
Keingintahuan Giselle masih belum berakhir bahkan setelah selesai makan siang. Malahan gadis tengik itu semakin cerewet karena Reygan juga tidak bisa memberikan jawaban yang diinginkannya.
Ditambah lagi, Steve yang semakin gencar membuat adiknya kesal, malah menunjukkan foto pernikahan orang tuanya bersama Rudi dan dirinya sendiri.
"Kasihan banget, Giselle sendiri nggak diundang di nikahan Papa Mama." Steve memanas-manasi membuat Giselle mulai merengek.
"Steve, kamu ini." kesal Naina. Lihat, manik putrinya sudah berkaca-kaca.
"Mama jahat! Mama nggak sayang Giselle lagi." rengek anak itu.
Reygan langsung menggendong Giselle, sambil melayangkan tatapan tajam pada Steve yang malah terkekeh tanpa merasa bersalah.
"Jangan nangis dong princessnya Papa. Papa Mama sayang Giselle kok. Cuma waktu Mama Papa nikah, Giselle kan belum ada. Giselle masih belum lahir." jelas Reygan.
Giselle hanya diam, mencoba memahami penjelasan Reygan.
Reygan menyipitkan matanya, dia tahu ada banyak pertanyaan nyeleneh di dalam pikiran putrinya ini yang tentunya akan membuatnya semakin pusing menghadapinya.
"Giselle jangan sedih lagi ya. Kan bentar lagi Tante Sesil akan menikah. Nanti Papa belikan gaun yang cantik untuk Giselle. Mau kan." ucap Reygan sebelum Giselle bertanya yang aneh-aneh lagi.
"Mau. Giselle mau." jawabnya antusias.
__ADS_1
Pada akhirnya Naina dan Reygan bisa bernafas lega. Untuk sementara mereka bisa aman dari pertanyaan absurd putrinya.
***
"Aaaaa...." teriakan Sesil yang baru terbangun dari tidur siangnya menggelegar di kamar yang luas itu. Membuat lelaki yang tengah nyenyak dalam tidurnya ikut terbangun.
"Kamu ngapain di sini?!" teriak Sesil, sambil mencoba berontak ingin turun dari tempat tidur.
Bukannya menjauh, tubuh wanita itu malah hampir jatuh terjerembab ke lantai. Beruntung, Chris dengan cepat menangkapnya, dan memeluknya erat.
"Kamu tidak papa?" tanya pria itu.
"Lepaskan aku. Kumohon." rintih wanita itu.
Samar-samar, kejadian dimana kehormatannya direnggut kembali berputar di kepalanya.
Chris menatap wajah wanita itu lekat. Perasaan bersalah kembali menggelayuti hatinya. Lihat, wanita ini begitu ketakutan saat melihatnya. Seolah dirinya adalah predator menyeramkan yang siap memangsa.
Bukannya melepas, Chris malah memeluknya dengan hangat. Dekapannya seolah ingin membuat Sesil tidak merasa terancam akan kehadirannya.
"Jangan takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu." bisiknya tepat di telinga Sesil.
__ADS_1
Tubuh Sesil malah semakin menegang, sebagai reaksi tubuhnya yang sangat risih akan pelukan ini.
"Kamu harus tahu, malam itu aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Semua di luar kendaliku. Aku dijebak saat itu." ucap pria itu, namun Sesil hanya diam mematung.
"Sesil, memang saat ini keadaan masih sangat rumit. Tapi aku berjanji, setelah kita menikah, aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan menjagamu dan putri kita. Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya." tegas pria itu. Memandang manik Sesil yang masih terlihat ketakutan dengan penuh kelembutan.
Chris mengusap kening Sesil yang basah karena keringat, yang menjalar merapikan anak rambutnya yang berantakan.
"Kumohon, jangan takut lagi padaku. Aku tidak akan menyakitimu."
Entah mengapa, Sesil terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Nafasnya mulai teratur, apalagi saat Chris mengusap lengannya.
Pria itu menatapnya dengan sangat lembut, membuat semua ketakutan dan bayangan kelam itu perlahan menghilang dari ingatannya.
Chris tersenyum lembut, "Kamu mau kan menikah denganku?" tanya pria itu lembut.
"Kita akan merawat putri kita bersama. Dan memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia. Kamu mau kan?" ucapnya.
"Ya jelas mau dungs🌚."
TBC
__ADS_1