My Bule Husband

My Bule Husband
Membuat Adik Bayi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Naina sudah bangun seperti biasanya. Membasuh wajah dan langsung meluncur ke dapur membuat sarapan untuk tiga orang laki-laki yang dia cintai di rumah ini.


Naina terlihat berbeda pagi ini. Ada aura lain yang hinggap pada wanita itu, sehingga membuat setiap orang betah melihatnya berlama-lama.


Naina membuat western food kesukaan keluarga kecilnya. Cukup simpel karena dia tinggal memanggang daging yang sudah tersedia di lemari pendingin.


Saat wanita sibuk memotong sayuran, tiba-tiba sepasang tangan kekar merayap di pinggangnya yang ramping. Pisau di tangannya hampir saja melayang, jika saja Naina tidak melihat siapa pelakunya.


"Hubby?" kejutnya. Naina menurunkan waspadanya.


Reygan sepertinya masih mengantuk. Matanya setengah terbuka, meletakkan kepalanya di bahu mungil Naina.


"Kenapa cepat sekali bangunnya hmm?" gumam pria itu.


"Aku harus membuat sarapan." jawabnya. "Hubby, tolong lepaskan. Aku harus cepat, aku masih harus membangunkan Steve." Naina berusaha melepas pelukan suaminya.


Bukan hanya tidak ingin terlambat, tetapi Naina takut pelayan lain bangun dan melihat mereka dengan posisi seperti ini.


"Hemm..." Reygan bergumam, tetapi tidak menurut.


"Balik tidur lagi yuk." ajak pria itu membuat Naina berdecak.


"Ihh..." Naina berhasil lepas. "Nggak mau. Kalau mau tidur, tidur lagi sana." gerutunya.


Reygan terkekeh, "Cium dulu." lelaki itu sangat usil.


Agar waktu memasaknya tidak terganggu, mau tidak mau Naina menurut. Dengan malu, Naina menyamakan tinggi mereka. Lalu menempelkan bibir mereka.


Reygan hampir menyesap bibir itu dan memulai ciuman pagi yang panas, tapi sayang harus gagal oleh kehadiran seseorang di sana.


Naina mendorong Reygan menjauh.

__ADS_1


"Elisa?" wajah Naina merah padam akan kehadiran Elisa yang muncul entah dari mana.


Sialnya, Elisa berwajah datar setelah menyaksikan kemesraan keduanya, yang mana membuat Naina semakin malu.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." sapa wanita yang baru saja menyandang status janda tersebut.


"Maaf mengganggu pagi Anda. Saya akan pergi." ujar wanita itu.


"Tunggu. Elisa jangan pergi." sela Naina. Dia melirik Reygan, mengusirnya dengan tatapannya.


Reygan yang juga menutupi rasa malunya terhadap pelayan itu, menurut saja. Pergi meninggalkan istrinya dan Elisa.


"Elisa, kamu udah kerja lagi?" tanya Naina.


"Sudah Nyonya. Kalau saya terus berada di rumah, saya selalu teringat mendiang suami saya." ucap wanita tersebut.


"Baiklah, kalau begitu memang lebih baik. Dan bagaimana anak-anakmu. Mereka baik?"


Naina tersenyum, "Ya, mereka anak yang kuat, karena dididik oleh ibu bijaksana sepertimu. Kamu harus sering-sering membawa mereka ke sini. Steve akan senang mendapat teman baru." ucap Naina.


"Baik Nyonya." semburat senyum muncul di wajah Elisa yang selalu datar. Merasakan perhatian Naina pada keluarga kecilnya, membuahkan semangat hidup yang tinggi. Setidaknya masih ada yang peduli pada dirinya yang bukan siapa-siapa ini.


Naina melanjutkan acara memasaknya. Semua menjadi lebih cepat, dengan bantuan Elisa.


***


Naina baru saja kembali dari sekolah Steve untuk menjemput putra sambungnya tersebut.


Wanita itu duduk di sofa ruang keluarga, sambil memegang tablet yang dia pakai sejak pagi tadi. Naina tengah mencari di internet, apa saja yang kurang untuk melengkapi persiapan pembukaan toko kue barunya.


"Mama..." panggil Steve yang baru saja selesai mengganti seragamnya. "Mama lagi lihat apa?"

__ADS_1


"Ini Mama lagi cari supplier bahan-bahan membuat kue sayang." jawabnya.


Steve mengangguk, "Ma, kapan Steve punya adik perempuan?" Steve mulai merengek, membuat Naina tersenyum.


"Steve, membuat adik bayi tidak semudah itu." Naina bingung menjelaskan hal tersebut pada anak sekecil Steve.


Steve merupakan anak yang keingintahuannya besar. Ada saja pertanyaannya yang membuat Rudi, Naina dan Reygan bingung.


"Memangnya cara buat adik gimana Ma? Steve boleh ikut buat?" kata bocah polos itu.


Naina membulatkan matanya, lalu tertawa sumbang, "Steve, kamu nggak boleh ikut."


"Kenapa Ma?"


Naina makin pusing. "Emmm kenapa ya?"


"Tanya Papa aja ya." Naina melempar pertanyaan itu pada sang suami.


Steve diam, berpikir sejenak. "Papa?"


"Hem, tanya Papa aja." kata Naina.


Setelahnya Naina bisa lega karena akhirnya Steve tidak bertanya lagi. Bocah itu mendekati telepon rumah yang tidak jauh darinya.


Naina tidak sadar, karena kini dia fokus dengan tabletnya.


Tiba-tiba suara bocah tengil itu terdengar, "Papa, kenapa Steve tidak bisa ikut membuat adik bayi?"


"Steve?" Naina membulatkan matanya, menatap tidak percaya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2