
"Hubby, mulai besok aku sudah boleh mulai buka toko?" tanya Naina setelah keduanya sampai di kamar mereka.
Reygan baru saja pulang, yang disambut oleh anak dan istrinya. Merupakan suatu momen yang baru, tetapi sanggup membuat hatinya menghangat. Pulang kerja, ada anak dan istrinya yang menunggu kepulangannya.
"Terserah kamu saja mau bukanya kapan. Dan Doni juga sudah mendapatkan pekerja untukmu. Mereka akan membantumu." jawab Reygan sambil melepaskan jam tangannya.
Naina tersenyum, kemudian meletakkan tas kerja suaminya di atas meja. "Terima kasih Hubby. Mulai besok aku akan mulai kerja." ucapnya.
Reygan hampir masuk ke kamar mandi, tapi dia teringat sesuatu.
"Tadi siang kamu bilang apa sama Steve?" pria itu bertanya membuat Naina gelagapan. Naina pikir Reygan sudah lupa. Mana mungkin, karena Reygan juga kelabakan menjawab pertanyaan frontal dari putranya.
Naina menggeleng cepat, "Enggak ada kok. Steve banyak tanya, aku nggak bisa jawab. Jadi aku suruh tanya kamu saja." elaknya.
"Memangnya Steve tanya apa?"
"Emh.. itu.." wajahnya merah padam, "Steve mau ikut buat adik bayi."
Reygan pun sama terkejutnya. Anaknya sedang masa pertumbuhan, dimana rasa keingintahuannya semakin besar.
"Udah. Kamu mandi aja, kita akan makan malam." ucap Naina.
***
Keesokan harinya, seperti rencana sebelumnya, Naina sudah mulai bekerja di toko kue miliknya. Sebagai hari pertama, tentu Naina sangat sibuk. Beruntung karyawan yang Reygan pekerjakan cukup cepat dalam bekerja, membuat Naina tidak terlalu kewalahan.
Ada lima orang karyawan yang datang hari ini. Kata Reygan, jika masih kurang Naina bisa mengatakan padanya. Tapi baginya, kelima orang ini sudah cukup.
Toko kue Naina bukan sekedar toko saja. Naina juga menyediakan meja untuk para pengunjung yang ingin menikmati kue buatannya. Dan menyediakan beraneka minuman untuk setiap pengunjung.
Reygan ternyata telah memikirkan semua dengan matang. Pria itu menemukan lokasi yang cukup strategis sehingga pada hari pertama ini, ada lumayan banyak pelanggan yang datang untuk membeli atau hanya untuk nongkrong saja.
Hari sudah menjelang sore, Naina tengah menghias kue terakhirnya untuk hari ini. "Arin, sini deh. Coba yang ini dulu. Rasanya udah pas belum?" Naina memanggil salah satu karyawannya untuk mencicipi kreasi barunya.
Naina mengambil sepotong, hendak memberikan pada orang yang sudah berdiri di sampingnya.
Naina membulatkan matanya setelah melihat siapa yang berdiri sampingnya. "Hubby?!" kejutnya.
__ADS_1
Reygan tersenyum, dengan mantap melahap potongan kue dari tangan mungilnya.
"Hubby, kamu ngapain di sini?"
Reygan mengunyah kue buatan istrinya dengan lahap. Wajahnya menunjukkan kepuasan, "Emm... enak. Rasanya pas." puji pria itu.
Membuat Naina tersenyum, "Benarkah? Ini resep baru, aku tidak yakin dengan rasanya." kata wanita itu.
"Rasanya sangat enak. Aku sangat menyukainya." puji pria itu lagi.
Naina mencicipi satu potong, dan Reygan memang benar. Sepertinya dia akan menambahkan resep baru ini di buku menu.
"Ayo pulang, hari sudah sore." ajak Reygan.
"Pulang? Tapi pengunjung masih banyak." Naina enggan pulang, karena memang tokonya masih ramai.
"Fungsi karyawanmu di sini apa? Biarkan mereka yang mengurusnya." kata pria itu.
Naina akhirnya menurut saja, "Tunggu sebentar." sambil memasukkan kue ke dalam kotak, "Steve sama Papa pasti suka."
Reygan bangga.
"Kalau aku mengirimkan kue ke kantormu boleh kan? Sesil dan teman-temanku di sana sebelumnya pasti suka." kata Naina setelah keduanya sampai di rumah.
Memang setelah beberapa kali ikut ke kantor suaminya, Naina bertemu dengan teman lamanya di sana. Sesil salah satunya. Sekarang mereka lebih sering berkomunikasi.
Reygan mengangguk, "Dan aku ingin kamu juga memberikanku kue terenak yang pernah kamu buat."
"Siap boss."
Reygan terkekeh, mengecup singkat kening Naina, "Ayo mandi bersama." ajak pria itu.
Naina tahu apa maksud Reygan. Jika dia mengikuti permintaan pria itu, maka mereka akan menghabiskan waktu sampai berjam-jam di kamar mandi sana.
"Tidak. Kamu duluan saja. Aku....aku masih harus menemui Steve." Naina menolak.
Reygan terkekeh geli, "Ok, kalau begitu siapkan dirimu malam ini." pria itu mengerling nakal membuat Naina berdecih.
__ADS_1
"Dasar mesum." umpatnya.
Setelah Reygan masuk ke kamar mandi, Naina bergegas ke ruang ganti untuk mengambil pakaian suaminya dan miliknya.
"Apa ini?" lirihnya ketika melihat sebuah kotak di atas meja kecil.
Rasa penasarannya muncul, Naina mengambil kotak itu. Membukanya dan mengeluarkan isinya. Naina mengangkat seonggok kain tipis berwarna merah terang.
"Ini apa?" melebarkannya di udara, tiba-tiba sebuah kain yang lebih kecil jatuh.
Dan lagi, ada sebuah kertas dengan tulisan, "Pakai malam ini." kertas itu berada dalam kotak.
Naina pikir ini dari Reygan, sehingga dia berani memakai kain tipis berenda yang menyala terang tersebut.
Naina membulatkan matanya begitu pakaian kurang bahan itu menempel sempurna di tubuh rampingnya. Dia bergidik, melihat tubuhnya terekspos dari balik kain tipis itu.
"Apa ini?"
Naina benar-benar tidak menyukainya, rasanya dia seperti wanita penggoda. Tidak suka dengan tampilannya, Naina hendak membukanya.
Sebelum itu terjadi, suara berat menyapa dari belakangnya.
"Naina."
Naina langsung berbalik, melihat Reygan dengan tubuh berbalut bathrobe.
"Hu..hubby?" Naina gugup. Sangat malu dengan tampilannya yang sangat tidak pantas diperlihatkan pada orang lain.
"Ini... aku... aku...." Naina bingung mau berkata apa. Dia tidak ingin Reygan menganggapnya mencoba menggoda.
"Dari mana kamu menemukannya?" entah mengapa, suara Reygan terdengar menyeramkan di telinga Naina. Pun, wajah pria itu menggelap. Persis seperti Reygan saat pertama kali bertemu dengannya.
"Aku..." Naina semakin gugup karena reaksi pria itu.
Sebelum Naina melanjutkan, Reygan berbalik dan pergi begitu saja. Meninggalkan Naina yang tengah kebingungan, sendirian.
TBC
__ADS_1