My Bule Husband

My Bule Husband
THE END


__ADS_3

Senyum menawan di wajah Naina tiada hentinya merekah sejak ia mengenakan gaun putih panjang yang menjuntai hingga ke lantai. Bahunya terbuka, menampakkan kulit putihnya yang mulus dan bersinar di bawah pantulan sinar matahari dari jendela kamar.


Ketika penata rias menyelesaikan polesan terakhir di bibirnya, wanita itu benar-benar terkesima akan kecantikannya sendiri. Benar-benar berbeda dari tampilannya seperti biasa.


"Anda cantik sekali Bu." puji penata rias tersebut sambil mematut penampilan Naina di cermin raksasa itu. "Pak Reygan pasti terpesona saat melihat Ibu." timpalnya.


Naina hanya tersenyum malu, "Kamu bisa aja."


"Mama." panggil Steve yang baru saja memasuki kamar rias. Anak muda itu pun begitu menawan dengan setelan jas berwarna hitam, sepadan dengan gaun Naina yang memang dirancang khusus untuk mereka satu keluarga.


Benar saja, Steve sangat terpesona dengan penampilan Naina saat ini. Karena memang, Naina sangatlah cantik hari ini.


"Sudah siap?" tanya Steve.


Naina mengangguk, lalu dengan senang hati menyampirkan tangannya di lengan sang putra.


"Mama cantik sekali." puji Steve sembari menuntun Naina menuju pelataran dimana kedua orang tuanya akan meresmikan pernikahan mereka dengan perayaan meriah.


"Terima kasih sayang."


"Steve yakin, Papa pasti terpesona sama Mama."


Naina tersenyum manis, meski begitu dia merasa gugup saat ini. Bagaimana tidak, pernikahannya untuk yang kedua kalinya bersama Reygan, telah digelar di sebuah hall raksasa di sebuah hotel berbintang. Tak lupa, pernikahannya kali ini dihadiri oleh ratusan orang yang berasal dari kalangan orang-orang terhormat.


Naina gugup, tapi beruntung Steve menenangkannya sebelum akhirnya mereka memasuki aula pesta yang telah dipenuhi oleh para tamu undangan.


Rupanya ketenangan Naina hanya bertahan sementara. Begitu kaki jenjangnya menginjakkan kerumunan itu, Naina merasa tubuhnya gemetaran begitu ratusan pasang mata tertuju padanya.


Namun, begitu Naina menangkap sosok itu, sosok lelaki yang berdiri cukup jauh di altar sana, kegugupan wanita itu menghilang sepenuhnya.


Lelaki itu bagai penenang bagi Naina, sehingga dia bisa melangkah menuju altar dengan perasaan bahagia. Apalagi kala maniknya melihat putri kecilnya, Giselle, yang juga terlihat cantik mengenakan gaun yang hampir mirip dengan gaunnya. Semakin bertambah kebahagiaan wanita itu, dan semakin mantap pula langkahnya menuju pelataran. Iringan musik romantis klasik tak luput menemani langkah Naina menuju kebahagiaannya.


"Sayang..." bisik Reygan begitu Steve menyerahkan Naina kepadanya.


Benar saja, Reygan tak sebentar pun mengalihkan pandangannya dari sang istri sejak muncul di hadapannya. Istrinya sangat cantik, sanggup membuat jantung Reygan bertalu-talu dengan begitu kencangnya.


***


Sekarang, lengkap sudah kebahagiaan Naina. Gadis malang yang lahir menjadi yatim piatu, dan tinggal di panti asuhan yang serba berkekurangan. Kini telah mendapatkan kebahagiaannya yang sempurna. Meski ada banyak rintangan yang Naina hadapi, tapi itu semua adalah pelajaran dan pengalaman hidup baginya.


"Selamat ya Kak, semoga pernikahan kalian bahagia selalu." ucap Sesil yang tampil memukau bersama Chris.


"Terima kasih. Kalian juga, semoga kebahagiaan selalu menghampiri rumah tanggamu." ucap Naina, tak lupa memeluk adik iparnya tersebut.

__ADS_1


"Oh ya, dimana Stella? Kalian membawanya kan?"


"Kita bawa Stella kok, itu lagi dijagain sama nanny." sambil menunjuk Stella di kereta bayi bersama pengasuhnya. Jangan lupakan, Giselle juga sudah ada di sana untuk mengganggu adik sepupunya itu.


"Anak itu, dari kemarin merengek pengen ke rumah kalian." kata Naina sambil menggelengkan kepalanya. "Mau ketemu Stella."


Mereka terkekeh, "Makanya cepat-cepat buat adik bayi Kak, biar Giselle punya adik juga." timpal Sesil dengan jenaka.


Naina terkekeh, lalu melihat suaminya yang juga tersenyum penuh arti padanya.


"Doakan saja, semoga keponakanmu yang baru ada di sini." kata Reygan sambil mengusap perut Naina.


"Tentu saja Kak." kata Sesil sambil tertawa bahagia.


Reygan tersenyum, kebahagiaannya hari ini semakin bertambah saat melihat adiknya telah banyak berubah. Sesil terlihat ceria dan berbinar sejak ia melihatnya di pesta ini. Dan Reygan bersyukur akan hal itu, adiknya sudah mendapatkan kebahagiaannya.


Reygan melihat Chris, orang yang berpengaruh besar terhadap perubahan Sesil. Meski dia tidak terlalu menyukai pria itu, tetap saja Reygan sangat berterima kasih karena telah membuat Sesil lepas dari keterpurukannya.


"Terima kasih." ucapnya sambil menepuk bahu Chris.


Chris mengangkat bahunya, tak urung melepas senyumnya yang menawan, "Semoga bahagia." jawabnya singkat.


Perbincangan keempat orang itu terasa lebih bermakna, sebab hanya ada kebahagiaan yang meliputi hati mereka masing masing. Namun, ketenangan itu terganggu oleh panggilan seseorang.


Manik Naina membola, juga Reygan dan Sesil yang juga melihat sosok wanita tua di kursi roda yang muncul entah dari mana.


"Oma..." lirih Naina dan Sesil bersamaan.


Wanita ini masih hidup? Itulah yang Naina pikirkan pertama kali ketika melihat Emma yang terlihat sangat tua dan renta. Sangat berbeda dari delapan tahun yang lalu, wanita ini masih terlihat bugar.


Begitu juga Sesil, dia langsung berjongkok di depan Emma, memegang tangannya yang lemah dan rapuh. Bagaimana pun Emma adalah sosok pengganti ibu bagi Sesil sejak ibunya meninggal. Sesil menyayangi Emma, meski ajaran wanita ini yang membuatnya berada dalam keterpurukannya.


"Oma dari mana saja? Sesil nyariin Oma dari dulu. Sesil kira Oma udah nggak ada lagi." tangis Sesil, menarik perhatian beberapa tamu undangan di dekat sana.


Sedangkan Emma tidak menjawab, tapi tetap saja air matanya menggenang di wajahnya yang keriput. Pandangannya hanya tertuju pada Naina, gadis yang pernah menderita karena perbuatan jahatnya.


"Naina...." panggilnya dengan susah payah.


Naina mengedipkan matanya, tidak tahu harus berbuat apa. Jujur saja, Naina masih merasa takut akan kehadiran Emma yang dulu selalu mengintimidasinya.


"Maafkan Oma...." suara itu begitu lemah.


"Mendekatlah Nak, jangan biarkan Oma pergi dengan perasaan bersalahnya." tiba-tiba saja Rudi berbisik pada Naina.

__ADS_1


Naina melihat Reygan, seolah meminta izin pada sang suami. Dan Reygan menganggukkan kepalanya.


Naina melangkah dengan ragu, perlahan hingga akhirnya dia ikut bersimpuh di samping Sesil.


Begitu Naina berada di hadapannya, tangan renta Emma terangkat untuk membelai pipi Naina. Mengusapnya dengan lembut, disertai perasaan bersalah yang besar.


"Maafkan Oma..." hanya itu yang bisa Emma ucapkan. Padahal begitu banyak yang ingin Emma sampaikan, tetapi untuk berkata dua patah kata saja, nafasnya sudah hampir habis.


"Maafkan Oma....Oma bersalah padamu."


Naina dia membeku, dulu dia memang membenci wanita ini karena telah membuat hidupnya berantakan. Tetapi saat ini, Naina tidak sampai hati untuk menolak permohonan ampunan wanita ini begitu saja.


Bagaimana pun Naina memiliki hati yang tulus. Dia tidak sanggup membuat Emma sakit hati dengan jawabannya. Hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Iya Oma. Nai sudah memaafkan Oma." ucapnya lembut.


"Papa, siapa Nenek itu?" tiba-tiba terdengar suara Giselle yang bertanya pada Reygan, mengalihkan perhatian Emma pada gadis cantik itu.


Naina mengikuti pandangan itu, kemudian tersenyum.


"Sayang, kemari." panggilnya pada Giselle.


Giselle menurut saja, mendekati Naina.


"Oma, kenalkan, ini Giselle putriku dan juga Reygan." kata Naina.


"Giselle, kenalkan juga, ini Oma Emma, Neneknya Papa." jelas Naina.


Emma dan Giselle saling memandang satu sama lain. Keduanya sama-sama diliputi rasa terkejut. Apalagi Emma, melihat Giselle dia seperti melihat mendiang putrinya. Hal itulah yang membuat Emma langsung terpaku begitu melihat Giselle.


"Neneknya Papa?" Giselle mengerutkan keningnya. "Giselle nggak ngerti Mah." kata anak itu polos membuat yang lain tertawa kecil dibuatnya.


"Oma." panggil Sesil. "Kak Reygan dan Kak Naina udah kembali lagi dan mereka udah hidup bahagia. Jadi jangan menyimpan rasa bersalah lagi Oma. Kami semua udah bahagia Oma. Sesil..." Sesil menarik nafasnya berat.


"Sesil juga sudah bahagia Oma. Sesil udah nikah dan punya putri yang cantik." Sesil tersenyum haru ketika mengatakan itu.


"Kami sayang Oma, Sesil, Kak Naina, Kak Reygan, Papa dan cucu-cucumu. Kita semua sayang Oma. Oma harus harus bahagia, jangan bersedih lagi." cecar Sesil.


"Oma..." Sesil memanggil Emma yang tak kunjung memberikan reaksi atas semua ucapannya.


"Oma..." Sesil memperhatikan wanita tua itu lekat. Menyentuh wajah Emma, dan saat itu juga kepala Emma tertunduk pertanda nyawa wanita itu sudah tiada lagi.


Reygan turun tangan, memeriksa denyut nadi tangan Emma. Sepersekian detik, wajah pria itu menjadi lesu.

__ADS_1


"Oma sudah pergi." ucapnya.


__ADS_2