
Mengingat seperti apa wanita di hadapannya ini yang tega menelantarkannya demi lelaki kain, tentu Steve merasakan sakit hati yang mendalam. Selain Reygan, Steve juga merasa dikhianati oleh wanita ini. Wanita yang sanggup meninggalkannya di saat dirinya masih bayi.
Namun suatu kebohongan besar, jika Steve mengatakan bahwa dia tidak merindukan sosok wanita ini. Sosok yang merupakan ibu kandungnya, dan yang telah melahirkannya ke dunia ini. Darah yang sama mengalir di tubuh keduanya, wajar saja jika hati anak muda itu bergetar ketika melihatnya setelah sekian lama.
Sejak delapan tahun lamanya, inilah pertama kalinya dia melihat Natasya, ibu kandung Steve.
Mendengar anak muda ini memanggilnya 'Mami', wanita berpenampilan lusuh itu mengernyitkan keningnya sambil menatap Steve dengan bingung. Cukup lama dia memindai wajah Steve.
Manik hijaunya, dagunya yang terbelah serta hidung mancung yang terasa familiar baginya. Wanita itu berpikir keras, sampai akhirnya dia menyadarinya sendiri.
"Steve?" panggilnya ragu. "Ini kamu benar Steve?" tanya wanita itu. Wajahnya berharap, penuh antusias.
Steve masih diam, dia menatap lamat-lamat wajah sang ibunda. Anak muda itu hampir mengangguk, namun berubah menjadi gelengan kepala saat mengingat perbuatan wanita itu di masa lalu.
"Maaf, saya tidak sengaja." tukasnya dengan suara dan wajah datarnya. "Permisi." ucapnya, lalu berlalu dengan cepat dari hadapan wanita itu.
Natasya melihat kepergian anak muda itu. Dia yakin anak itu adalah Steve putranya. Tapi, sikap anak itu. Tidak mungkin Steve tidak mengenalnya. Mungkinkah Steve masih sangat membencinya hingga tidak sudi bicara padanya?
Atau anak itu memang bukanlah Steve? Natasya memijit kepalanya yang pusing sejak tadi. Sebelumnya dia tengah menahan sakit kepalanya, tapi setelah bertemu anak yang mirip dengan putranya, sakit di kepalanya semakin menjadi.
***
Setelah selesai makan malam, Reygan beserta keluarganya kembali ke resor setelah sebelumnya menikmati pemandangan di sekitar pinggiran pantai.
__ADS_1
Reygan mendekap pinggang istrinya saat akan menuju kamar mereka. Keduanya asyik bercanda dan tertawa entah membicarakan apa.
Reygan membukakan pintu kamar untuk istrinya, "Silahkan masuk Ratuku." ucapnya sambil memperagakan ala-ala pangeran.
Naina terkekeh, tapi tak urung masuk ke dalam kamar.
Hup....
Naina hampir berteriak karena sesaat pintu tertutup, lampu kamar tiba-tiba padam.
"Hubby, lampunya mati." ucapnya.
Namun tidak ada sahutan.
"Hubby?" panggil Naina.
Naina semakin ketakutan. Dia mencoba berjalan untuk mencapai pintu. Tetapi kamar sangat gelap, sehingga langkahnya tidak seimbang, dan melangkah entah kemana.
"Uhh..." meringis saat tiba-tiba saja Naina menabrak sesuatu yang keras.
Dan saat itu juga, lampu kelap-kelip yang memancarkan cahaya kekuningan menyala, sehingga menimbulkan cahaya temaram di dalam kamar itu.
Naina mendongakkan kepalanya, melihat sang pemilik tubuh berotot yang kini berdiri di hadapannya.
"Hubby, kenapa...." Naina masih bingung akan semua ini.
__ADS_1
Tiba-tiba saja pria itu berlutut di hadapannya, Naina membekap mulutnya saat sebuah cincin berlian berada dalam kilatan maniknya.
"Hubby, ini...." Naina masih bingung di tengah rasa senangnya ketika melihat cincin cantik itu.
"Naina, istriku...." Reygan mulai bicara dengan serius. "Maaf jika dulu aku tidak melamarmu dan menikahimu dengan baik. Aku menyesalinya. Tapi sekarang, malam ini aku ingin melamarmu dengan baik, dan menikahimu lagi dengan cara yang baik pula. Maaf kalau aku tidak bisa menyiapkan lamaran romantis sesuai keinginanmu, karena aku bukan pria romantis sayang. Aku hanya pria malang yang mengharapkan cintamu sayang." tutur pria itu dengan sungguh-sungguh.
Sementara Naina masih diam, dia terpaku di kelilingi oleh lilin-lilin yang menyala mengelilingi mereka di dalam ruangan temaram ini. Di tambah dengan lamaran suaminya saat ini, jantung Naina tengah bertalu-talu dengan begitu kencangnya.
"Naina, maukah kamu menikah denganku lagi?" ucap Reygan dengan suara lantang namun penuh cinta.
Naina tersenyum, maniknya berkaca-kaca. Seperti inikah rasanya dilamar? Pikirnya. Perasaannya bercampur aduk, dan Naina tidak bisa mendeskripsikan betapa bahagianya dia malam ini.
"Hubby, kamu...." Naina mengusap setitik air matanya yang menetes dengan perasaan haru.
"Sayang, cepatlah, kakiku sudah pegal." kata Reygan dengan wajah memelas, membuat Naina tertawa bahagia.
Naina mengangguk kuat, "Ehmm.. aku mau. Aku mau Hubby." jawabnya dengan suara lantang.
Reygan tersenyum bahagia, kemudian berdiri, mengambil satu cincin indah yang berkilauan itu, lalu memasangkan di jari manis Naina.
Tidak lupa, Reygan mengecup kening Naina cukup lama. Bergantian di seluruh wajahnya hingga akhirnya berlabuh di bibir wanita itu.
"Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu." bisik Reygan tepat di daun telinga Naina.
"Love you too, my hubby."
__ADS_1
TBC