
Chris mengusap-usap rambut panjang Sesil dengan lembut. Kini Chris membiarkan Sesil duduk di tepi tempat tidur setelah beberapa saat yang lalu mendapatkan jawaban yang memuaskan dari bibir wanita itu.
Sesil masih bungkam sejak tadi, meski Chris selalu melayangkan senyum manisnya disertai janji-janji manisnya untuk masa depan mereka.
Dulu sekali, bahkan hingga beberapa menit yang lalu, Sesil masih sangat ketakutan dan merasa trauma setiap melihat Chris. Namun suara lembut pria itu, dan juga cara Chris memperlakukannya, tentunya membuat hati wanita itu tersentuh.
Sesil belum pernah merasakan sikap seseorang yang selembut Chris berikan. Rasa takut itu menghilang begitu saja, melebur entah kemana.
"Kantung matamu sangat hitam, kamu pasti jarang tidur ya?" kata pria itu sambil mengusap kantung mata milik Sesil dengan ibu jarinya.
Bibir wanita itu mengerut, mengiyakan ucapan Chris. Sejak dihukum oleh Reygan, Sesil tak lagi merasa tenang di setiap tidurnya. Setiap malam, ada saja kegelisahan yang mengganggu pikirannya, sehingga untuk terpejam pun, matanya sangat sulit.
"Lihat aku Sesil." kata Chris, karena Sesil sejak tadi menundukkan kepalanya. Tangannya mengangkat dagu Sesil agar melihatnya.
"Jangan takut untuk menatapku. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu?"
Sesil masih diam, membuat Chris menghembuskan nafasnya pelan. "Bibir ini juga, sejak aku melihatmu, aku belum pernah melihatmu tersenyum. Seperti ini, cukup lengkungkan bibirmu," Chris mencoba menyentuh bibir Sesil mencoba membuatnya tersenyum. Namun di luar dugaan, Sesil malah menjauhkan wajahnya.
Manik wanita itu terlihat waspada ketika merasa terancam akan gerakan Chris yang mencoba meraih bibirnya tiba-tiba.
Chris tertegun melihat Sesil. Jelas-jelas wanita itu refleks menjauh darinya dan Chris tahu jelas penyebab Sesil seperti ini adalah trauma berat. Ya, trauma itu belum hilang sepenuhnya meski ketakutan itu mulai sirna.
"Maaf, maafkan aku. Kamu pasti terkejut." kata Chris mencoba menenangkan wanita itu.
Suasana menjadi hening dalam beberapa waktu. Keduanya diam dan sibuk dengan pikiran masing masing.
Tok tok tok
__ADS_1
Keduanya kompak menoleh ke arah pintu setelah terdengar seseorang memanggil. Naina masuk ke dalam kamar.
"Kak, Sesil, ayo makan siang. Kalian pasti lapar kan." kata Naina.
Naina langsung menggandeng Sesil, "Ayo, aku udah masakin makan kesukaan Sesil dan Kaka juga."
"Makasih Kak." sahut Sesil. Chris mengikuti keduanya dari belakang.
Pikiran pria itu berkecamuk dipenuhi oleh Sesil. Saat ini Sesil memang sudah kembali pada keluarganya dan hidup dengan nyaman. Namun Chris bisa melihat ada yang kurang dari wanita itu.
Wanita itu kehilangan semangat hidupnya. Tidak ada senyum, maupun cinta yang terpancar dari diri wanita itu. Membuat Sesil tidak ada ubahnya bagai patung hidup yang hanya menurut saja pada semua orang.
***
Setelah selesai makan siang bersama calon istrinya, Chris akhirnya berbincang-bincang dengan Rudi. Pria itu berniat untuk menikahi Sesil secepat mungkin.
Chris masih merasa canggung, karena perasaan bersalahnya pada sosok yang dulu begitu mempercayainya. Namun Chris berusaha bersikap seperti apa dulunya mereka, karena lagi pula saat Rudi tidak lagi marah padanya.
Chris mengangkat bahunya, "Aku hanya mencoba meyakinkannya Om." katanya dengan senyum ramah.
Rudi menghela nafas, "Syukurlah. Tapi Om tidak menyangka Sesil semudah itu setuju. Sesil itu keras kepala, dan Om pikir kalian tidak akan bisa menikah dalam beberapa bulan ke depan. Om bangga sama kamu."
Chris hanya mengangguk.
"Dulu, sejak Om kenal sama kamu, Om pernah berpikir untuk mengenalkan kamu dengan Sesil. Tapi mengingat betapa nakal dan pembangkangnya anak itu, Om membuang rencana itu jauh-jauh. Karena Om yakin kamu tidak akan sanggup menghadapi sikapnya yang sangat kekanakan." tutur Rudi.
"Benarkah?" Chris tidak menyangka. Pria itu bahkan kini penasaran seperti apa dulu sifat Sesil. Apakah senakal itu sampai-sampai Rudi dan Reygan angkat tangan dalam menghadapinya?
__ADS_1
"Tapi siapa yang menyangka, kalian malah dipertemukan dengan keadaan yang begitu rumit. Dan sekarang putriku yang pembangkang sudah berubah tiga ratus enam puluh derajat. Dia menjadi pendiam dan suka mengurung diri. Om sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengannya." keluh kesah Rudi.
"Om, setelah Sesil jadi istriku, Om tidak usah cemas lagi. Aku, suaminya pasti akan menjaga dan melindungi putri Om." ucap Chris yang mana membuat Rudi terkekeh.
"Om sangat yakin itu Nak. Bahkan Om lebih tenang jika Sesil bersamamu dari pada sama Om. Om sudah melihatnya sendiri, saat kamu menjaga Naina dengan begitu baik selama di Jerman." puji pria itu.
"Jadi kapan kamu berencana menikahi Sesil?"
Chris tersenyum, "Jika persiapannya cepat, mungkin dalam dua minggu ini Om."
Rudi mengangkat alisnya, "Secepat itu?"
"Aku tidak bisa membiarkan putri kami memiliki status yang tidak jelas Om." kata pria itu penuh keyakinan.
Rudi terkekeh, "Bagus. Om setuju. Om juga sudah tidak sabar mengenalkan Stella pada semua kolega Om." sahutnya penuh semangat.
Chris mengangguk, "Tapi Om, boleh tidak Chris membawa Sesil dan Stella tinggal bersamaku selama persiapan pernikahan kami?" Chris menelisik, Rudi yang mencoba memahami ucapannya.
Rudi mengangkat alisnya, pertanda kurang setuju dengan permintaannya.
"Aku hanya ingin Sesil terbiasa dengan kehadiranku Om. Tidak ada maksud apa-apa. Dari gerak-gerik Sesil, aku bisa merasakan ketakutan Sesil padaku Om. Mungkin jika aku mencoba mendekatinya dalam dua minggu ini, semoga saja Sesil tidak terlalu syok saat pernikahan kami nanti." jelas Chris.
Mendengar penuturan Chris, memang ada benarnya juga. Lagi pula untuk apa dia khawatir, mereka akan menikah secepatnya, sidah tidak ada yang perlu dicemaskan lagi.
Rudi mengangguk setuju, "Baiklah. Om setuju."
TBC
__ADS_1