My Bule Husband

My Bule Husband
Merasa risih


__ADS_3

Di sebuah apartment, Alena geram sendiri karena Reygan menolak panggilannya. Wanita itu mencaci, kesal karena gagal bertemu Reygan hari ini.


"Rey kamu kemana sih?!" gerutunya sambil mengutak-atik ponselnya.


Alena kesal karena tidak biasanya Reygan mengabaikan dirinya. Reygan yang membuat janji untuk rencana liburan mereka hari ini. Tapi pria itu malah susah dihubungi.


Tiba-tiba sebuah pesan datang dari Reygan, "Aku sedang menemani putraku hari ini. Maaf rencana kita hari ini kita tunda dulu."


Alena mendesis, "Berarti Reygan lagi sama istrinya?"


"Benar-benar keterlaluan!" geramnya. "Wanita itu, kamu sudah mulai beraksi rupanya."


Dia menyeringai jahat, "Tapi liat aja nanti. Sampai kapanpun kamu nggak bakal bisa ambil hati Reygan!"


***


Reygan keluar menyusul anak dan istrinya di mobil. Lagi untuk yang kedua kalinya kesal karena keduanya duduk di kursi penumpang.


"Kita mau kemana?" tanya Reygan sambil menyalakan mobil.


"Emm... kemana ya? Ma, kita kemana dulu, taman hiburan atau nonton?" tanya Steve.


"Taman hiburan dulu, nanti agak sorean kita nonton." jawab Naina.


Reygan berdehem, "Baiklah, kita ke taman hiburan." ucap Reygan.


Mobil mulai melaju, menyusuri pusat kota Jakarta. Selama perjalanan Naina lebih banyak diam, tidak merasa nyaman akan kehadiran Reygan. Apalagi mobil ini adalah mobil yang sama, dimana Reygan tidak senonoh padanya.


Sesekali dia mengobrol dengan Steve yang kerap melontarkan rasa keingintahuannya.


Tidak berapa lama, mereka sampai di sebuah pusat taman hiburan terbesar di kota Jakarta. Steve sangat antusias. Bocah itu menunjuk banyak wahana yang ingin dia naiki.


"Pa, Ma. Steve mau coba semua wahana di sini." ucapnya semangat.


Tapi, bagaimana pun Steve masih anak kecil. Tentu dia tidak bisa menaiki wahana-wahana ekstrim itu.


"Sayang, jangan dulu ya." sanggah Naina.


"Kenapa Ma?"


"Kamu masih kecil sayang. Bahaya kalau anak sekecil kamu naik ke sana. Lagian nanti petugas nggak bakal kasih kamu masuk." jelas Naina.


"Yah..." Steve mendesah. "Terus Steve naik apa dong Ma?"


Naina tersenyum, "Udah nggak usah khawatir. Masih banyak wahana yang bisa kamu naiki." ucap Naina menyenangkan.


"Ya udah deh."


Setelah melihat-lihat taman hiburan yang lumayan ramai, Steve akhirnya memilih naik rollercoaster mini khusus anak-anak.

__ADS_1


Reygan melihat Naina membawa Steve menuju wahana itu.


Selama pagi menjelang siang, mereka menghabiskan waktu di taman hiburan. Sesekali Naina ikut mencoba wahana bersama Steve, sedangkan Reygan tidak. Lelaki itu hanya memperhatikan keduanya layaknya pengawal anak dan istrinya.


Reygan merasakan Naina yang menghindarinya terang-terangan. Saat Steve bermain sendiri, Naina mengambil jarak yang cukup jauh dari Reygan.


Hingga akhirnya Steve puas bermain-main saat hari semakin siang, "Mama, Steve lapar." ucapnya.


"Ya udah kita pergi cari makan." ucap Naina.


Mereka hendak pergi, tetapi seorang anak remaja laki-laki menghampiri mereka, dengan sebuah kamera polaroid di tangannya.


"Bu, mau saya fotoin?" ucap anak itu.


Naina memperhatikan anak tersebut, tapi Steve langsung menyahut. "Mau. Steve mau foto sama Mama." ucapnya riang.


"Steve mau?" ucap Naina.


Steve mengangguk, "Steve nggak pernah punya foto keluarga." ucapnya. Tentu saja, ibu kandungnya meninggalkannya sejak masih bayi.


Naina akhirnya mengangguk, bisa merasakan kesedihan Steve, "Ok deh. Dek, foto yang bagus ya."


"Siap Bu."


Naina dan Steve berdiri bersebelahan, membuat remaja itu bingung melihat keberadaan Reygan.


"Om nggak ikut?" ucap remaja tersebut pada Reygan yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Steve berada di tengah keduanya, "Om tolong letakkan tangannya di bahu adeknya." ucap remaja itu, karena Reygan memberi jarak pada Naina.


Remaja tersebut mulai membidik, tetapi posisi Reygan masih belum pas, "Om, bisa lebih dekat dikit ke istrinya?"


Reygan diam sejenak, melihat Naina berwajah datar, sampai akhirnya dia memegang pinggang Naina. Naina melebarkan matanya, melihat Reygan, tapi Reygan seperti merasa tidak bersalah.


"Nah, begitu." ucap remaja itu. Dan mulai mengambil gambar. "Senyum Bu." karena wajah Naina yang berkerut kesal.


Naina memaksakan senyumnya, beberapa detik sampai anak itu selesai menjepret.


"Ganti pose." ucap remaja itu.


"Mama, Papa, peluk Steve." ucap Steve karena Reygan dan Naina canggung.


"Nah, boleh tuh Om, Bu."


Naina dan Reygan menyamakan tinggi dengan Steve, keduanya ragu, tapi tetap saja melakukan apa yang remaja itu katakan.


Rasanya Naina ingin momen ini cepat berakhir. Karena Steve masih saja meminta mereka berpose dengan lebih intim dengan Reygan. Tetapi dia tidak bisa apa-apa selain menuruti Steve. Dia tidak ingin Steve merasa sedih.


Lima menit kemudian mereka akhirnya selesai.

__ADS_1


"Ini Bu, fotonya." remaja itu memberikan hasil jepretan kameranya.


Tanpa diminta Reygan langsung membayar remaja itu.


"Uangnya kebesaran Om."


"Ambil aja kembaliannya." ucap Reygan


Remaja itu senang, "Makasih Om." Sebelum pergi remaja itu berkata, "Om lagi marahan ya sama istrinya. Kalo iya, srepet aja tiap malam Om, dijamin istrinya nggak marah lagi." seloroh remaja itu dengan senyum jahilnya, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan mereka.


Naina mendelik, ucapan anak itu terdengar ambigu. Sedangkan Reygan berwajah datar, tidak menanggapi ucapan anak itu.


Mereka kemudian pergi ke sebuah restoran cepat saji sesuai permintaan Steve, yang tidak jauh dari area taman hiburan.


"Mama abis ini kita nonton kan?" tanya Steve sambil melahap paha ayam kesukaannya.


"Makannya pelan-pelan aja. Iya, abis makan kita nonton." ucap Naina.


Naina berusaha mengabaikan Reygan yang memandanginya sejak tadi. Dia sangat risih dengan keberadaan pria itu.


Tiba-tiba ponsel Reygan berdering, tapi pria itu tidak mengangkatnya. Tetapi lagi ponselnya berdering sampai beberapa kali dan Reygan tetap menolaknya.


Naina tersenyum tipis, karena melihat nama Alena terlihat jelas di layar ponsel pria itu.


"Kalau ada urusan pergi aja. Biar aku sama Steve aja yang nonton." ucap Naina tiba-tiba.


Reygan tertegun, dalam satu hari ini pertama kalinya Naina bicara padanya. Dan itu membuat jantungnya berdebar.


Sesaat kemudian ponselnya berbunyi, Reygan akhirnya bangkit dari kursinya. "Aku keluar bentar." pamitnya pada Naina.


Naina tersenyum kecut, ternyata Reygan lebih mementingkan wanita itu dari pada putranya sendiri.


"Papa mau kemana Pa?" tanya Steve.


"Papa ada urusan. Jadi kita nontonnya berdua aja, Steve nggak papa kan?" ucap Naina.


"Asal Steve sama Mama, nggak papa kok." jawabnya kemudian lanjut melahap ayam gorengnya.


Selesai makan, Steve dan Naina keluar dari restoran. Mereka berencana pergi ke bioskop dengan taksi.


Naina hampir memanggil taksi yang parkir tidak jauh dari sana, tetapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka.


Kaca mobil terbuka, "Ayo naik." ucap Reygan.


Kening Naina berkerut heran, bukannya Reygan pergi menemui Alena, tapi kenapa dia masih di sini?


"Bukannya tadi Papa ada urusan?" tanya Steve setelah masuk ke dalam mobil.


"Tidak ada yang lebih penting dari pada kalian." ucap Reygan dan itu sanggup membuat Naina terperangah.

__ADS_1


Pria dingin itu mulai mencair.


TBC


__ADS_2