My Bule Husband

My Bule Husband
Jangan Takut


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, hanya keheningan yang mengisi kamar yang luas itu. Baik Reygan maupun Naina, tidak ada yang bersuara.


Naina masih mengerjapkan matanya di tengah temaramnya lampu tidur. Dia membelakangi Reygan, tapi tangan pria itu memeluk perutnya dengan posesif. Dia pikir Reygan sudah tidur.


Diam-diam wanita itu menikmati hangat pelukan Reygan. Pelukan yang sudah sangat dia rindukan selama ini.


Naina bingung dengan perasaannya. Dia membenci dan merindukan Reygan di waktu yang bersamaan. Kala mengingat apa yang telah Reygan lakukan dulu, membuat amarahnya memuncak. Tetapi ketika Reygan jauh darinya, di sama sekali tidak bisa membendung kerinduannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan hmm?" tiba-tiba suara Reygan yang berat terdengar membuat Naina buru-buru memejamkan matanya.


Reygan tersenyum, meraih wajah Naina agar menghadapnya, "Aku tahu kamu belum tidur."


Dengan terpaksa Naina membuka matanya. Tatapan tajam itu masih melekat.


"Jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku takut." kata Reygan, tanpa aba-aba mencium kedua mata Naina.


Naina ingin berontak akan tindakan semena-mena Reygan. Tapi begitu bibir Reygan menyentuh lembut kelopak matanya, amarahnya seolah padam. Jantungnya berdetak lebih kencang akibat sentuhan itu.


"Maaf karena aku tidak menemukan kalian dengan cepat." lirih pria itu sambil menyelipkan anak rambutnya dibalik telinganya.


Kesadaran Naina kembali, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tidak papa. Bahkan aku tidak berharap kamu menemukan kami." jawabnya dengan ketus.


Reygan tidak marah akan kata-kata itu, dia tetap memperlakukan Naina dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu pasti kesulitan merawat Steve dan Giselle." ucap pria itu lagi.


"Tidak juga. Steve sudah besar dan dia selalu mengerti keadaanku. Dan Giselle, aku menikmati kesendirianku dalam merawatnya tanpa bantuanmu sedikit pun!" Naina tidak mau kalah.


"Tapi kamu merindukanku." Reygan sangat percaya diri membuat Naina mendelik.


"Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak pernah sekali pun merindukanmu!" kecamnya.


Reygan tersenyum, "Jangan mengelak lagi sayang. Giselle sudah mengatakan semuanya padaku."


"Kamu percaya dengan omongan anak kecil? Jangan bodoh Reygan, apa yang tidak bisa dikatakan anak sekecil Giselle."


"Anggap saja aku bodoh. Dan aku tahu Giselle anak yang pintar karena didikanmu. Dia tidak akan mengatakan hal yang tidak-tidak." Reygan pun tak mau kalah.


Naina jengah, memutar bola matanya. "Terserah kamu saja!"


Giselle telah bercerita banyak sepanjang sore tadi. Bahwasanya Naina menunjukkan foto-foto Reygan sebagai ayah kandungnya. Naina mengatakan bahwa Reygan sangat sibuk bekerja sehingga tidak sempat mengunjungi mereka. Dan tidak pernah sekali pun Naina membuat Reygan terlihat buruk dalam ingatan gadis kecil itu.


Kali ini, Naina tidak bisa berkilah lagi. Giselle sudah membongkar semua rahasianya pada Reygan. Dan semua itu membuktikan bahwa dia masih jelas-jelas menyimpan perasaan untuk Reygan.


"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik kamu tidur." kata Reygan dan menenggelamkan wajah Naina dalam pelukannya.


Saat pagi menjelang, Naina membuka matanya akibat pantulan sinar matahari pagi menyilaukan matanya. Mengumpulkan kesadarannya dan menelusuri kamar yang sudah kosong. Reygan tidak ada lagi di sana.


Naina ingat semua yang terjadi dalam satu harian kemarin. Jantungnya berdebar saat membayangkan sesuatu di luar dugaannya. Dia mengira Reygan membawa anak-anaknya pergi.

__ADS_1


Naina bergegas bangun, lalu berlari ke kamar Giselle dan Steve. Wanita itu panik, karena kedua anaknya tidak ada di kamar mereka masing-masing.


Ketakutannya semakin besar. "Giselle, Steve. Kalian dimana Nak..." suaranya bergetar sambil menelusuri seluruh ruangan yang ada di lantai dua. Saat Naina menuruni anak tangga, air matanya sudah tidak terbendung lagi.


"Sayang... kalian dimana.. Jangan tinggalin Mama..."


Naina mencari di seluruh ruangan yang ada di lantai bawah. Hingga langkahnya sampai di ruang makan. Naina akhirnya bernafas setelah melihat kedua buah hatinya ternyata ada di meja makan.


Nafasnya terengah, tersenyum lega melihat Steve dan Giselle tengah makan dengan lahap.


"Sayang, kamu sudah bangun." Reygan yang baru saja muncul dari arah dapur menyapanya. Pria itu memakai apron di tubuh besarnya, sedangkan di kedua tangannya terdapat piring berisi nasi goreng yang masih mengepulkan asapnya.


Naina segera menghapus sisa air matanya. Dan perlahan mendekati anak-anaknya.


"Pagi Ma..." Steve menyapa dengan senyum tipis.


"Selamat pagi Mama..." Giselle dengan suaranya yang nyaring.


"Pagi sayang." balas Naina.


Naina duduk di hadapan kedua anaknya, dia tersenyum lega. Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di keningnya, "Pagi Ma..." Reygan tak lupa menyapanya sambil meletakkan sepiring nasi goreng spesial buatannya di hadapan Naina.


Naina terperangah. Apalagi panggilan itu membuatnya larut.


Lagi, Reygan mendekap bahunya erat, jemari pria itu menghapus sisa air mata di wajahnya yang sembab. Reygan seolah tahu apa yang Naina rasakan baru saja.

__ADS_1


"Jangan takut sayang. Aku tidak akan membawa pergi anak-anak, asal kamu tetap ada di sampingku." bisik pria itu. Lalu mencium pipinya singkat saat Steve dan Giselle tidak melihat.


TBC


__ADS_2