
Sejak mengetahui ada sosok laki-laki asing yang mencoba mengambil hati istrinya, Reygan semakin was-was. Penjagaannya terhadap istrinya semakin ketat. Tidak akan membiarkan Naina bertemu dengan laki-laki asing lagi.
Seharian ini, Reygan berada di toko istrinya. Hanya karena tidak ingin jauh-jauh, pria itu mengabaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk.
"Kapan kamu akan pulang?" pertanyaan itu muncul begitu dia dan Naina sampai di kamar mereka. Tentu Naina tahu betapa sibuknya pekerjaan pria itu.
"Aku tidak akan pulang jika kalian tidak ikut." jawab pria itu santai.
"Kami akan tetap di sini!" Naina mengerti maksud Reygan. Pria itu berencana membawa dia dan anak-anaknya pulang ke Indonesia.
"Aku sudah mengurus surat-surat kepindahanmu dan anak-anak. Bulan depan kita akan semua akan pulang." kata pria itu.
Naina langsung menajamkan pandangannya. Dia merasa Reygan terlalu lancang dalam hidupnya.
"Kamu pikir kamu siapa melakukan itu? Dengar ya Reygan, kita memang masih suami istri. Tapi jangan harap aku mau menuruti perintahmu!" Naina sangat marah, karena laki-laki itu melakukan sesuatu sesuka hatinya.
Dia bukanlah Naina yang dulu, yang mudah menuruti setiap perintahnya. Dia sudah berubah. Tidak akan pernah menurut bahkan jika mereka masih dalam status pernikahan itu.
Reygan nampaknya tidak terpengaruh dengan kata-kata Naina.
"Kalau kamu tidak mau ikut, tidak papa. Tapi anak-anak akan tetap ikut denganku." ucap pria itu. Dan sanggup membuat Naina syok.
__ADS_1
Naina mengigit bibirnya, "Bajingan kamu Reygan!" umpatnya. Reygan telah memanfaatkan kelemahannya. Pria itu tahu jelas dirinya tidak sanggup jauh dari anak-anaknya.
"Mereka anak-anakku! Kamu tidak berhak mengambil mereka dariku!" teriak wanita itu.
"Tapi mereka juga anak-anakku. Dan kamu menyembunyikan mereka dariku selama delapan tahun. Apakah kamu tidak cukup jahat padaku?"
"Tapi aku tidak marah padamu. Jika memang kamu tidak ingin bersamaku tidak papa, tapi biarkan aku bersama anak-anakku. Aku juga berhak untuk mereka." tutur pria itu.
"Kamu yang jahat Reygan! Bukan aku!" wanita itu semakin geram. Reygan seolah membuat dirinya bersalah, padahal dia sudah jelas-jelas Reyganlah penjahat sebenarnya.
"Apa kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan padaku?! Kamu lupa?!" Naina sangat marah. Ingin sekali rasanya mencabik-cabik pria itu.
"Kamu yang jahat Reygan! Bukan aku!" Naina pada akhirnya tidak bisa menahan tangisnya. Wanita itu terjatuh di atas lantai. Kakinya lemas, tidak sanggup menopang berat tubuhnya.
Reygan ikut bersimpuh, menarik Naina ke dalam pelukannya.
"Kamu lebih mementingkan Natasya dibandingkan aku. Kamu selalu mengabaikanku hanya karena Natasya...." suaranya menderu, melampiaskan rasa sakitnya.
"Kamu pikir aku baik-baik saja saat itu. Tapi kamu tidak pernah memikirkan aku. Kamu hanya sibuk dengan wanita masa lalumu. Sakit Reygan. Hatiku sakit!"
Naina menangis sejadi-jadinya. Beberapa kali dia menyembunyikan perasaannya, tapi kali ini dia benar-benar tidak sanggup lagi menahannya.
__ADS_1
"Dan sekarang, kamu ingin aku melupakan semuanya dan kembali padamu? Kamu tidak berperasaan Rey. Aku membencimu!"
Reygan memeluk tubuh mungil itu erat. Memejamkan matanya, dan membayangkan apa yang telah dia lakukan pada Naina.
"Maafkan aku sayang. Aku salah. Aku menyesali semuanya. Aku benar-benar menyesal sayang." ucap Reygan.
Naina hanya menangis dalam pelukan pria itu. Meronta pun dia sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Tapi Naina bisa merasakan jantung Reygan yang berdebar sangat kencang, saat tangannya mengusap punggungnya. Kata-kata maaf terus terucap memenuhi telinganya.
"Jangan menangis lagi sayang. Kumohon... aku tidak bisa melihatmu seperti ini." tak urung, jemarinya menghapus air mata di wajah cantiknya.
"Katakan padaku sayang, apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkanku. Katakan sayang, aku pasti akan melakukan apapun permintaanmu. Katakan."
Tapi Naina hanya diam, suara tangisnya masih terdengar. Suaranya seolah tercekat oleh tangisan itu.
Melihat Naina hanya diam saja, Reygan kembali memeluknya. Memberikan kehangatan melalui dekapan itu, yang pernah hilang selama delapan tahun ini.
"Jangan ambil anak-anakku. Kumohon Rey. Jangan bawa mereka. Aku tidak bisa hidup tanpa anak-anakku." suara gumaman Naina terdengar sendu, membuat hati Reygan sedih.
TBC
__ADS_1