
Reygan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Keputusan yang diambilnya, untuk menceraikan Naina, sudah menjadi keputusan yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
Memang sangat aneh, di saat dia sudah menemukan belahan jiwanya yang menghilang selama delapan tahun lamanya, dia malah mengambil keputusan fatal seperti ini. Menceraikan istri yang sangat dia cintai, padahal perjuangannya belum sampai di ambang batas kemampuannya.
Hanya dua hari Reygan memperjuangkan istrinya. Merupakan waktu yang sangat singkat untuk merebut kembali wanita berhati keras tersebut.
Tapi Reygan juga tidak tahu lagi harus berbuat apa. Awalnya dia sangat bersemangat dalam pengejaran cinta sejatinya. Tetapi melihat Naina yang sangat menderita akan kehadirannya, membuat semangat Reygan menghilang begitu saja.
Saat perdebatan mereka yang terakhir. Naina menangis penuh pilu. Wanita itu mengutarakan perasaannya padanya. Dan ternyata Naina tersiksa setiap melihatnya.
Hatinya tentu sakit, saat mengetahui wanita yang paling dia cintai ternyata sangat membenci kehadirannya. Tetapi dia tidak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa maklum. Naina berubah menjadi wanita keras kepala seperti sekarang ini, juga karena dirinya sendiri.
Dia menyakiti Naina terlalu dalam di masa lalu. Mempermainkannya dan bahkan mengabaikannya demi mantan istrinya.
Oleh karena itu, Reygan mengambil keputusan besar ini. Menceraikan Naina dan membiarkannya hidup sesuai kemauannya. Mungkin dengan begini Naina bisa bahagia dan hidup tenang.
Biarlah dirinya di sini sendirian dalam kesepian. Membiarkan cintanya berkembang, tetapi tidak dapat menggapai wanita yang dicintainya.
Dalam waktu singkat, Doni sudah menyelesaikan tugas yang diberikan bosnya. Surat perceraian dan pembagian harta sudah selesai diurusnya. Hanya tinggal menunggu keputusan dari Naina, maka mereka akan resmi berpisah.
Di ruangan kantornya yang menjadi saksi perjuangannya dalam mengelola perusahaan besarnya, Reygan duduk termangu. Sendirian. Suasana sangat sunyi, tanpa ada suara terdengar.
Tubuh laki-laki itu bagaikan patung. Tetapi manik hijaunya yang sehijau laut, menyusuri setiap kata yang tersusun di atas kertas putih di atas meja.
Tajuknya saja sudah membuat jantungnya berdebar setiap saat. Hanya dalam satu gores tanda tangan dari Naina, maka tamatlah kisah cinta mereka.
Semuanya berakhir. Tidak ada lagi hubungan istimewa yang akan tetap menjadikan mereka satu. Mereka tidak lagi satu, melainkan hanya dua orang asing yang pernah merasakan manis pahitnya cinta dalam pernikahan yang memang dari awal tidak benar. Mereka dijodohkan, tanpa adanya perasaan istimewa dalam benak masing-masing. Dan mungkin mereka berjodoh, hanya pada sampai saat ini.
Sudah dua jam laki-laki itu merenungkan nasib cintanya yang selalu gagal. Akhirnya Reygan bergegas cepat ingin pulang.
Sebelum keluar dari ruangannya, Doni masuk, memberikan tiket pesawat yang akan membawanya bersama surat perceraian itu ke tempat dimana Naina berada.
__ADS_1
"Pak..." setelah memberikan tiket, Doni enggan pergi. "Apakah keputusan Anda sudah bulat?" tanya pria itu dengan nada cemas.
Bagaimana pun, Doni tahu perjuangan Reygan dalam mencari Naina. Delapan tahun mencari dan akhirnya menemukannya. Tetapi hanya dalam waktu beberapa hari, Reygan malah mengambil keputusan di luar dugaannya.
What the hell.
Setelah Reygan memintanya mengurus surat cerai, Doni menjadi pusing. Menurutnya, Reygan terlalu cepat mengambil keputusan. Dia tidak rela bosnya itu bercerai.
Reygan tanpa ekspresi, melihat asistennya. "Keputusanku sudah bulat. Jadi jangan mencoba menghalangiku."
Setelah mengatakan itu, Reygan pergi meninggalkannya begitu saja. Doni menatap dengan nanar kepergian Reygan.
"Semoga Anda tidak menyesalinya." lirihnya.
***
Reygan sampai di rumah megahnya. Wajahnya masih tanpa ekspresi sejak beberapa terakhir. Laki-laki itu telah kembali seperti Reygan selama delapan tahun. Suram dan gelap. Hidup tapi seperti tidak hidup.
Langkah kakinya dengan mantap memasuki rumah. Ruangan demi ruangan terlewati.
Langkah Reygan terhenti tiba-tiba begitu mendengar suara tawa dari taman yang ada di tengah rumahnya. Suara Giselle. Reygan sangat kenal suara itu.
Reygan menggelengkan kepalanya. Dia berpikir tengah berhalusinasi karena terlalu merindukan putri kecilnya.
Reygan mengabaikan suara itu, dan melanjutkan langkahnya. Tetapi suara itu semakin jelas memenuhi gendang telinganya.
"Hayo mau lari kemana kamu. Sini Kakak makan..."
Bukan hanya suara putrinya, suara Steve juga terdengar jelas dari sana. Dan Reygan sadar, dia tidak sedang halusinasi.
"Tidak mungkin." gumam pria itu.
__ADS_1
Reygan ingin berharap akan apa yang baru saja melintas di pikirannya.
Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Reygan melangkahkan kakinya menuju taman. Tidak terlalu jauh, hanya butuh beberapa langkah, Reygan sudah sampai di sekat pembatas kaca.
Reygan membuktikan bahwa dia tidak sedang mengalami halusinasi. Maniknya yang hijau, kini melihat putra dan putrinya tengah bermain-main di pinggir kolam ikan milik Rudi.
Beberapa kali Reygan mengucek matanya. Tetapi anak-anak itu terlihat nyata.
"Steve... Giselle..." panggilnya.
Nyatanya, kedua anak itu menoleh, menandakan bahwa ini adalah kenyataan.
"Papa...." suara Giselle yang nyaring disertai senyum sumringah.
"Naina pulang?" gumamnya. Maniknya melihat kedua buah hatinya mendekat. Terlebih Giselle, putri kecilnya itu berlari, lalu menerjang pelukan sang Papa.
"Papa..." Giselle memeluknya sangat erat. Seolah takut kehilangan lagi. "Papa... Giselle kangen...."
Reygan menghujani putrinya dengan ciuman hangat penuh kasih sayang. "Iya sayang. Papa juga kangen Giselle."
Hati pria itu menghangat. Wajah putri kecilnya seolah telah membangkitkan semangat hidupnya yang hilang. Wajahnya cerah dan berseri-seri.
"Bagaimana kalian bisa ada di sini hmm? Dimana Mama? Siapa yang membawa kalian ke sini?" cecar pria itu.
Meski Reygan sangat bahagia akan kehadiran anak-anaknya, tetapi Reygan akan lebih bahagia jika melihat kehadiran wanitanya.
"Kita diantar Paman Chris Pah. Mama masih di Jerman." jawab Steve.
Deg...
Reygan bagai terlempar sampai ke dasar jurang setelah melayang terlalu tinggi. Melihat kedua anaknya ada di sini, membuatnya yakin Naina juga ada di sini. Tetapi tebakannya salah. Padahal dia sudah berharap terlalu tinggi.
__ADS_1
Nyatanya wanita itu masih tetap membencinya.
TBC