Reygan yang menusuk gendang telinganya. Suara itu penuh tanya akan kebenaran pengakuan dokter itu.
"Apa maksud semua ini Naina?" pria itu kecewa. Ternyata Naina tidak sudi memiliki anak dengannya?
Naina menggeleng, "Tidak! Aku tidak melakukan hal itu!" elak Naina.
__ADS_1
"Sudahlah wanita miskin. Kamu tidak akan bisa mengelak. Semua bukti dan saksi sudah ada. Apa lagi yang ingin kamu elakkan?" Sesil memprovokasi.
"Tidak! Aku tidak melakukannya Sesil. Memang hari itu aku pergi pada dokter Mika. Tapi..."
"Tuh kan Kak? Dia sudah mengakuinya. Tunggu apa lagi, cepat usir wanita ini dari rumah ini." kata Sesil lagi.
Naina menatap dengan nanar. Keluarga ini memang sudah merencanakan semuanya. Sehingga dia tidak bisa melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Apalagi raut wajah suaminya yang terlihat kecewa padanya.
"Aku bersumpah, demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan hal itu."
"Sudahlah." Emma mencela, "Lebih baik kamu pergi dari sini. Kamu maupun Reygan tidak lagi menginginkan kehadiranmu." usirnya.
Naina melihat Reygan, berharap walau tidak mungkin, pria itu akan menahannya untuk tetap tinggal. Tapi sia-sia saja. Reygan justru mengalihkan wajahnya, menghindari bertatapan dengan sang istri.
Wanita itu tertawa hambar. Sungguh. Ini adalah kejadian paling menyakitkan dalam hidupnya. Orang-orang ini. Naina akan mengingatnya sampai seumur hidupnya.
"Reygan." panggilnya dengan suara bergetar. Matanya memantikkan tatapan kekecewaan. "Kamu adalah pria paling brengs*k yang pernah aku temui selama hidupku. Dan aku berharap, kelak tidak akan bertemu pria sepertimu lagi."
Air mata yang mati-matian dia tahan menggenang di pelupuk matanya. Naina mengusapnya, tidak ingin terlihat lemah di depan manusia yang tidak punya hati itu.
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku menunggu surat dari pengadilan segera. Dan kita tidak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya." cetusnya dengan tekad yang bulat.
"Aku pergi dulu." pamitnya.
__ADS_1
TBC