
Sudah cukup lama, Sesil masih menangis pilu di dalam pelukan ayahnya, Rudi. Wanita yang pergi entah kemana beberapa hari ini, baru saja menolak keputusan yang baru saja dicetuskan. Yaitu dirinya harus menikah dengan Chris.
"Tidak papa sayang, semua ini demi kebaikan kamu dan cucu Papa." ucap Rudi sambil mengusap punggung putrinya lembut.
Sesil menggeleng, masih nampak penolakannya terang-terangan membuat Chris yang berdiri di sana sambil menggendong Stella, menatap Sesil penuh arti.
"Sesil nggak mau Pa... Sesil nggak mau menikah. Sesil bisa mengurus Stella sendiri tanpa bantuan siapa pun." wanita itu masih kekeh menolak.
Pada akhirnya, Rudi, Reygan maupun Naina mengizinkan Chris menikahi Sesil setelah mendengar semua penjelasan dari Chris. Bahwasanya pria itu memang benar-benar dijebak sehingga tanpa sengaja meniduri Sesil malam itu.
Sesil beberapa tahun yang lalu, ternyata bekerja di sebuah klub malam sebagai pelayan, demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Sebenarnya Sesil tidak pernah terbayang akan bekerja di tempat semacam itu. Namun pekerjaannya yang tidak jelas, dan juga kebutuhan hidupnya yang semakin tinggi membuatnya mau tidak mau harus bekerja di sana.
Namun kesialan rupa-rupanya menghampirinya di bulan ketiga dia bekerja di sana. Kehormatannya direnggut di bawah alam sadarnya oleh orang yang tidak dia kenal sama sekali.
Bagi seorang wanita yang selalu menjaga kehormatannya sebagai wanita, tentu peristiwa itu menjadi pukulan berat bagi Sesil. Wanita itu trauma dan mengalami depresi berkepanjangan bahkan hingga dia melahirkan putrinya.
Sebenarnya mereka tidak ingin memaksa Sesil dalam hal ini. Namun mereka tahu merawat bayi sekecil Stella tidak semudah yang Sesil pikirkan. Dan lagi pula, kondisi mental Sesil masih belum pulih sepenuhnya serta wanita itu masih awam dalam mengurus bayi.
Terlepas dari apa yang terjadi, Chris adalah sosok yang tepat untuk menjaga Sesil dan putrinya. Meski mereka sempat begitu marah pada Chris tapi mereka tahu bahwa Chris tidak akan menyakiti Sesil.
Naina turut menenangkan Sesil, "Sayang, merawat anak sekecil Stella tidak semudah yang kamu bayangkan. Stella masih kecil, masih butuh kasih sayang ayahnya." kata Naina.
Namun Sesil seolah tuli, semakin semua orang memaksanya, semakin hatinya bersikeras menolak keputusan itu.
Pada akhirnya Rudi hanya bisa menghela nafas. Sesil masih memeluknya, sangat enggan melihat kehadiran Chris yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Rudi menggeleng pelan pada Chris, seolah meminta anak muda itu bersabar menghadapi Sesil. "Lebih baik kalian tunggu di luar saja. Biar Papa yang bicara." kata Rudi.
Reygan dan Naina keluar lebih dulu, namun Chris yang masih menunggu jawaban, masih enggan pergi dari sana.
"Jangan khawatir Chris. Sesil masih terkejut dengan keadaan, makanya dia seperti ini. Keluarlah, Om akan bicara padanya."
Mau tidak mau Chris akhirnya menurut, menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.
"Sesil nggak mau Pa... Kenapa Papa masih maksa Sesil." cecar Sesil begitu mendengar pintu kamar tertutup.
Rudi menghapus sisa air mata di pipi putrinya, "Chris ayah dari putrimu Nak. Mau tidak mau, suka tidak suka kamu harus menikah dengannya. Kamu mau Stella disebut anak haram karena hubungan kalian yang tidak jelas?" tutur Rudi.
Sesil diam, jelas dia tidak menginginkan hal itu. "Lagi pula saat ini kondisi kamu masih belum pulih total sayang. Mungkin menurut kamu, kamu bisa merawat Stella sendiri. Seperti kata kakak kamu, mengurus bayi tidak semudah yang kamu bayangkan. Pasti ada hal tiba-tiba yang tidak bisa kamu urus sendiri. Kamu butuh sosok suami sayang. Stella juga butuh sosok ayah. Kamu tidak boleh egois dan malah mengorbankan Stella." jelas pria itu.
Namun, seperti ucapan Rudi, putrinya juga butuh sosok kehadiran sang ayah. Betapa egoisnya jika dia mengorbankan putrinya dalam hal ini.
***
"Meski nanti Sesil sudah menjadi istrimu, jangan sekali-kali kamu menyakitinya." ucap Reygan sarkas pada Chris. Meski sudah tahu kebenarannya, tetap saja Reygan masih tidak menyukai kakak iparnya tersebut.
Saat ini mereka bertiga berada di sofa yang ada di depan kamar Rudi.
Chris mengangguk, "Aku pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi." ucap pria itu.
"Aku akan melihatnya nanti. Jika kamu sampai membuat adikku menangis, awas saja. Aku tidak akan mengampunimu!" ancam pria itu.
__ADS_1
"Hubby jangan membuat keributan, Papa lagi sakit." tegur Naina yang tengah menimang Stella di gendongannya.
Tiba-tiba pintu kamar Rudi terbuka, Rudi muncul membuat mereka terkejut.
"Papa ngapain keluar? Kan Papa masih sakit." cerca Naina yang melihat Rudi berjalan dengan bantuan tongkatnya.
"Papa tidak papa Nak. Papa mulai merasa membaik sejak Sesil kembali ke rumah." kata pria tua itu.
Chris berdiri, "Om, Sesil?"
"Sesil ketiduran, masuklah kalau kamu ingin melihatnya." kata Rudi.
Tentu Chris tidak menolak, pria itu dengan langkah panjangnya masuk ke dalam kamar, dimana ibu dari anaknya berada.
Memang benar, Sesil tengah tertidur nyenyak di tempat tidur ayahnya. Chris mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Pria itu menatap lekat wanita yang sudah ia renggut kehormatannya. Wanita yang sangat tidak pernah dia sangka ternyata adalah putri dari Rudi yang sudah dia anggap seperti Pamannya sendiri.
"Kenapa kamu begitu keras kepala? Apakah aku semenakutkan itu sehingga untuk menatapku saja kamu begitu enggan?" lirih pria itu lembut.
Jemari pria itu tidak tahan untuk tidak membelai wajah pucat itu. Chris menyayangi wanita ini meski awal mereka bertemu dipenuhi kerumitan. Karena bagaimana pun wanita ini adalah ibu dari putrinya.
"Aku berjanji akan menjagamu dengan baik. Kamu dan putri kita, kalian akan aman bersamaku."
TBC
__ADS_1