
Naina berteriak dipenuhi keterkejutan atas munculnya makhluk tak kasat mata di kamar mandi.
"Dasar mesum....!" teriaknya. Tangannya menutupi tubuh indahnya yang terpampang nyata di mata manusia es itu.
Reygan. Suaminya itu ada di sini.
"Kamu ngapain di sini?! Pergi!" teriaknya.
Tetapi pria itu tidak bergeming, dia hanya melihat Naina tanpa ekspresi. Yang mana membuat Naina melotot dengan sangat kesal.
Naina mencoba berdiri, tapi dia harus terkena sial. Ternyata lantai kamar mandi yang basah licin. Dan Naina hampir terjungkal ke bath tube yang ada di belakangnya. Tapi sebelum itu terjadi, sepasang tangan kokoh, langsung menangkapnya.
Naina berteriak kaget, tapi seketika diam saat melihat wajah tampan bak dewa Yunani berada sangat dekat dengan wajahnya.
Naina terlena, maniknya beberapa kali berkedip memandangi wajah tampan itu. Reygan sangatlah tampan dengan semua pahatan wajah sesempurna itu.
Naina sadar, dia menggelengkan kepalanya kuat. Dan ketika menyadari tubuhnya yang benar-benar telanjang tanpa ada sehelai benang pun, Naina berteriak histeris.
Dia mencari handuk yang entah kemana Elisa letakkan.
__ADS_1
"Keluar! Tidak tahu malu!" bentaknya. Naina sangat marah sekarang. "Bapak ngapain di sini? Bapak mau macam-macam sama aku?! Mana Elisa? Kenapa Bapak yang datang?" cecarnya. Wajahnya merah padam, saat malu karena seorang laki-laki melihat tubuh polosnya.
Reygan malah tidak berpengaruh apapun.
"Cepat duduk. Biarkan aku yang membantumu." ucapnya lalu hendak membuat Naina duduk.
"Apa!" bentaknya.
"Bapak gila! Mana Elisa! Dimana dia!" teriaknya. Naina benar-benar sangat malu.
Reygan menyipitkan matanya, "Elisa baru saja mendapat kabar dari tempat kerja suaminya dari Malaysia. Suaminya baru saja meninggal karena kecelakaan kerja." Reygan tidak menyaring kata-katanya. Dan itu sanggup membuat Naina yang awalnya mencak-mencak, menjadi bungkam. Tubuhnya membeku seperti batu.
"Meninggal?" lirih Naina.
Reygan mendorong Naina agar duduk di kursi. Dan anehnya Naina tidak melawan. Wanita itu masih berusaha mencerna perkataan Reygan.
Reygan langsung mengambil kesempatan, mumpung istrinya masih belum sadar. Tangan besar berurat itu mulai mengusap tubuh sang istri.
Entah sengaja, atau memang Reygan tidak sadar. Tangannya menjalar menyentuh area terlarang yang menggantung indah di tubuh mungil itu.
__ADS_1
Naina seketika sadar, matanya melotot melihat Reygan. Giginya bergemeletuk erat.
"Dasar mesum. Pergilah ke neraka!" Naina berdiri. Memukuli Reygan.
"Keluar! Keluar nggak!" mendorong Reygan sekuat tenaga sampai Reygan benar-benar keluar dari kamar mandi.
Rasa sakit di punggungnya seketika hilang. Tapi berikut setelah dia mengunci kamar mandi, Naina mengaduh kesakitan. Punggungnya nyeri lagi karena pergerakannya saat mengusir Reygan.
"Dasar mesum. Bisa-bisanya."
Naina masih sangat syok. Biarpun Reygan suaminya dan dia berhak, tetap saja dia tidak mau. Pertama kalinya tubuhnya disentuh oleh laki-laki, membuatnya benar-benar kaget dan syok. Bahkan saat ini, bekas tangan Reygan masih tertinggal di dadanya.
Sedangkan di luar kamar mandi, Reygan masih membeku sambil memandangi tangannya yang begitu lancang menyentuh aset pribadi milik sang istri. Jakunnya naik turun, menelan ludahnya hambar.
Selama di dalam sana, sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menyerang Naina. Dan itu berhasil. Tapi saat memandikan Naina, tangannya secara naluriah menyentuh ke area terlarang itu.
Dia pun terkejut. Apalagi Naina.
"Kenapa miliknya sangat besar?" lirihnya. Reygan yang memang sudah berpengalaman dalam hal ini, seketika membuat otaknya bekerja dengan cepat.
__ADS_1
"Tubuhnya sangat mungil, bagaimana mungkin dia membawa daging sebesar itu setiap hari?"
TBC