My Bule Husband

My Bule Husband
Tidak ada cara lain


__ADS_3

Naina benar-benar harus menderita selama kurang lebih dua puluh lima jam ke depan. Sosok yang sangat tidak ingin dia temui kini berada dalam satu ruangan dengan dengannya.


Naina tidak bisa menutupi, betapa dia juga sangat merindukan pria itu. Tapi perasaan itu kalah oleh sakit hatinya di masa lalu.


Naina sudah lebih bisa mengontrol emosinya beberapa menit ini. Dia sudah cukup lelah karena berulang kali amarahnya memuncak setiap kali Reygan bicara padanya. Dan untuk saat ini, Naina memilih diam, dan mengabaikan setiap pertanyaan dari Reygan.


Naina benar-benar kesal, karena keadaan sama sekali tidak berpihak padanya. Mereka ada di pesawat, sehingga membuat ruang lingkupnya untuk menjauhi Reygan sangat sempit. Tidak mungkin dia melompat dari atas sini.


Dan Reygan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Sedari tadi merapalkan permintaan maaf pada wanita itu, berharap Naina terbuka hatinya. Dia tidak marah bahkan ketika wanita itu mengabaikan dirinya.


"Sayang...." suaranya penuh kelembutan. Reygan tidak berani menyentuh Naina, karena takut Naina akan marah lagi. Pria itu duduk di sebelahnya penuh mendamba.


"Anak kita, bagaimana keadaannya?" tanya pria itu, dan akhirnya berhasil memancing Naina.


Naina langsung melebarkan matanya dengan sengit. "Anak? Anak mana yang kamu maksud!" suaranya mengancam, tapi tanpa disadari ada ketakutan tersendiri dalam suara tersebut.


"Naina..." Reygan melihat betapa Naina sangat marah ketika membahas hal tersebut. "Anak kita, sekarang dia pasti sudah besar kan?"


"Cukup! Apa maksudmu. Jangan bicara sembarangan!" suaranya meninggi.


Reygan menyadari bahwa Naina mencoba menutupi sesuatu darinya.


"Aku tidak bicara sembarangan sayang. Maafkan aku, saat itu aku tidak tahu kalau sedang mengandung."


Deg...

__ADS_1


Jantung Naina kini semakin berdebar cepat. Ternyata Reygan tahu dengan kehamilannya delapan tahun yang lalu. Dia diam, tidak tahu harus berkata apa.


"Untung Dokter Mika memberitahukan semuanya padaku. Maafkan aku. Aku sangat menyesal. Dan aku terima hukuman darimu yang tidak mau mempertemukan kami. Karena di sini, aku benar-benar salah."


Melihat Naina diam saja, Reygan mencoba menggenggam kedua tangannya. Menggenggamnya dengan erat, "Tapi sekarang, tolong akhiri hukuman ini. Aku benar-benar menyesali semuanya. Tolong kembali dan hidup bahagia bersamaku. Bersama Steve dan bersama putri kita, Giselle."


Awalnya Naina tidak bereaksi, tapi ketika nama putrinya disebut, dia langsung memberontak. Tentu Naina bingung dari mana Reygan tahu keberadaan putrinya yang telah dia sembunyikan dari jangkauan Reygan.


"Bagaimana kamu bisa tahu nama putriku!" Naina berang, merasa keamanannya dan putrinya terancam. Dia takut Reygan melakukan sesuatu di luar dugaannya terhadap putrinya tersebut.


"Giselle juga putriku Nai..." Reygan menyahut.


"Tidak! Giselle bukan putrimu! Dia hanya putriku!" elak Naina membuat Reygan merasakan sakit hati untuk yang kesekian kalinya.


"Sayang...." pria itu memohon.


Kini Reygan tahu, mungkin ini yang Naina rasakan ketika diabaikan dan selalu dibohongi di masa lalu. Atau mungkin lebih parah lagi.


Setelah menemukan Naina, tidak lama setelah itu, Doni akhirnya menemukan dimana Naina tinggal selama ini, melalui jejak yang Naina tinggalkan beberapa hari ini.


Reygan tidak menyangka, bahwa orang yang menyembunyikan Naina darinya tidak hanya Chris, tetapi juga Ayah dan Putranya sendiri. Pria itu ingin marah karena merasa dibohongi, tetapi tidak kuasa karena dalam hal ini dirinya yang bersalah. Rudi dan Steve seolah membuat dirinya merasakan sakit seperti yang pernah Naina rasakan.


Dua puluh lima jam terlewati dengan penuh emosi. Reygan selalu memperlakukannya dengan baik, meski Naina mengabaikan dan tidak jarang berlaku kasar pada Reygan.


Setelah pesawat mendarat, Naina buru-buru meninggalkan kabin penumpang. Tetapi Reygan segera menghadang.

__ADS_1


"Minggir!" sentaknya. Tapi Reygan tidak menurut. "Biarkan aku membawamu dan anak-anak kita. Kembalilah padaku." pinta pria itu untuk yang kesekian kalinya.


Lagi, Naina menajamkan matanya, "Tidak akan pernah, itu hanya akan terjadi dalam mimpimu!" bentaknya sebelum melarikan diri dari jangkauan pria itu.


Di luar pesawat, mobil tiba-tiba menghambat langkahnya.


"Masuk ke mobil atau aku akan mengambil Giselle darimu." suara dingin Reygan memenuhi gendang telinganya membuat Naina terpaksa membalikkan badannya.


Matanya membelalak, melihat sosok cantik nan mungil di layar ponsel Reygan.


"Hai Mama...." suara gadis kecil itu menyapa Naina dengan wajah imutnya. Tapi tak sedikit pun membuat Naina senang. Justru dia malah ketakutan.


"Reygan!"


Maniknya berkaca-kaca menahan tangis. Sebab putrinya kini ada dalam genggaman pria itu. Tidak. Naina tidak akan mau berpisah dari putrinya.


"Jangan lakukan apa-apa pada putriku. Kumohon." pinta wanita itu.


"Aku tidak bodoh menyakiti putriku sendiri. Tapi aku juga ingin merawatnya." ucap Reygan dengan santai.


"Jangan ambil Giselle dariku..."


"Aku tidak akan melakukannya jika kamu mau kembali padaku." ucap pria itu. Membuat penawaran yang akan membuat Naina menurut.


Reygan tidak punya cara lain. Melihat bagaimana kerasnya hati Naina, sampai kapan pun dia tidak akan pernah mau kembali padanya. Mungkin dengan sedikit paksaan, Naina perlahan bisa menerimanya kembali.

__ADS_1


TBC


__ADS_2