My Bule Husband

My Bule Husband
Lebih memilih wanita lain


__ADS_3

Naina termangu, ternyata Reygan menyadari kelakuannya?


"Siapa yang liatin bapak?!" sanggahnya. Wajahnya merah padam. "Nggak ada ya. Ngapain aku liatin bapak. Emang aku kurang kerjaan apa?" gerutunya.


Reygan terkekeh, "Kamu tidak pandai berbohong." sahutnya singkat membuat Naina semakin kesal.


Naina ingin berdebat, tapi gagal karena seseorang mengetuk pintu. Reygan segera bangkit membuka pintu. Ternyata makan malam mereka sudah sampai.


Saat Reygan mengambil makan malam, tiba-tiba ponsel Reygan yang tadi di atas nakas berbunyi. Naina melihatnya tanpa sengaja, sebuah pesan dari Alena.


Awalnya Naina tidak peduli, tapi rasa penasaran muncul begitu saja. Naina melihat ponsel, menunjukkan pesan dari Alena masih muncul di layar.


Rey, kamu dimana? Di sini hujan. Hujannya deras banget. Aku takut. Kamu datang ke apartment aku ya?


Pesan beruntun dari Alena. Saat Reygan mendekat, Naina segera mengalihkan pandangan.


Reygan mengangkat meja makan kecil di depan Naina, meletakkan beberapa menu di sana.


"Makanlah." ujar pria itu.


Naina mengangguk. Reygan duduk juga di sampingnya sambil makan.


"Nanti kalau Bapak udah siap makan, bapak pulang aja." kata Naina disela ucapannya.


Reygan berhenti, menatap Naina bingung.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri kok di sini. Lagian ada suster sama dokter. Lebih baik bapak pulang, ganti baju dan istirahat." jelasnya lagi.


Reygan menyipitkan matanya, "Habiskan dulu makananmu, baru bicara!" sahut Reygan tegas. Membuat Naina menjadi bungkam.


Naina mengerucutkan bibirnya, "Baiklah." gumamnya.


Beberapa menit kemudian, keduanya selesai makan. Tanpa diminta, Reygan membereskan bekas sisa makan malam Naina.


"Bapak pulang aja." ucap Naina lagi.


Reygan menatap tidak suka, "Kamu mengusirku?!" sarkasnya.


"Emang iya." ucapnya dalam hati.


"Eh, bukan gitu maksud aku. Bapak kan udah capek jagain aku dari siang. Mending Bapak pulang, istirahat. Sekalian besok kalau mau kerja, tolong antar Steve ke sekolah. Dia pasti sedih karena nggak ada yang antar."


Bibir Naina berkerut, "Ya udah terserah bapak."


Reygan berdecak kesal "Ck. Bisa tidak berhenti memanggilku dengan panggilan itu. Aku bukan bapakmu. Memangnya kapan aku menikah dengan ibumu?" protesnya.


"Terus aku manggil apa?"


"Terserah. Asal bukan panggilan itu." kesalnya.


Naina bingung mau memanggil apa. Dia bergidik saat beberapa panggilan muncul di pikirannya.

__ADS_1


"Ih menggelikan." ucapnya tanpa sadar, membuat Reygan menggelengkan kepalanya heran.


"Panggil namaku saja!" usul pria itu.


"Tapi bapak lebih tua dariku. Kita beda dua belas tahun. Kan nggak sopan."


Reygan memutar bola matanya jengah, "Terserah. Terserah kamu saja."


Reygan jengkel. Akhirnya dia memilih melanjutkan pekerjaannya.


Naina tidak merasa bersalah, mengangkat bahunya. "Dia kenapa?" lirihnya.


Naina fokus ke tv. Dia masih belum mengantuk jadi dia akan menonton film kesukaannya.


Selama setengah jam keduanya tidak bicara. Keduanya sama-sama fokus dengan kegiatannya. Lama-lama akhirnya Naina mengantuk juga. Apalagi suster baru saja menyuntikkan obat pereda nyeri membuatnya mengantuk lebih cepat.


Tiba-tiba ponsel Reygan berdering di atas nakas. Reygan segera bangkit menuju ponselnya berada.


"Ada apa Alena?" ucapnya.


Hening beberapa detik, "Iya, aku akan datang." ucap Reygan sambil memperhatikan Naina yang sudah terlelap.


"Iya, setengah jam lagi aku sampai." ucapnya sebelum menutup telepon.


Pria itu mengantongi ponselnya. Sejenak memandang Naina. Kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Naina sendirian di sana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2