My Bule Husband

My Bule Husband
Kehadirannya tak berpengaruh


__ADS_3

Naina tidak bisa menutupi hatinya yang panas, melihat Reygan memegang Natasya tepat di depan matanya sendiri. Maniknya berkedip, menahan air mata yang hampir lolos membasahi pipinya.


Prang...


Terdengar suara denting sendok yang diletakkan dengan kasar. Rudi berdiri, melayangkan tatapan jijik, dan hina ke arah mantan menantu perempuannya, Natasya. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Reygan melepaskan tangannya setelah menyadari apa yang dia lakukan. Kemudian melihat Naina yang mematung di sampingnya.


Kehadiran Natasya merupakan sebuah kejutan besar baginya. Adalah fakta jika Reygan masih belum bisa berpaling dari bayang-bayang mantan istrinya. Dan tentu saja malam ini dia harus senang karena telah dipertemukan kembali dengan wanita itu.


Tetapi di lain sisi, Naina sekarang adalah istrinya. Tidak hanya itu, hubungannya dengan Naina sudah sangat jauh dan mungkin saja sudah melibatkan perasaan. Tentu Reygan tidak bisa senang akan kehadirannya, dengan Naina yang kini sudah menggantikan Natasya.


Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Naina berdiri. Berhambur dari ruang makan tanpa sepatah kata pun.


Naina tidak bisa menahan perasaannya di sana. Melihat bagaimana tatapan Reygan yang masih penuh damba pada Natasya, berhasil menambah luka di hatinya.


Reygan sadar. Dia hendak pergi, menyusul istrinya.


"Reygan, kamu mau kemana?" Emma menahan Reygan. "Duduk kembali. Biarkan istrimu yang tidak sopan itu." sergahnya.


Tentu Reygan tidak akan menurut. Dia paling tidak suka diatur oleh Emma, meskipun dia adalah Oma-nya.


Reygan berdiri, menyusul Naina.


"Reygan." panggil Natasya, membuat langkahnya terhenti.


Reygan membalas tatapan itu, melayangkan tatapan penuh ironi.


"Maafkan aku." wanita itu menunduk penuh penyesalan.


Reygan berdecih, tersenyum sinis, "Cepat keluar dari rumah ini." ucapnya dengan suara bariton yang dingin. Lalu pergi begitu saja.


Reygan masuk ke kamarnya. Mencari keberadaan Naina. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Naina ada di dalam sana.


Reygan menunggu di depan kamar mandi. Cukup lama Naina di dalam sana, membuatnya khawatir.


Pria itu akan mengetuk pintu kamar mandi, tetapi pintu sudah terbuka lebih dulu.

__ADS_1


Naina muncul dengan wajah basah.


Reygan tahu Naina menangis dan menyembunyikan darinya. Hidung Naina merah, pun dengan matanya yang masih berkaca-kaca. Membuat pria itu merasa bersalah.


"Kamu menangis?" tanya pria itu. Suatu pertanyaan yang bodoh.


Naina menggeleng, sambil menggigit bibirnya erat. Takut tangisannya kembali pecah.


"Kami berbohong." ucap pria itu, dan langsung menarik Naina ke dalam peluknya. "Maafkan aku." katanya.


Saat itu juga, Naina tak lagi bisa menahan emosinya. Air matanya tumpah lagi, dan kali ini dalam dekapan suaminya.



"Maaf." kata Reygan untuk yang kesekian kalinya.


"Aku terkejut atas kedatangannya. Kamu tahu bagaimana dia meninggalkanku di masa lalu. Tanpa kata perpisahan sama sekali, dia menghilang. Meninggalkanku dan Steve. Aku butuh penjelasan..." Reygan berusaha menenangkan Naina.


Tapi Naina segera melepas pelukannya, menghapus air matanya.


"Naina?" Reygan tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini.


"Kalau kamu menjelaskannya lagi, kamu akan mengingat kesedihan itu lagi. Lebih baik selesaikan urusan kalian di masa lalu. Apapun keputusannya, aku siap terima." Naina menguatkan hati.


Wajah Reygan menjadi suram, makna tersirat dari kalimat Naina seolah mengartikan bahwa dirinya akan kembali pada Natasya.


"Apa maksudmu!"


Naina menggeleng lagi, membuat Reygan geram.


Pria itu menarik Naina dalam peluknya lagi, "Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kedatangan Natasya tidak berpengaruh apapun padaku. Kamu adalah masa depanku. Dan kamu harus ikut berjuang bersamaku." kecam pria itu.


Sejenak Naina merasa tenang, tapi rasa sakit itu masih ada. Dia akhirnya memeluk suaminya dengan sangat erat. Seakan takut kehilangan.


Reygan menangkup wajah mungil itu, mengecup setiap sudut wajahnya dan berlabuh di bibirnya cukup lama.


"Ingat itu Naina. Jangan sekali-kali mencoba kabur dariku."

__ADS_1


"Mengerti?"


Naina mengangguk pada akhirnya. Lalu memeluk pria itu lagi.


"Sst... jangan menangis lagi."


Pria itu menenangkan sampai Naina akhirnya tenang.


"Kamu lapar." katanya karena suara perut Naina yang keroncongan kembali terdengar.


"Em." gumamnya.


"Baiklah, duduk di sini. Elisa akan mengantar makan malam kita." ucap pria itu sambil membawa Naina duduk di sofa.


Beberapa saat kemudian makan malam sudah tersedia di atas meja. Sebelumnya Naina cukup lapar dan berselera dengan makanan itu. Tapi setelah apa yang terjadi, ***** makannya hilang, meski perutnya kelaparan.


"Ayo makan."


Naina diam, menatap tidak berselera, membuat Reygan turun tangan. Pria itu mengambil sendok, lalu menyuapkan pada Naina.


Naina terpaksa membuka mulutnya karena tatapan Reygan yang menyeramkan. Rupanya cara Reygan berhasil. ***** makannya kembali lagi, membuatnya lebih lahap memakan makan malamnya.


Selesai makan malam, keduanya menghabiskan waktu dengan menonton tv. Naina berada dalam pelukan Reygan, bersantai menonton drama kesukaannya.


Naina tertidur dengan cepat, dan Reygan memindahkannya ke tempat tidur. Sejenak memandangi Naina yang tidur dengan damai. Wanita ini terlalu lelah hari ini. Selain lelah fisik, juga lelah hati.


Terdengar ketukan pintu kamar, membuyarkan lamunan Reygan yang tengah mengagumi kecantikan istrinya.


Dengan terpaksa, pria itu berjalan membuka pintu.


Keningnya berkerut, melihat sosok masa lalunya berdiri di sana. Sendirian.


"Rey, aku ingin bicara."


TBC


__ADS_1


__ADS_2