My Bule Husband

My Bule Husband
Episode 79


__ADS_3

Reygan mengepalkan tangannya sepanjang jalan menuju ruangan istrinya. Langkah kakinya panjang dan sangat terburu-buru. Seolah ruangan yang hanya dipisahkan oleh satu ruangan itu sangatlah jauh.


Begitu sampai di depan ruangan, pria itu tidak ingin menunggu dan langsung membuka pintu tanpa permisi.


Tentu orang yang ada di dalam kaget akan tindakannya. Naina begitu pun laki-laki yang digadang-gadang sebagai calon suami Naina itu sama-sama terkejut. Keduanya melihat Reygan penuh tanya.


"Rey!" suara Naina membesar.


Sementara pria itu melihat dengan bingung. "Nai, siapa dia?"


Reygan mengerutkan keningnya. Panggilan laki-laki itu terdengar seolah keduanya sudah akrab dan dekat.


Sebelum Naina bicara, Reygan dengan gagah berjalan mendekat, kemudian menarik pinggang wanita itu untuk dipeluk dengan posesif.


Pria itu masih menatap tajam, "Reygan, suami Naina." pria itu terlihat bangga memperkenalkan dirinya, membuat Naina jengah sendiri.


Naina berusaha menjauh, tapi Reygan menahannya dengan kuat.


"Suami?" pria itu terlihat terkejut.


Naina tersenyum canggung. "Iya Rich, dia... suamiku." suara Naina terdengar ragu, pasalnya selama ini Ricard tahu bahwa dia sudah berpisah dari Reygan.

__ADS_1


Ricard semakin bingung. Pria yang terlihat masih sepantaran dengan Naina, masih muda tapi tetap berwibawa. Semakin membuat Reygan kalang kabut. Dia merasa tersaingi dengan pria itu. Dia takut Naina benar-benar jatuh hati pada pria itu yang kalah jauh darinya.


Dari segi usia dan ketampanan, jelas Ricard jauh di depannya, secara dia masih muda. Sedangkan Reygan yang sudah memasuki usia kepala empat, tentu telah mengurangi ketampanannya. Membuatnya tidak percaya diri.


Namun Reygan yakin, dari sisi materi maupun kekuasaan dan jabatan, jelas dirinyalah yang menang. Laki-laki saingannya ini tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.


Tapi Reygan sadar, sekaya apapun dirinya, Naina tidak akan pernah tergiur dengan hartanya. Yang wanita itu inginkan hanyalah cinta dan kasih sayang yang tulus. Sementara dia sudah pernah membuat Naina kecewa, membuatnya takut Naina telah menemukan seseorang yang mampu memberikannya cinta tulus itu.


"Loh, Nai, bukannya kamu bilang kalau kamu sudah bercerai?" Ricard yang berkebangsaan yang sama dengan Reygan, terlihat tenang dan berwibawa meski tengah kebingungan.


Naina sudah fasih berbahasa Jerman, menjawab dengan canggung. "Aku..."


"Kami tidak pernah bercerai. Kami hanya berpisah karena salah paham. Dan tidak akan ada kata cerai di antara kami." suara Reygan menegaskan.


"Rey, bicaralah yang sopan pada Ricard!" Naina mengingatkan. Dia merasa tidak enak, pasalnya Ricard adalah sosok yang membantunya mengembangkan bisnisnya dua tahun belakangan. Ricard dapat diibaratkan sebagai konsultan bisnisnya.


"Memangnya dia siapa?" Reygan menyahut tidak ramah.


"Kenalkan, Ricard, teman Naina." Ricard langsung angkat bicara.


Pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat, tapi Reygan mengabaikannya. Dan malah melayangkan tatapan pongah penuh kesombongan.

__ADS_1


Ricard tersenyum kecut, menarik tangannya kembali.


"Nai, boleh kita lanjutkan pembicaraan kita?" Ricard mengabaikan Reygan.


"Kalian bicara lain kali saja. Aku membutuhkan istriku sekarang juga." sanggah Reygan.


"Rey!" protes Naina. "Aku lagi kerja!" gerutunya.


"Mana yang lebih penting, aku atau pekerjaanmu?!" Reygan begitu percaya diri. Berharap Naina akan mementingkan dirinya.


"Tentu saja pekerjaanku." ketus Naina.


Reygan diam sejenak, sementara Ricard melepaskan senyum puas.


Tetapi Reygan belum menyerah, dia mengabaikan ucapan Naina sebelumnya.


"Ok, kalau begitu aku akan tetap di sini. Tidak mungkin aku membiarkan istriku berduaan dengan laki-laki lain." ucap pria itu.


"Jangan terlalu berlebihan, kami hanya akan membahas pekerjaan. Lebih baik keluar."


Terlambat, Reygan sudah duduk tenang di sofa tepat di samping Naina sambil bersandar dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Naina menghela nafas. Mau tidak mau dia harus membatalkan rapatnya.


TBC


__ADS_2