
Reygan tidak ingin berlama-lama menahan istrinya untuk tinggal di rumah sakit ini. Sebab berada di rumah sakit, yang ada hanya akan membuat istrinya semakin stres pasca mengetahui kegugurannya.
Seperti dugaan Reygan sebelumnya, Naina sangat terpukul akan kepergian calon buah hati mereka. Sejak malam itu, Naina menjadi pendiam dan hanya murung saja. Meski Reygan berusaha mengajaknya bicara, dan menghiburnya, tetap saja Naina tidak bergeming. Wanita itu hanya sekedar menjawab, kemudian larut dalam kesedihannya sendiri.
Reygan tidak tahu lagi bagaimana caranya menghibur Naina. Dia sudah melakukan apa yang dia bisa. Tetapi memang, untuk saat ini Naina benar-benar membutuhkan ketenangan untuk merelakan kepergian calon buah hatinya yang bahkan belum sempat dia ketahui keberadaannya.
"Sayang, jangan murung lagi dong. Nanti Papa sama anak-anak ikut sedih." kata Reygan sesaat setelah mereka sampai di depan rumah megahnya. Keduanya masih berada di dalam mobil, sedangkan di teras rumah mewah itu, telah menunggu Rudi beserta kedua cucunya.
Naina melirik keluarga kecilnya di sana. Benar. Dia tidak boleh terus-terusan bersedih seperti ini. Mungkin memang belum rezekinya untuk merawat calon bayinya. Lagi pula dia masih memiliki putranya yang tampan, Steve dan putri manisnya, Giselle.
Kedua malaikatnya yang akan selalu memberinya semangat dalam hidupnya hingga tua nanti.
Bibir wanita itu melengkung sesaat setelah setetes air mata mengalir untuk terakhir kalinya. Mengangguk dengan tatapan penuh kasih pada suaminya.
"Bagus sayang. Tetap semangat, karena kami selalu ada untukmu."
"Ayo." Reygan mengulurkan tangannya, yang disambut oleh Naina dengan senang hati.
Keduanya turun dari mobil, membuat wajah ketiga orang itu terlihat antusias.
Giselle memperhatikan Mamanya dari jauh. Wajah yang biasanya selalu ceria itu terlihat pucat, membuat hati gadis kecil itu ikut bersedih untuk sang Mama.
Pagi tadi, sewaktu masih di hotel, dia mendengar kabar bahwa Mamanya mengalami keguguran. Giselle memang belum mengerti tentang hal itu, tetapi setelah Rudi menjelaskan, gadis itu pun mengerti.
Calon adik bayinya telah pergi.
"Mama." panggil Giselle lembut.
Tidak seperti dugaannya, Naina malah tersenyum hangat pada mereka, "Anak Mama, udah pulang? Udah puas kangen-kangenan sama Stella?" sapa Naina sambil mencium pipi putrinya.
__ADS_1
Giselle diam cukup lama, memperhatikan wajah sang ibu lekat. Wanita itu terlihat baik-baik saja, meski wajahnya sedikit pucat.
"Mama nggak papa?" tanya Giselle.
Naina terkekeh, meski yang lain tahu, tawa itu hanyalah tawa palsu untuk menutupi kesedihannya. "Mama baik-baik aja kok sayang. Udah jangan sedih. Giselle berdoa aja, agar Tuhan kasih adik bayi pengganti buat Giselle, ya?" kata Naina.
Sebaliknya Giselle malah menggeleng, "Giselle nggak mau Ma."
"Loh kenapa sayang? Bukannya Giselle senang punya adik bayi lagi?"
Giselle mengangguk, "Tapi Giselle nggak mau Mama kenapa-napa lagi. Giselle baca di internet, katanya melahirkan itu sakit dan berbahaya. Giselle nggak mau, Mama kenapa-napa lagi." rengek anak itu.
Naina tertegun akan kecemasan putrinya. Bagaimana pun, hati ibu mana yang tidak berbunga-bunga dengan kecerdasan seorang Giselle saat ini.
Naina hendak menggendong Giselle tapi, Reygan segera menghadang.
"Ingat sayang. Kamu belum pulih." Reygan mengingatkan.
"Ayo sayang, kamu juga harus istirahat. Kamu nggak boleh kecapean." tak lupa Reygan menuntun istrinya masuk ke dalam rumah.
Ketika Naina bertemu pandang dengan Rudi, Naina melepas tangan suaminya.
"Papa..."
Rudi memeluknya hangat, "Jangan bersedih lagi Nak. Setelah ini, semuanya pasti akan baik-baik saja." ucap pria tua itu. Bagaimana pun Rudi telah menganggap Naina seperti putri kandungnya sendiri. Dia sangat menyayangi Naina, hingga bisa merasakan kesedihan Naina saat ini.
Naina mengangguk, "Terima kasih Pa."
***
__ADS_1
Hari sabtu pagi, merupakan hari yang cukup bagi pemilik rumah megah itu. Dimana dari yang tua hingga anak-anak, mereka akan istirahat dari aktivitas padat mereka.
Oleh karena itu, Naina bangun cukup terlambat hari ini, karena tidak ada kegiatan yang mengharuskannya bangun pagi-pagi sekali. Naina baru bangun pukul delapan, ketika mendengar suara samar-samar dari luar kamarnya.
"Hubby?" panggilnya sebab tidak melihat keberadaan suaminya di sampingnya.
Wanita itu duduk, sambil mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu bangkit dari tempat tidur untuk mencari keberadaan suaminya. Lagipula Naina penasaran akan suara ribut dari luar kamar, yang akhirnya membawanya ke kamar putri kecilnya, Giselle.
Ceklek
Begitu pintu terbuka, Naina membelalakkan matanya, begitu melihat keadaan kamar putrinya yang bagaikan kapal pecah.
Pakaian, sepatu hingga koper berserakan memenuhi lantai kamar yang terbilang luas tersebut.
"Ada apa ini?" suaranya mengagetkan ketiga orang yang tengah sibuk memasukkan pakaian dan barang lainnya ke dalam koper.
Ketiganya diam sejenak, "Sayang kamu udah bangun?" kata Reygan sambil bangun mendekatinya.
Naina mengangguk, "Hubby, ada apa ini?"
Naina melihat kamar yang bagai kapal pecah dengan tatapan sengit. Mereka tahu betul, Naina paling tidak suka berantakan.
"Ini..."
"Ayo anak-anak, kenapa lama sekali? Kapan kita berangkat, Kakek sudah tidak sabar liburan." sebelum Reygan menjelaskan, tiba-tiba Rudi datang dengan pakaian yang cukup nyentrik bagi Naina.
Baju kaos warna-warni yang dipadu dengan celana pendek berwarna putih. Tidak lupa topi pantai dengan pola pohon kelapa, yang hampir membuat Naina tertawa melihatnya.
"Naina, kamu belum siap-siap juga?" Rudi menatap sedikit kesal pada menantunya tersebut. "Ayo cepat siap-siap, kita akan liburan." seru Rudi.
__ADS_1
"Liburan?" ulangnya. Melihat keempat orang itu bergantian.
TBC