
Naina langsung sadar begitu mendengar penuturan Reygan. Dia melihat tangannya yang masih bertengger di perut kotak-kotak itu. Matanya melebar, dengan cepat menarik tangannya.
Membuat Reygan tersenyum puas. Reygan pura-pura menggelengkan kepalanya, "Ck, ternyata kamu sangat terpesona dengan keindahan tubuhku ya." ucap pria itu sengaja, dan semakin membuat wajah Naina merah padam.
"Tidak!" elaknya.
Sebenarnya Naina sudah sangat malu. Rasanya dia ingin menghilang saja dari bumi.
"Tidak usah malu kalau kamu memang menginginkannya." ucap Reygan dengan senyum usilnya. "Kamu boleh memegang tubuhku sesukamu kalau kamu mau."
"Tidak! Aku tidak sudi!" tolaknya mentah-mentah, sehingga membuat Reygan tertawa.
"Dasar munafik. Kamu bilang tidak sudi, lalu yang tadi apa?"
Naina mengalihkan pandangannya, dia tidak tahu mau menjawab apa.
"Ck. Jangan malu-malu Naina. Aku tahu isi hatimu. Kamu masih ingin..."
"Cukup!" potongnya. "Menyebalkan!" gerutunya lalu hendak pergi. Tapi Reygan menghentikannya sebelum itu terjadi.
"Eits, mau kemana?"
"Steve belum bangun. Dia harus siap-siap!"
"Bantu aku lebih dulu." melihat jam dinding, "Lima menit masih lagi, belum terlambat." ucapnya.
Naina pasrah bercampur kesal. Mengambil kembali kemeja yang dipilihnya untuk Reygan pakai.
Reygan sedari tadi tersenyum puas, karena telah berhasil membuat istrinya sangat malu. Wajah itu sangat menggemaskan baginya.
Naina menggerutu sambil mengancing kemeja itu. "Masa celana bapak aku juga yang pasang?!" ketusnya.
Reygan mengalah, lalu memakai sendiri celana bahan di depan Naina tanpa tahu malu. Naina berdecih. Mengambil dasi dari rak.
Keduanya saling memandang sesaat. Reygan peka, tiba-tiba mengangkat Naina agar duduk di sebuah rak untuk menyamakan tinggi mereka.
__ADS_1
Naina mulai memasang dasi. "Kenapa kamu sangat pendek?" pria itu berbasa-basi.
Naina diam saja, tidak berminat menjawab.
"Apa kamu keturunan kurcaci?" ucap pria itu tanpa berpikir lebih dulu.
Naina berhenti tiba-tiba, "Mungkin saja. Karena aku tidak tahu siapa orang tua kandungku." jawabnya apa adanya.
Sebenarnya Naina sudah terbiasa dengan hal ini. Tapi pasti perasaan sedih tetap tinggal di hatinya.
Reygan menyadari ucapannya. Dia tidak ingat bahwa wanita di hadapannya adalah seorang yatim piatu. Pertanyaan seperti itu pasti sangat sensitif baginya.
Naina melanjutkan kegiatannya. Sekali lagi, dia menanam kesedihannya dalam-dalam.
Reygan diam sampai Naina selesai merapikan dasinya. Hingga dia sadar ketika kakinya disentuh.
Reygan menunduk, terkejut melihat Naina yang hendak memasang sepatunya.
Pria itu segera ikut menunduk, meraih Naina agar berdiri.
"Apa yang kamu lakukan?" pria itu berucap, tersirat emosi yang tidak dia mengerti. Dia tidak suka Naina melakukan hal seperti tadi.
"Jangan lakukan itu!" tegasnya. "Itu bukan tugasmu. Aku bisa melakukannya sendiri." jelas Reygan. Menatap mata jernih itu dalam-dalam.
Naina mengatupkan bibirnya, mengangguk samar. Merasa tugasnya selesai, dia pikir akan membangunkan Steve.
"Aku akan ke kamar Steve." ucapnya sebelum pergi.
Naina pergi tanpa dihalangi oleh Reygan. Mengingat orang tuanya yang telah membuangnya dua puluh tiga tahun lalu, entah mengapa membuat ulu hatinya berdenyut sakit.
Tangan mungilnya menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya. Dia ingin menangis, tapi berusaha sekuat mungkin menahannya.
Naina hampir meraih gagang pintu kamar. Tapi tiba-tiba, tubuhnya ditabrak dari belakang. Sosok bertubuh besar melingkupi tubuhnya. Mendekap tubuh mungilnya dengan sangat erat.
Reygan.
__ADS_1
Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Naina. "Kamu menangis?" ucapnya lembut.
Naina terkejut, "Tidak." elaknya. "Bapak ngapain peluk-peluk. Lepas." ucapnya sambil berusaha lepas.
"Kamu menangis." balas Reygan.
Pria itu memaksa Naina berbalik menghadapnya. Dan benar saja, wajah wanita itu sembab oleh air mata.
Reygan terenyuh. Melihat Naina seperti saat ini, justru malah membuat hatinya sakit. Dia tidak suka Naina menangis.
Pria itu menyeka air matanya lembut. Sedangkan tangan lainnya mengusap rambut Naina.
"Maafkan aku." lirihnya.
Naina diam, isak tangis mulai terdengar. "Sst... jangan menangis."
"Mungkin di masa lalu, orang tuamu membuangmu. Tapi sekarang kamu tidak boleh bersedih lagi. Karena sekarang kamu sudah memilikiku." ucapnya yang berusaha membuat Naina tidak bersedih lagi.
Naina mematung, dia tidak mengerti maksud pria itu.
"Kenapa diam saja? Kamu tidak senang memiliki diriku?" Reygan heran karena Naina hanya diam saja.
"Naina..."
"Aku kaya..."
Naina masih diam.
"Sangat kaya raya. Hartaku tidak akan habis sampai tujuh keturunan."
Masih diam. Membuat Reygan berdecak kesal.
"Aku duda keren beranak satu. Dan aku diberi julukan hot daddy. Harusnya kamu bersyukur memiliki diriku."
Untuk yang terakhir Naina bereaksi. Semburat senyuman tipis terbit di wajahnya. Naina langsung menenggelamkan wajahnya dalam dekapan hangat pria itu.
__ADS_1
"Terima kasih." lirihnya.
TBC