My Bule Husband

My Bule Husband
Permulaan


__ADS_3

Reygan menatap lamat-lamat, wanita yang pernah mengisi hatinya cukup lama. Wajah itu masih tetap sama cantiknya, masih seperti tujuh tahun yang lalu.


Jujur saja, jantungnya masih saja berdebar ketika melihat Natasya, sampai saat ini. Tidak dapat dipungkiri, Natasya telah mengukir banyak kenangan indah di setiap hari-harinya dan tentu tidak akan terhapus oleh ingatannya.


"Kenapa kamu kembali?" tanya Reygan.


Kini keduanya berada di sebuah balkon. Angin berhembus menerpa kulit putihnya.


"Maafkan aku." tidak menjawab, Natasya justru menundukkan kepalanya.


Reygan berdecih, melayangkan senyum sinis, "Sangat terlambat jika kamu datang hanya untuk minta maaf." suara beratnya terdengar dingin.


Natasya menarik nafasnya, wajar jika Reygan bersikap seperti ini padanya. Bahkan jika Reygan menamparnya, itu tidak akan cukup untuk menebus perbuatannya di masa lalu.


"Sekarang katakan! Apa tujuanmu datang kemari!" Reygan tidak ingin berbasa-basi. Dia tidak ingin menghabiskan waktunya bersama wanita itu.


"Jangan salah paham akan kedatanganku Rey. Aku datang hanya untuk melihat putraku." katanya dengan manik berkaca-kaca.


"Hah, putramu?" Reygan tertawa sumbang, "Putra yang mana maksudmu?"


"Rey..." Natasya memohon.


Reygan tersulut emosi, Natasya sungguh lancang malam ini. Menyebut Steve putranya, tidak ingat bagaimana dia yang tega meninggalkan Steve hanya demi laki-laki lain.


Tangan Reygan tidak segan mencekik leher Natasya, "Lancang sekali kamu!"


"Rey...." Natasya kaget.


Pria itu sangat marah.


"Sakit Rey... lepaskan...." wanita itu kesakitan membuat Reygan sadar dan melepaskan tangannya.


Amarahnya masih membendung, "Jangan sekali-kali kamu menyebut putraku, karena kamu tidak pantas! Besok, jika aku masih melihatmu di rumah ini, aku tidak akan segan-segan menendangmu dari sini!" desis pria itu sebelum pergi meninggalkan Natasya.


Pria itu melangkah cepat, bukan menuju kamarnya. Melainkan kamar yang pernah dia tempati bersama Natasya beberapa tahun silam.

__ADS_1


Benar, kamar itu adalah kamar mereka dulu. Semua dekorasi interior kamar itu, sesuai dengan keinginan Natasya. Dan sampai sekarang, kamar itu tidak berubah sedikit pun. Semuanya masih tetap sama seperti tujuh tahun yang lalu.


***


Pagi menjelang, Naina terbangun seperti biasa. Reygan masih tidur, sementara dia menyiapkan segala keperluan suaminya. Setelah itu, Naina pergi ke kamar Steve.


Naina terkejut, karena ternyata Natasya ada di kamar itu. Wanita itu memeluk Steve dalam tidurnya.


Naina tidak ingin mengganggu ibu dan anak yang baru saja bertemu itu. Naina tersenyum, dia sedikit cemburu melihat kedekatan Steve dengan Natasya, tetapi dia juga sadar. Bahwa dirinya hanyalah ibu sambung, dan tidak berhak memisahkan Steve dari ibu kandungnya.


Naina akhirnya turun ke dapur. Sudah ada Elisa dan pelayan lain sedang memasak. Naina membantu mereka.


Saat waktunya sarapan, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Kecuali Rudi. Pria itu tidak sudi melihat Natasya.


Reygan melemparkan tatapan tajamnya karena melihat Natasya masih di rumahnya. Tidakkah wanita itu mengingat peringatannya malam itu?


Tapi melihat Steve yang selalu menempel padanya, membuat Reygan mengurungkan niatnya.


Yang mengurus Steve pagi ini bukanlah Naina, melainkan Natasya. Wanita itu melakukan apa yang seharusnya Naina lakukan sebelumnya. Naina tidak protes sama sekali dan tidak berhak untuk protes.


Selesai sarapan, mereka akan bersiap berangkat.


Reygan diam, melihat Steve yang memohon padanya. Jika dia mengizinkan, maka wanita yang kini ada di sampingnya, pasti akan sedih.


Reygan melihat Naina. Naina dengan senyum manisnya berkata, "Boleh kok sayang. Tapi jangan nakal-nakal sama Mami ya." ucapnya begitu saja membuat Steve tersenyum cerah.


"Makasih Mama." Bocah itu mendekati Naina dan Reygan. Mencium kedua tangan mereka. Tidak lupa, Steve mencium pipi Naina.


"Steve berangkat Ma, Pa."


Naina mengangguk. Setelah kepergian mereka, Sesil juga ikut menyusul,.pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu nggak papa?" tanya Reygan, menatap manik sang istri dalam-dalam.


Naina mengangguk, "Natasya ibu kandung Steve, aku tidak berhak melarangnya."

__ADS_1


Reygan tersenyum, salut akan sikap Naina yang dewasa.


Setelah menghabiskan sarapannya, Naina mengantar Reygan ke depan, meninggalkan Emma yang tersenyum kecut melihat kemesraan cucunya.


"Aku akan menjemputmu di toko nanti sore." kata Reygan sambil mencium kening Naina.


"Papa...." suara Steve terdengar, membuat keduanya terkejut.


"Loh, Steve, kamu belum berangkat?" tanya Naina. Natasya juga berdiri tidak jauh di sana.


Wajah Steve cemberut, "Pak Ahmad udah pergi duluan mengantar Tante Sesil Ma. Pa, antar Steve ke sekolah, Steve udah terlambat." tutur Steve.


Reygan mengerutkan keningnya, jika dia mengantar Steve, itu artinya Natasya juga ikut bersamanya.


"Pa, bolehkan?"


Reygan melihat Naina. Naina diam, sesaat kemudian menganggukkan kepalanya. "Udah nggak papa. Papa akan mengantar kalian." ucapnya dengan senyum paksaan.


Wajah Natasya sangat tertekan, dia tidak tega melihat Naina yang menahan perasaannya. Dia juga seorang wanita. Dari penilaiannya, Naina adalah sosok yang pandai menyembunyikan perasaannya.


Langkahnya begitu berat masuk ke dalam mobil. Selangkah lagi kakinya masuk, satu luka lagi tergores di hati Naina.


Reygan mencium wajah Naina lagi, "Semua ini akan berakhir." katanya sebelum memasuki mobil.


Mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah. Sedangkan Naina memegang dadanya yang terasa sesak.


"Bagaimana? Sakit bukan?"


Tiba-tiba, suara Emma menggema di telinganya. Wanita tua itu tersenyum puas, melihat betapa menderita Naina.


"Ini masih permulaan. Dan akan semakin sakit jika kamu masih ingin bertahan." katanya tanpa perasaan.


TBC


YANG BILANG MASIH DIKIT🔪

__ADS_1


INI UDAH 900 KATA LOH


CEPAT VOTE SAMA KASIH KOPINYA, OTHOR OLENG NGANTUK NIH🌚


__ADS_2