
Naina mendorong dadanya begitu merasakan Reygan akan mencumbunya lagi. Dia memaksa, menarik diri dari dekapan pria itu. Dan berhasil, yang hampir membuatnya jatuh terjungkal ke belakang. Untung Naina bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Dia menatap Reygan dengan tajam, wajahnya merah padam, marah bercampur malu dan hampir membuatnya terbang melayang.
Reygan telah mencuri ciuman pertamanya!
Naina ingin mencela, tapi dia tahu bahwa Reygan akan menggunakan status mereka untuk melawannya. Dirinya adalah adalah istrinya, dan Reygan berhak melakukan apapun padanya.
Naina benci fakta itu. Dia tidak mau disentuh oleh suaminya sesuka hatinya.
Naina hanya bisa menarik nafas beberapa kali, berusaha meredam kekesalannya. Dia sangat kesal sampai-sampai ingin menangis saja. Dia tidak bisa melawan pria itu.
"Maafkan aku." Reygan berucap setelah menyadari perbuatannya. Pria itu juga tidak menyangka, telah berbuat sejauh itu pada Naina.
Naina mengalihkan pandangannya, lalu berdiri.
"Aku mau pulang!" sarkasnya sambil berjalan keluar dari ruangan sang suami.
Reygan yang melihatnya segera menyusul. Berjalan beberapa langkah di belakang sang istri. Sebenarnya belum waktunya pulang, dan masih banyak pekerjaannya yang harus diselesaikan. Tapi, entah mengapa dia tidak ingin jauh dari Naina, membuatnya meninggalkan semua pekerjaan pentingnya.
Keduanya sampai di rumah pukul lima sore. Steve menyambut Naina dengan wajah cemberut.
"Kenapa Steve?" tanya Naina begitu memasuki rumah. Nampaknya Steve langsung turun dari kamarnya begitu dirinya pulang.
"Kenapa Mama nggak jemput Steve dari sekolah?" tanya anak itu.
Naina terkejut, karena perdebatan antara Chris dengan suaminya, dia lupa menjemput putranya.
__ADS_1
Naina berlutut sambil memegang wajah Steve. "Maafin Mama ya sayang. Mama sibuk di kantor karena hari ini hari terakhir Mama kerja. Kerjaan Mama banyak dan harus selesai hari ini."
Mendengar alasan Naina, Steve tidak lagi marah. Anak itu sangat mudah dibujuk.
"Jadi Mama nggak kerja lagi mulai besok?"
"Hmm, Mama akan tinggal di rumah mulai besok."
Steve tersenyum, dia senang karena akhirnya bisa bersama Naina lebih lama.
Steve melihat Reygan yang berada di belakang Naina, "Mama pulang sama Papa?"
Naina mengangguk samar, "Kamu di sini dulu ya. Mama mau ganti baju dulu." Naina buru-buru meninggalkan mereka.
***
Pintu kamar mandi terbuka, Reygan muncul dengan piyama satin hitam, melekat di tubuh kekarnya. Sejenak Naina memberanikan diri, dia berusaha melupakan kejadian tadi siang di antara mereka.
Gadis itu duduk, sambil memeluk selimut tebalnya.
"Pak..." panggilnya dengan pelan, tapi masih terdengar oleh Reygan.
Pria yang tengah duduk di sofa itu menoleh. Pria itu biasa saja, nampaknya tidak mengingat ciuman tadi siang.
"Ada apa?" tanya pria itu saat menyadari kegugupan Naina.
"Aku... aku ingin bekerja." ucap Naina dengan suara pelannya.
__ADS_1
Reygan mengerutkan keningnya, berpikir bahwa Naina akan memulai perdebatan lagi.
"Maksudku, aku akan sangat bosan jika hanya di rumah saja mulai besok. Jadi aku ingin membuat kesibukan dengan membuka usaha sendiri." jelas Naina agar Reygan tidak salah paham.
Reygan mengerti maksud sang istri. Tadinya dia hampir marah.
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, asal jangan bekerja pada orang lain!" tegas pria itu. Yang mana membuat Naina tersenyum cerah.
"Usaha apa yang ingin kamu mulai?" tanya Reygan lagi dan itu semakin membuat Naina sumringah.
"Aku... aku bisa membuat kue. Dulu waktu kuliah, aku bekerja di toko kue Kak Risa." ucap Naina semangat. "Aku ingin membuka toko kue."
Reygan juga tahu itu dan dia hanya mengangguk saja.
"Jadi aku bisa membuka toko kue?" Naina berharap Reygan tidak sedang bercanda.
Reygan mengangguk samar, mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan senyumnya dari jangkauan Naina.
Naina tersenyum senang, "Terima kasih banyak."
Setelah percakapan singkat mereka, Naina akhirnya bisa tidur. Saking senangnya, saat tidur pun gadis itu tersenyum dalam tidurnya. Dan itu tidak luput dari pandangan Reygan yang berdiri di sebelahnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Naina sangat unik. Dalam sehari gadis ini bisa berubah-ubah. Kadang dia sangat kesal, senang, ceria, lalu tiba-tiba marah. Naina bagaikan anak kecil yang ekspresif dan aktif terhadap segala sesuatu.
Reygan ikut bergabung ke atas ranjang, tidur di sebelah sang istri. Mulai saat ini, dia akan tidur bersama Naina.
Sebelum matanya benar-benar tertutup, pria itu memandangi wajah cantik yang tengah tersenyum itu.
__ADS_1
TBC