
"Kenapa kamu melakukan semua itu pada mereka?" tanya Naina dengan raut wajah cemas dan sedih.
Naina telah tahu semua yang telah Reygan lakukan pada orang-orang yang merusak rumah tangganya dulu. Khususnya Sesil, orang yang paling menderita di antara mereka.
Sesil diibaratkan sebagai anak yang terbuang dari keluarganya. Tidak mendapatkan nafkah untuk memenuhi semua kebutuhannya yang serba glamor dan mewah. Sementara dia hanyalah gadis manja yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tetapi tiba-tiba saja dia harus dihadapkan dengan wajah dunia yang sesungguhnya.
Bagaimana mungkin, gadis manja sepertinya bisa mencari uang yang bahkan mengurus diri sendiri saja tidak bisa.
Naina tidak habis pikir dengan Reygan, yang tega membiarkan Sesil menghadapi kehidupan yang sulit, seperti yang pernah dirasakan. Jika itu Naina, tentu dia tidak apa-apa, karena dia sudah terbiasa hidup susah sejak masih kecil. Tapi Sesil, gadis itu terbiasa dengan kehidupan mewahnya.
Reygan hanya diam saja akan berbagai pertanyaan yang Naina lontarkan. Sejak Rudi memberitahukan nasib adik perempuannya, Reygan merasa penuh penyesalan. Karena dirinya, Sesil telah sampai di ambang kehancuran.
Naina menyentuh pipi Reygan, dan membelainya lembut. Tatapannya juga sangat lembut pada pria itu.
"Harusnya kamu tidak perlu sekeras itu pada Sesil. Dulu Sesil belum dewasa sepenuhnya, dia seperti itu karena tidak memiliki orang lain yang menyayanginya seperti orang tua sendiri. Kamu ingat kan, dulu kamu sangat sibuk dan terlalu cuek, begitu juga dengan Papa. Sesil itu sama seperti Steve, kekurangan kasih sayang. Sehingga mereka bisa bersikap seperti itu." tutur Naina.
Reygan mengangguk, lalu menyadarkan kepalanya di pundak Naina. "Kamu benar sayang, aku terlalu keras pada Sesil. Semua ini salahku."
"Sst... Sekarang bukan waktunya menyalahkan diri. Lebih baik kita cari Sesil dan membantunya menyelesaikan semuanya." usul Naina.
Reygan hanya pasrah dengan keputusan Naina, karena Reygan tahu, Naina lebih bijak dalam masalah seperti ini.
Reygan sadar, kesalahannya. Sesil sebenarnya bukanlah gadis yang selama ini dikenal sebagai gadis sombong dan pongah. Sewaktu ibu mereka masih hidup, Sesil adalah anak yang baik dan sopan pada semua orang.
Namun, di umurnya yang keempat belas, ibu mereka meninggal dunia, dan sejak itulah Sesil berubah total. Tidak ada lagi sosok ibu yang selalu menyayangi dan memperhatikannya, sedangkan Rudi dan juga Reygan sama-sama sibuk dengan pekerjaan.
__ADS_1
Yang ada hanyalah Emma, yang mengajarkan hal-hal yang tidak baik padanya. Oleh karena itu, Sesil maupun Steve menjadi anak yang kurang ramah dan tidak sopan.
***
Keesokan harinya, Reygan sudah menemukan keberadaan Sesil. Bukan hal yang sulit bagi Reygan dalam hal ini.
Begitu mendapatkan alamat, Reygan, Rudi dan Naina langsung pergi menuju dimana Sesil berada.
Selama perjalanan hanya ada keheningan, semuanya sibuk dengan perasaan masing-masing.
"Kamu yakin alamatnya di sini?" tanya Rudi, membuka percakapan. Bertanya pada Pak Ahmad yang masih mengabdi pada keluarga itu sampai sekarang.
Rudi heran dengan jalanan kumuh yang mereka lewati setelah cukup lama menempuh di jalanan kota. Rudi tidak ingin menebak, karena dia tidak yakin putrinya tinggal di lingkungan yang kotor seperti ini.
Reygan melihat ke luar, sangat kumuh dan tidak pantas untuk ditinggali. Reygan juga tidak yakin adiknya mau tinggal di sini.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan kecil, yang mungkin hanya berukuran enam kali lima meter. Bangunan itu terlihat buruk di antara bangunan yang lain. Dan tentunya tidak layak ditempati.
"Kamu tidak salah?" Rudi tidak yakin dengan apa yang dilihat.
"Ini alamat yang benar Tuan." jawab Pak Ahmad.
"Lebih baik kita ketuk saja Tuan, agar kita tahu pastinya."
Reygan maju lebih dulu. Ia sudah tidak sabar menemui adiknya yang sudah lima tahun lebih tidak bertemu. Memang Reygan mempekerjakan Sesil di perusahaannya, tapi mereka tidak pernah bertemu sama sekali. Dan Reygan tidak tahu lagi kabar Sesil setelah itu.
__ADS_1
Reygan mengetuk, tanpa bersuara dan membiarkan beberapa saat. Karena tidak ada sahutan, Reygan mengetuk lagi.
Sampai terdengar suara yang tidak asing di telinga mereka, "Iya, sebentar."
Pintu terbuka, pandangan keempat orang itu tertuju pada sosok wanita yang baru saja muncul dari balik pintu yang hampir roboh itu.
Wanita berambut ikal itu pun turut mematung, memandangi satu per satu orang-orang tersebut cukup lama.
"Papa..." lirihnya.
Reygan melihat Sesil dari atas hingga bawah. Pria itu merasa sangat miris. Wanita di hadapannya ini adalah sosok yang berbeda dari Sesil yang dulu.
Wajahnya juga penampilannya sangat lusuh dan tidak terawat. Bibirnya pucat, seperti tidak ada lagi darah yang mengaliri tubuhnya.
Mata itu, mata hijau yang sama dengannya. Selalu memancarkan kepongahan pada setiap orang yang melihatnya, kini terlihat sendu dan penuh kesedihan.
"Sesil..." Rudi mengangkat tangannya yang renta untuk menyentuh wajah putri semata wayangnya.
Sebagai seorang Ayah, Rudi merasa sakit hati melihat keadaan putrinya saat ini. Delapan tahun dia tidak bertemu putrinya, Rudi pikir Sesil dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi Rudi tidak tahu, bahwa ternyata putranya menghukum Sesil sekejam ini.
Rudi baru saja mengetahui apa yang terjadi pada Sesil, setelah beberapa hari yang lalu seseorang mengirimkan foto-foto Sesil yang bekerja di sebuah toko.
Rudi tidak yakin akan hal itu. Tetapi dia percaya setelah menyelidiki semuanya. Ternyata putrinya memiliki kehidupan yang tidak baik.
TBC
__ADS_1